DR. TERAWAN, HEBAT DOK… KAMI TUNGGU VAKSIN NUSANTARA

Oleh: Denny Siregar

Sejak awal kemunculannya di publik, nama dr. Terawan penuh dengan kontroversi. Cara pengobatannya yang tidak lazim membuat banyak dokter terutama dari Ikatan Dokter Indonesia atau IDI itu meradang. Mereka menganggap cara pengobatan cuci otak dr. Terawan, bertentangan dengan kaidah-kaidah kedokteran yang mereka kenal. Meski harus diakui juga kalau pengobatan ala dr. Terawan punya jejak prestasi kesembuhan dan biaya operasinya jauh lebih murah daripada harus berobat ke dokter biasa. Apa yang dilakukan dr. Terawan pun diakui banyak tokoh yang sudah berobat ke sana.

Dan menariknya, gaya dr. Terawan yang nyeleneh itu ternyata menarik perhatian Jokowi. Jokowi langsung menarik dr. Terawan, dengan tugas membongkar mafia di dunia kesehatan, mulai mafia farmasi, mafia kedokteran, sampai mafia rumah sakit. dr. Terawan setuju dan presentasi ke Jokowi strategi-strategi dia dalam menghadapi mafia. Dan seperti sudah diduga, posisi dr. Terawan menjadi Menteri Kesehatan akhirnya jadi kontroversi lagi. Dia mendapat tentangan lagi dari Ikatan Dokter Indonesia.

Tetapi sialnya, baru saja menjabat, Covid pun datang. Seluruh negara di dunia kelabakan, termasuk Indonesia. Nggak ada yang siap menghadapi wabah Covid yang gila-gilaan datangnya.

Salah satu peninggalan dr. Terawan saat beliau menjadi Menteri Kesehatan, yang kemudian disetujui Jokowi adalah, jangan lockdown. Itulah warisan terbesar dr. Terawan, yang melihat Covid ini bukan hanya dari sisi kesehatannya saja, tetapi juga dari seluruh aspek sosial dan ekonomi. Salah satu pendapat dr. Terawan yang diamini Jokowi adalah, “Kalau kita lockdown, maka seluruh rumah sakit akan diserbu oleh pasien dan kita akan menghadapi ledakan luar biasa pasien yang nanti akan berpengaruh besar terhadap sosial dan ekonomi di Indonesia. Lebih banyak orang sakit daripada orang sehat kalau itu terjadi.”

Meski ditentang banyak orang, Jokowi pun menjalankan nasihat dr. Terawan. Indonesia tidak lockdown. Pro dan kontra berlangsung, tapi kita harus mengakui dengan jujur ya, kita masih bisa bertahan sekarang ini karena Indonesia tidak lockdown. Kalau lockdown, entah apa yang terjadi pada negeri yang sedang berusaha untuk bangkit ini.

Tetapi ada satu kelemahan dr. Terawan yang akhirnya terlihat dalam menghadapi pandemi ini, yaitu kemampuan manajerial dan administrasinya yang buruk. dr. Terawan adalah seniman dalam dunia kesehatan, dan ciri khas seniman, dia kurang mampu berada dalam rantai organisasi, apalagi sebesar Kementerian Kesehatan. Dan sejak pandemi ini, administrasi di bidang kesehatan hancur lebur, dan terjadi masalah di mana-mana. Itulah mungkin yang membuat Jokowi mengganti dr. Terawan dengan Budi Gunadi Sadikin, yang malah nggak punya rekam jejak sebagai dokter sama sekali.

Jokowi lebih butuh seorang manajer, seorang administrator daripada seorang dokter dalam menghadapi masalah pandemi ini. Budi Sadikin yang biasa mengatur perusahaan-perusahaan BUMN termasuk Bank Mandiri, punya kriteria yang cocok untuk mengawal Kementerian Kesehatan dalam masalah menghadapi pandemi ini. Dan itulah yang terjadi. Beda perang, beda komandannya. Seandainya tidak ada pandemi, tentu Terawan juga tidak akan diganti.

Dan dr. Terawan pun maklum dengan situasi itu. Dia mundur dan kembali ke dunia lamanya, yaitu dunia kedokteran. Tapi ternyata dr. Terawan juga berpikir keras bagaimana dia bisa berkontribusi kepada negara dalam situasi pandemi ini?

Mengejutkan, lama hilang dari peredaran, dr. Terawan tiba-tiba muncul mengenalkan proyek barunya, yaitu vaksin Nusantara. Bekerjasama dengan Rama Pharma, dan AIVITA Biomedical asal Amerika, juga Universitas Diponegoro, dan RS Karyadi Semarang, vaksin Nusantara dr. Terawan sedang menghadapi uji klinis tahap kedua.

Sederhananya begini, vaksin nusantara ini punya metode berbasis sel dendritik. Sel dendritik ini ada di dalam sel darah putih. Sel ini diambil dari tubuh pasien, kemudian dikenalkan dengan virus Corona supaya saling kenal, kemudian disuntikkan lagi ke tubuh pasien untuk membangun autoimun. Tubuh diharapkan bisa membentuk sistem pertahanan terhadap virus Corona yang sudah mereka kenali.

Dan tambah menarik lagi, harga vaksin Nusantara ini diklaim bisa lebih murah per dosisnya daripada vaksin Sinovac apalagi Pfizer. Vaksin Pfizer dihargai Rp275 ribu per dosis, vaksin Sinovac seharga Rp200 ribuan per dosis. Mau tahu berapa harga vaksin Nusantara per dosisnya? Rp140 ribu. Lebih murah kan?

Dan, seperti kutukan, usaha dr. Terawan ini kembali jadi kontroversi dan dapat tentangan dari Ikatan Dokter Indonesia. Mereka mempertanyakan data uji klinis yang mereka bilang tidak transparan.

Di luar itu semua, saya melihat dr. Terawan jauh berbeda dengan beberapa mantan menteri dan pejabat BUMN yang sekarang sudah di luar lingkaran. Sebagai contoh Said Didu, yang sekarang lebih sibuk nyinyir daripada memberikan solusi. Ada juga mantan menteri Susi Pudjiastuti, yang sibuk bicara buzzer daripada memberikan sumbangsih, dan yang lebih lucu Refly Harun, yang sekarang produktif bikin video di Youtube sampai 6 kali sehari, dengan tema remeh-temeh yang sangat jauh dari gelar kedoktorannya.

dr. Terawan tidak. Dia tetap pada basic ilmunya, seorang dokter, seorang ilmuwan. Dan dia meski sudah tidak ada lagi dalam lingkaran pemerintahan, tetap berusaha menyumbangkan ilmunya dalam menghadapi wabah Corona. Karena wabah ini menurutnya, harus dihadapi bersama-sama oleh semua orang, bukan cuma dinyinyiri saja tanpa ada usaha.

dr. Terawan menunjukkan kelasnya sebagai manusia yang berguna. Bahwa bekerja itu bisa di mana saja, tidak harus ada di kursi jabatan. Dan yang penting dari semua itu adalah karya. Jabatan bisa hilang secepat mungkin, tetapi hasil karya akan abadi selamanya.

Untuk itu, biarkan saya mengangkat secangkir kopi tanda rasa hormat untuk Letnan Jenderal (Purn.) Dr. dr. Terawan Agus Putranto. Hormat, Jenderal.

Komentar