YAHYA WALONI, PENCERAMAH PSIKOPAT!

Oleh: Eko Kuntadhi

 

Pendakwah Yahya Waloni kembali bikin ulah. Dalam ceramahnya yang diunggah Hadist TV, ia jelas-jelas menceritakan perilaku biadabnya di hadapan para pendengarnya. Menurut kisahnya, ia sengaja menabrak seekor anjing dalam perjalanan ke Riau.

Saya membayangkan sesosok lelaki seram seperti Yahya Waloni lagi menyetir mobil. Lalu ada anjing menyeberang atau dia di pinggir jalan.

Lelaki itu mengindak pedal gasnya, mobil bergerak sedikit beringas. Menyasar seekor anjing yang sama sekali tidak menganggunya.

Bodi mobil membentur keras badan anjing tersebut, entah kepala, entah bagian tubuh mana yang terkena hantaman. Rodanya menggilas anjing naas itu. Lalu terdengar bunyi krak! Sebilah tulang patah.

Lelaki di balik kemudi tertawa senang mendengar ada makhluk yang tergilas di bawah mobilnya. Sebentar ia menengok ke belakang, melihat seekor anjing yang susah-payah bangkit di tengah jalan.

Tulang-belulangnya remuk. Rasa perih sekujur tubuhnya, membuat anjing itu kesulitan untuk sekadar berdiri.

Mungkin anjing itu mencoba bangkit sehabis merasakan gilasan roda mobil. Menyeret tubuhnya ke pinggir jalan. Merasakan perih yang menusuk dirinya.

Kita tidak tahu dengan tubuh yang remuk itu apakah anjing tersebut bisa melanjutkan hidupnya?

Si penabrak, seorang yang katanya pendakwah, bergembira melihat penderitaan seekor anjing. Ia kini memamerkan perilaku kejinya di hadapan jemaah pendengarnya. Pesannya jelas, jadilah umat seperti saya, seperti orang psikopat. Yang bisa tertawa senang melihat seekor makhluk ciptaan Allah menderita akibat ulahnya.

Saya ingat kata-kata yang memuakkan dalam ceramah Yahya Waloni itu, “Sengaja kutabrak anjing itu sampai pincang kakinya!” katanya bangga.

Saat saya mendengar ceramah itu, hanya ada satu kata yang bisa saya ucapkan, “Dasar Anjing!”

Sekali lagi apa yang didapatkan umat dari orang sejenis Yahwa Waloni kayak gini. Yang dengan bangga menceritakan kebiadabannya sendiri di hadapan pendengarnya.

Yahya Waloni adalah pendakwah yang mengaku seorang mualaf, mulanya ia beragama Kristen, katanya. Ia mengaku pernah mendalami agama lamanya sangat intens. Tapi lantas meninggalkannya.

Hampir semua ceramah Yahya Waloni kerap mengungkapkan kebenciannya pada agama lamanya. Bahkan, kalau mau ditelaah, modalnya sebagai penceramah ya cuma itu-itu saja. Rasa benci pada agama Kristen, rasa benci pada orang yang berbeda.

Saya tentu maklum, orang seperti Waloni tidak punya waktu untuk belajar tentang Islam sebagaimana napas aslinya. Dia baru saja jadi mualaf, sudah langsung dapat panggung dakwah. Akibatnya, yang diketahui tentang Islam adalah kebencian pada agama lain saja. Dan itulah yang menjadi bahan jualan ceramahnya ke mana-mana.

Para pendakwah sebetulnya adalah etalase sebuah agama. Kita bisa melihat agama Katolik dari para pastor dan suster misalnya. Kita juga bisa menilai agama Buddha dari para biksu dan biksuninya.

Nah, pertanyaannya, apakah umat Islam mau agamanya dinilai dari sosok orang seperti Yahya Waloni ini, yang senang menyakiti anjing? Yang senang menyakiti umat lain? Apakah kita mau agama yang rahmatan lil ‘alamin ini digambarkan oleh sosok dan perilaku seorang Yahya Waloni yang psikopat?
Karena gak ada kata lain selain psikopat, karena dia senang melihat penderitaan makhluk lainnya. Saya sih ogah!

Kepada orang per orang Yahya Waloni juga kasar. Kepada Megawati misalnya, dia mendoakan cepat mati. Bukan hanya Megawati, Tuan Guru Bajang atau TGB, malah diplesetin menjadi Tuan Guru Bajingan. Ini kan kurang ajar.

Padahal TGB adalah ulama yang real. Ulama asli yang mengenyam pendidikan agama Islam secara serius. Dalam soal ilmu agama, membandingkan Waloni dan TGB, itu sama seperti kita membandingkan langit sama comberan. Jauh banget.

Para mualaf, orang-orang yang baru saja masuk Islam, sekarang berlomba-lomba menjadi pendakwah. Selain Yahya Waloni, kita kenal Irene Handono. Perempuan ini mengaku bekas biarawati dan kini sering tampil di panggung dakwah. Isinya apalagi kalau bukan mengulas kebencian pada gereja.

Padahal Irene hanya sempat sekolah sebentar di sekolah Katolik. Gak sempat jadi suster. Tapi dia teriak-teriak sempat jadi biarawati. Tapi semakin dramatis kisahnya, semakin banyak orang yang mau mendengarkan Irene Handono. Kisah-kisah dramatis pindah agama ini yang terus-menerus dieksploitasi oleh orang seperti Irene dan Yahya Waloni.

Kalau Felix Siauw lain lagi. Mungkin dari banyak penceramah mualaf, Felix inilah yang paling rajin membaca. Wajar. Pendidikannya lumayan. Ia lulusan IPB. Mungkin saat mahasiswa di IPB, ia berkenalan dengan pentolan-pentolan HTI. Yang kita tahu bermula dari sana.

Kini Felix menjadi pemuja Khilafah paling vokal. Felix bukan hanya membenci agama lamanya, tapi ia juga membenci Indonesia sebagai sebuah negara. Kita ingat tweet Felix yang fenomenal itu, kata Felix, “Membela negara gak ada dalilnya. Sementara membela agama, jelas dalilnya!”

Felix ingin membenturkan negara dan agama. Seolah sesuatu yang bertentangan, ini logika khas kelompok khilafah. Kita tahu pasti Felix gak belajar dari ulama-ulama NU, para penggagas Nahdlatul Ulama di Indonesia yang sudah merumuskan dengan indah, “Hubbul wathon minal iman,” mencintai negara bagian dari iman.

Atau Felix pasti tidak belajar dari para pastor Katolik, yang punya slogan, ‘100% Indonesia, 100% Katolik’. Atau doktrin Hindu Bali, yang menjadikan Hindu sangat Indonesia. Bukan Hindu seperti yang di India.

Felix terus-menerus berusaha membenturkan keindonesiaan dan keislaman. Padahal apa yang dibahas Felix itu sudah selesai sejak zaman kemerdekaan dulu. Sudah dibahas dan kita semua sudah sepakat sebagai sebuah negara bangsa.

Sebenarnya kenapa sih, penceramah-penceramah mualaf ini laku keras di Indonesia? Ini karena rendah diri umat Islam juga. Umat gak percaya diri dengan keyakinannya sendiri. Sehingga ia perlu kisah-kisah dramatis para mualaf yang pindah agama. Seolah-olah kisah itu bisa dijadikan pembuktian kebenaran Islam.

Karena rasa rendah diri umat inilah, akhirnya orang seperti Yahya Waloni dikasih karpet merah untuk menjadi pendakwah.

Akibatnya apa? Umat Islam diracuni, bagaimana cara menggilas anjing dengan bengis. Astaghfirullah hal adzim…

Jika orang seperti Waloni atau Irene Handono ini, dengan omongan kotor dan kebengisan sifatnya masih terus diberi panggung dakwah. Yang ada, bukannya memperindah nilai agama, malah justru memalukan agama Islam sendiri.

Bagaimana mungkin agama yang dikenal berkasih sayang, agama yang menebarkan kasih ini punya pendakwah beringas dan psikopat seperti Waloni.

Kita tentu ingat sebuah kisah klasik. Ketika Tuhan memaafkan seorang pelacur, hanya karena ia dengan tulus memberi minum seekor anjing yang kehausan. Sebab perempuan itu menjadi kepanjangtanganan Tuhan, memberi rezeki dan kasih sayang pada makhluk lainnya.

Sementara kisah dari Waloni yang menggilas anjing dengan sengaja, pelajaran apa yang bisa kita petik dari sana?

Terus apakah kita masih mau merusak agama kita dengan menyanjung orang seperti Waloni ini?

Semakin orang seperti Waloni dikasih panggung dalam agama, semakin umat Islam mencoreng agamanya sendiri.

Saya pernah mengusulkan orang-orang kayak Waloni, kayak Irene Handono ini kalau bisa dikembalikan deh ke agama lamanya. Kalau bisa tukar-tambah. Tapi ya pasti mereka gak mau, mana mau agama mereka dicoreng sama orang yang perilakunya seperti ini. Barang yang reject ya gak bisa dikembalikan, begitu alasannya.

Komentar