PARA PENDAKWAH YANG TAK BISA MENEMPATKAN DIRI

Oleh: Syafiq Hasyim

Beberapa waktu yang lalu, Ustad Abdus Shomad, populer dengan sebutan UAS, mengadakan sayembara jodoh. Jodoh yang dicari adalah cantik, putih dan hafal al-Quran. Model pencarian jodoh seperti yang dilakukan oleh UAS pada dasarnya bisa dipahami dalam kacamata awam, namun problematik jika disayembarakan oleh seorang ustad yang masyhur di Indonesia seperti UAS.

Beberapa hari kemudian, ada seorang pendakwah mualaf bernama Yahya Waloni yang merasa bangga ketika dia menabrak anjing. Dia mengaku jika dia menabrak anjing secara sengaja, karena anjing itu binatang najis. Jika kambing yang melintas dia masih bisa menghindar, namun karena anjing, maka dia dengan sengaja menabraknya.

Seolah-olah menabrak anjing sama dengan ibadah. Seperti ibadah membuang najis dari badan kita. Masih banyak lagi contoh-contoh tindakan para pendakwah kita yang lebih menyulut kontroversi daripada dakwah itu sendiri. Jika ungkapan dan perilaku yang berkembang terus terjadi, maka dunia dakwah kita akan terasa berat menjadi sarana untuk mencerahkan masyarakat kita.

Kali ini saya ingin menyoroti masalah konsistensi para pendakwah. Kesesuaian antara apa yang mereka pahami dari ajaran Islam dan apa yang mereka lakukan dalam konteks kehidupan keseharian, serta bagaimana itu menimbulkan persepsi dan reaksi publik. Kasus sayembara jodoh UAS dan Yahya Waloni yang menabrak anjing secara sengaja adalah contoh saja.

Dalam pandangan masyarakat umum, perilaku dan ucapan di luar dakwah itu sama dengan perilaku dan ucapan di dalam kerangka dakwah. Karenanya, jika pendakwah misalnya UAS menyelenggarakan sayembara jodoh untuk urusan pribadinya, namun karena UAS adalah sosok pendakwah tersohor, sosok publik, maka sayembara itu dianggap sebagai dakwah pula.

Demikian juga dengan Yahya Waloni, masyarakat bisa punya pemahaman jika urusan dia menabrak anjing dengan alasan anjing itu najis, maka itu bisa bisa dianggap sebagai urusan dakwah Yahya Waloni, bukan urusan keseharian dan perilaku dia.

Kita memang tidak bisa menyalahkan anggapan masyarakat bahwa seseorang yang memiliki jalan sebagai pendakwah harus benar-benar menjaga konsistensi. Bagi kebanyakan masyarakat biasa, pendakwah itu harus selalu sesuai pada ucapan dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

Konsistensi ini juga untuk menjaga kredibilitas dakwah yang mereka sampaikan. Pandangan seperti ini berkembang karena tradisi yang sudah berkembang lama di lingkungan kita umat Islam, bahwa pengetahuan tanpa tindakan maka itu laksana pohon tanpa buah, al-ilmu bila amalin ka al-syajari bila tsamratin.

Makna dari ungkapan ini adalah pengetahuan keagamaan yang kita punya harus terefleksi dalam tindakan nyata kita sehari-hari. Sudah barang tentu, ini tuntutan bagi kita semua, namun muballigh atau pendakwah sebagai penyampai ujaran-ujaran keagamaan yang bertujuan agar diikuti oleh umat. Karenanya, ketika UAS menyatakan di publik tentang sayembara jodoh dan juga Yahya Waloni tentang perilaku dia menabrak anjing, respon masyarakat ramai, bahkan membully mereka berdua.

Sekali lagi, jika kita memilih menjadi muballigh atau pendakwah sebagai jalan pengabdian kepada agama, maka kita harus tahan dengan kecaman masyarakat juga.

Terlepas dari UAS dan Yahya Waloni, dunia dakwah kita memang seringkali lebih menimbulkan percik masalah di dalam masyarakat daripada percik solusi yang mencerahkan, menggembirakan dan juga menyatukan. Para pendakwah banyak yang terbebani dengan soal-soal identitas politik antar-kelompok, madhab, dlsb.

Tidak jarang pendakwah kita malah menjadi hakim agama dan umat lain, umat yang berbeda agama dan keyakinan. Secara internal di dalam masyarakat Islam, dakwah demikian menyebabkan polarisasi, karena misalnya adanya pengadilan dan pengkafiran (takfir) pada mereka yang memiliki perbedaan pengetahuan dan madhab.

Sementara secara eksternal, pendakwah kita sering offside juga, menyerang keyakinan dan keagamaan pihak lain dengan tanpa beban. Pihak lain ini adalah mereka yang berbeda agama dan keyakinan. Dakwah model seperti ini tidak bisa diteruskan, karena akan menyebabkan permusuhan antar-pemeluk agama. Jika sesama antar-umat beragama berantem satu-sama lainnya maka itu akan menganggu kehidupan kebangsaan kita.

Jika hal demikian yang terjadi, maka agama yang diharapkan menjadi faktor positif bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, menjadi faktor negatif di tangan para pendakwah yang menonjolkan politik identitas.

Kembali lagi ke masalah UAS dan Yahya Waloni. Mencari jodoh adalah hak setiap orang, namun jika kualitas yang ditampilkan itu menunjukkan desire atau nafsu kita yang gamblang tentang tubuh, seperti menggunakan istilah putih di ruang publik, maka itu bisa menimbulkan masalah sampingan. Mungkin sebagai manusia biasa, keinginan UAS untuk mendapatkan jodoh yang cantik, putih dan hafal al-Quran adalah hal yang sangat wajar, namun UAS sebagai pendakwah bisa dipahami secara berbeda oleh obyek dakwahnya, oleh masyarakat umum.

Demikian juga dengan Yahya Waloni, bagaimana dia mengekspresikan ketidaksukaannya pada anjing di publik. Bukankah anjing itu makhluk Allah yang juga berhak mendapatkan kasih sayang dari sesama makhluk lainnya. Ajaran Islam sangat gamblang untuk kita menganjurkan menyayangi binatang.

Ekspresi Yahya Waloni juga menunjukkan ketidakpahamannya pada ajaran Islam soal kedudukan anjing. Di dalam tradisi Syafiiyyah anjing memang najis, namun najis bukan berarti anjing itu patut dianiaya. Bahkan menurut sebagian pendapat jika penajisan anjing itu muncul di era setelah pembentukan madzhab. Imam-imam besar madzhab lainnya masih menganggap jika anjing itu tidak najis.

Belajar dari contoh UAS dan Yahya Waloni, problem pendakwah kita memang kompleks. Ada problem yang sifatnya etis, tidak salah dari segi agama, namun kurang elok, seperti sayembara jodoh yang menonjolkan kecantikan fisikal yang ideal, bukan kecantikan akhlak.

Ada problem yang berkaitan dengan lemahnya pemahaman, seperti kasus Yahya Waloni. Bagaimana menjadi pendakwah, jika dia menyampaikan sesuatu yang menurutnya benar, namun tidak benar di dalam agama.

Saya kira kita harus menafsirkan ungkapan Rasulullah, “Sampaikan dari saya (Muhammad) walaupun satu ayat”, dengan tafsir bahwa di dalam berdakwah sampaikan saja pengetahuan yang memang benar, meskipun itu hanya satu ayat.

Sebagai catatan, masalah kita kini adalah konsistensi para pendakwah, hal yang sangat penting untuk kita ingat. Pemenuhan sikap konsistensi sebagai pendakwah itu tidak hanya menaikkan kredibilitas, namun juga profesionalitas pendakwah itu sendiri.

Komentar