KALAU JOKOWI ADA MAU, DIA TERUS MAJU…

Oleh: Denny Siregar

 

Sejak awal memimpin, Jokowi sebenarnya sudah geram dengan kalahnya Indonesia di mana-mana, terutama dari negara tetangga. Kita cuma menang di luas pulau sama banyaknya penduduk doang. Kalau masalah jumlah penduduk, bolehlah kita nomor empat sesudah Cina, India, dan Amerika. Tapi soal prestasi dan ketahanan ekonomi? Anjlok, Mak.

Dari masalah pangan saja, kita sudah kalah.

Bayangkan, negara yang disebut oleh band Koes Plus sebagai “tanah surga di mana tongkat dan batu menjadi tanaman” untuk beras saja masih impor dari Vietnam dan Thailand, negara yang luas wilayah dan jumlah penduduknya jauh lebih kecil dari kita. Itu belum lagi impor kedelai, impor bawang putih, dan hampir semua bahan pangan kita impor.

Kenapa sebabnya? Ada banyak faktor, tapi faktor yang paling utama adalah mental korup dari pejabat-pejabat kita sebelumnya. Mental korup ini yang membuat kita terjebak impor karena dari impor itu ada komisi yang bisa dibagi-bagi. Pejabat-pejabat kita dulu mentalnya memang mental makelar, bukan mental ingin membangun peradaban. Dan dari impor bahan pangan inilah terbentuk kartel, atau jaringan importir bahan pangan. Mereka menyuap pejabat supaya terus impor bahan pangan. Mereka juga menakut-nakuti pemerintah supaya tidak membangun pertahanan pangan, supaya tetap impor, dan mereka mendapatkan komisi terus-menerus.

Kartel bahan pangan ini sudah jadi mafia, dan bisa mengguncang negara. Kalau misalnya Presidennya bikin kebijakan untuk mulai membangun ekonomi, kartel mafia ini kemudian menimbun beras misalnya, supaya harga beraspun naik gila-gilaan. Bayangkan kalau masyarakat tidak mampu beli beras, yang pasti akan terjadi demo besar-besaran dan negara juga akan kolaps. Itulah kenapa negara dulu tidak berdaya ketika mafia kartel ini menguasai sendi-sendi ekonomi bahan pokok kita.

Mau tahu bisnis impor itu keuntungannya berapa? Untuk bawang putih saja, bawang putih saja lho ya, keuntungan mafia pangan ini setahun mencapai lebih dari Rp13 triliun. Dahsyat, kan? Jadi paham ya, kenapa di awal pemerintahannya Jokowi banyak diguncang demo dengan memanfaatkan ormas seperti FPI untuk membuat kerusuhan.

Dan untuk membasmi para kartel ini juga nggak mudah, nggak bisa dengan tiba-tiba kita stop impor pangan begitu saja. Bisa hancur negara kita. Dan yang paling penting adalah stabilisasi pasar, kalau pas minus atau butuh buat cadangan saja, kita baru akan impor.

Yang paling penting dari itu semua selain pupuk, bibit, dan lainnya adalah irigasi atau pengairan.

Petani Indonesia selama ini bergantung pada cuaca. Kalau cuaca bagus, mereka panen. Kalau kemarau panjang, mereka menyerah. Jadi panennya nggak jelas, dan di situlah harga biasanya naik turun seenaknya. Bukan, bukan petaninya yang untung, tetapi bandarnya.

Karena itulah, mirip seperti main game Sim City, Jokowi mulai memetakan konsep pertahanan pangan. Buat Jokowi ini perang, karena kalau kita bergantung pada impor, maka negara kita selamanya akan diatur oleh negara lain, bahkan yang lebih kecil dari kita. Masalah perut ini bisa jadi pemberontakan besar-besaran.

Dan salah satu benteng pangan itu adalah membangun bendungan besar. Dengan bendungan besar itu, petani bisa mengatur masa panennya dengan teratur. Selama kita bisa memprediksi masa panen, maka kita bisa mengatur konsumsi masyarakat dan kalau ada lebih, bisa kita ekspor.

Jokowi juga bukan tipikal pemimpin yang suka berandai-andai. Dia kerja. Dia adalah konseptor sekaligus eksekutor yang baik. Dalam waktu 6 tahun saja, dia sudah membangun 65 bendungan besar di seluruh Indonesia. 65 bendungan dalam waktu 6 tahun. Gila memang.

Untuk Nusa Tenggara Timur saja, wilayah yang biasanya sibuk dengan kekeringan karena masalah kemarau, Jokowi membangun 7 bendungan raksasa. Nggak main-main memang dia. 65 buah itu baru bendungan raksasa, untuk yang masalah penampungan air yang lebih kecil, namanya Embung, dia sudah membangun puluhan ribu di seluruh Indonesia.

Yang terbaru itu kemarin, ketika Jokowi meresmikan bendungan raksasa di Pacitan yang dia namakan bendungan Tukul. Nilai proyeknya saja hampir Rp1 triliun. Bendungan raksasa itu diperlukan untuk mengairi 600 hektar sawah di Pacitan, daerah kering di mana masyarakatnya selalu diberitakan kekurangan air. Bahkan untuk air minum saja di sana, beberapa desa di Pacitan masih bergantung pada sumbangan dari badan penanggulangan bencana dan para relawan. Miris ya, negera tropis yang kaya ini, masyrakatnya masih ada yang kekurangan air?

Tapi apakah prestasi Jokowi ini mendapat simpati dari oposisi? Oh, tentu tidak saudara-saudara.

Oposisi terus-menerus mencoba menjatuhkan nama Jokowi dengan berita-berita buruk dan remeh-temeh, seperti masalah buzzer. Berita buruk harus terus-menerus disampaikan oleh para oposisi, dengan harapan nama Jokowi akan buruk juga di mata masyarakat. Tujuannya nanti, di tahun 2024, Jokowi tidak menjadi kompas buat para pemilih untuk memilih calon pengganti. Bayangkan, ketika Jokowi dikenal karena prestasi, maka pengaruh Jokowi akan sangat kuat sehingga ketika dia mempromosikan seseorang, orang itu bisa jadi terpilih sebagai Presiden yang akan meneruskan tongkat estafet pembangunan yang sudah dimulai oleh Jokowi.

Ada sebagian elit politik dan mafia yang tidak ingin Indonesia ini maju secara ekonomi. Karena jika masyarakat sejahtera, maka pendidikan mereka akan bagus. Dan kalau pendidikan bagus, masyarakat kita juga tidak gampang dibodohi. Kalau masyarakat tidak gampang dibodohi, maka habislah peluang para elit politik busuk dan mafia ini berkuasa. Mereka selama ini memanfaatkan ormas seperti FPI untuk mewadahi orang-orang bodoh dan miskin, supaya mencari solusi hidup selalu lewat agama, bukan lewat kerja keras dan kerja cerdas.

Apa yang dilakukan Jokowi memang bukan buat kita sekarang ini, tetapi buat generasi masa depan, anak cucu kita, supaya mereka bisa bersaing di dunia global.

Komentar