SEMBILAN MILIAR UNTUK MUSEUM SBY, PEMERINTAH JANGAN PELIT!

Oleh: Eko Kuntadhi

 

(tulisan ini berisi sarkasme khas Eko Kuntadhi–editor)

Kabupaten Pacitan memiliki dua proyek besar yang sedang dibicarakan publik sekarang. Baru saja kemarin, Presiden Jokowi meresmikan bendungan yang diberi nama Bendungan Tukul. Saya gak tahu asal kata “Tukul” ini dari mana? Apakah nama pelawak kita ataukah nama daerahnya? Bendungan ini satu di antara 65 bendungan di seluruh Indonesia yang dibangun pada masa pemerintahan Pak Jokowi.

Dari jumlah 65 itu, 16 bendungan merupakan lanjutan dari pekerjaan yang belum selesai di zaman Presiden sebelumnya.

Dengan bendungan Tukul, Kabupaten Pacitan bisa menikmati hasilnya. Para petani tidak lagi bergantung curah hujan. Bendungan ini juga sekaligus sebagai pembangkit listrik. Sementara sebagai lokasi wisata, kayaknya bendungan ini mampu mendorong geliat perekonomian masyarakat sekitar.

Proyek kedua yang heboh di Pacitan adalah museum SBY-Ani. Iya, kita tahu Pacitan memang kota kelahiran Presiden RI ke-6 itu. Wajar saja jika kota ini dipilih sebagai museum SBY-ANI.

Saya tidak tahu apa yang akan ditampilkan di museum itu nanti. Di bayangan saya, mungkin semacam kilas perjalanan seorang SBY dari masa kecil, saat ia berkarir di militer sampai menjadi Presiden RI.

Mungkin juga ada sedikit kisah penggalan saat SBY menjelang menjelang maju sebagai Capres. Misalnya, referensinya diambil dari cerita Marzuki Ali, yang dulu mantan petinggi Partai Demokrat. Dalam kisah itu, ini tuturannya Marzuki Ali, SBY pernah berkata. “Megawati kecolongan dua kali…”

Saya menduga ini berkenaan dengan manuver SBY kepada Megawati saat itu. Waktu itu SBY memang duduk sebagai Menkopolhukam. Ia mundur dari jabatannya, lalu menjadi penantang Megawati di Pilpres 2004.

Saya rasa bukan hanya kisah mengenai SBY yang ada atau diceritakan di museum itu. Karena ada nama Bu Ani dalam museum itu, mungkin juga nanti terdapat kilasan perjalanan asmara, kisah-kasih rumah tangga, dan pergulatan seorang ibu negara.

Tapi saya yakin di museum itu tidak akan ada sejenis diorama candi Hambalang yang tidak kunjung selesai sampai sekarang. Tidak akan ada juga monitor besar yang ketika diklik oleh pengunjung, keluar tuh iklan Partai Demokrat yang fenomenal, “Katakan tidak pada korupsi!” Saya rasa itu gak ada di museum itu.

Kita tahu bintang-bintang yang tampil di iklan tersebut. Ada Anas Urbaningrum, ada Andi Malaranggeng, ada Angelina Sondakh, ada juga Ibas Yudhoyono.

Mungkin saja di museum itu nanti, tersedia semacam ruang khusus dengan speaker-speaker berkualitas dolby stereo. Gunanya agar pengunjung bisa memutar koleksi lagu-lagu ciptaan Pak SBY. Sebab memang masyarakat agak susah mau cari lagu ini di mana sekarang. Wong gak ada yang tahu juga. Dan gak ada yang hafal juga.

Dari mana dana pembangunan museum itu? Pastinya saya gak tahu. Tapi kabarnya Pemprov Jatim memberikan dana hibah untuk Yayasan Ani-SBY ini sebesar Rp9 miliar. Bentuknya bantuan keuangan khusus. Dari Pemprov Jatim duit itu diserahkan ke pemerintah Kabupaten Pacitan.

Menurut Ketua Badan Pemenangan Pemilu Partai Demokrat, Andi Arief, pihak SBY tidak pernah meminta dana tersebut. Tapi pemerintah daerahlah yang menawar-nawarkan dana tersebut kepada yayasan SBY-ANI. Memang agak luar biasa keterangan Andi Arief ini. Lo bayangin, gak minta aja bisa sampai Rp9 miliar. Apalagi kalau minta?

Lagi pula kata Bendahara Partai Demokrat, Renville Antonio, dana ini bentuknya murni bantuan. Dana bantuan sangat wajar dan diperbolehkan dalam mekanisme keuangan pemerintah.

Kita tentu sangat setuju dengan pernyataan Antonio ini. Pemerintah memang harus membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Mereka ini tidak harus meminta-minta kepada pemerintah, seperti dikatakan Andi Arief. Tapi pemerintahlah yang harus peka. Indera keenam pemerintah harus diangkat tinggi-tinggi agar kepekaannya terasah.

Jangan sampai ada orang susah minta bantuan harus mengemis-ngemis, jangan sampai ada orang membutuhkan bantuan harus dibebani dengan syarat ini-itu, bikin proposal, sekadar untuk mencairkan duit Rp9 miliar doang.

Di sinilah pemerintah harus peka. Jika yayasan SBY-Ani menolak bantuan itu, pemerintah harus memaksa. Jangan biarkan mereka berdiri sendiri. Harus dibantu. Pemerintah harus memaksa agar mereka mau menerima bantuan keuangan.
Ingat. Pemerintah gak boleh pelit.

Masa untuk membangun bendungan pemerintah bisa mengeluarkan uang Rp916 miliar. Sementara untuk sebuah museum yang sangat penting ini, pemerintah membantu Rp9 miliar saja gak mau. Di mana keadilannya?

Kita sebagai rakyat harus menyadari bahwa kewajiban negara untuk membantu pihak yang memerlukan bantuan.

Itulah makna keadilan sosial.

Jadi ketika pemerintah Pacitan mengalokasikan dana sembilan miliar untuk membangun Museum SBY-ANI dan kita bisa menikmati diorama yang indah tentang Partai Demokrat, tentang kebesaran seorang SBY, itu wajar harus dibantu oleh pemerintah. Jangan cuma bangun bendungan, jangan cuma bangun jalan, jangan cuma bangun fasilitas infrastruktur. Ini juga penting.

Komentar