YANG TAK BISA DIKATAKAN TENTANG PENYEBAB WAFATNYA MAAHER

Oleh: Ade Armando

 

Dalam hidup, kadang kebenaran tidak selalu bisa diungkapkan. Contohnya saja jawaban atas pertanyaan: Apa penyebab wafatnya Ustaz Maaher At-Thuwailibi alias Soni Ernata?

Maaher meninggal di tahanan polisi, Senin lalu. Dia ditahan Desember 2020 karena dituduh menghina Habib Muhammad Luthfi bin Yahya. Dan setelah berkasnya diserahkan ke Kejaksaan, tiba-tiba saja dia wafat.

Segera setelah polisi secara resmi mengumumkan bahwa Maaher meninggal karena sakit keras, serangan pun datang bertubi. Berkembang fitnah bahwa Maaher meninggal karena disiksa polisi.

Salah satu tweet paling awal viral itu berbunyi: “Ustaz Maher Thuwailibi, meninggal dunia di Rutan Mabes Polri beberapa menit lalu. Semoga husnul khotimah.

Dan semoga mendapatkan pahala syahid akhirat, karena setengah disiksa, sakit kulit parah, dan buang air sudah pakai pampers. Sudah dibawa ke RS Polri Kramat Jati.

Belum sembuh dikirim lagi ke Rutan Mabes.” Tweet ini juga disebarkan Tengku Zulkarnain alias Tengku Zul. Dalam delapan jam pertama, dia membuat tiga tweet tentang wafatnya Maaher.

Salah satunya adalah dia meretweet cuitan yang menuduh bahwa Maaher meninggal karena disiksa tadi. Yang kedua adalah sebuah tweet netral di mana ia berharap Habib Luthfi mau memaafkan kesalahan Maaher.

Dan satu lagi, yang bernada menyerang. Tulis dia: “Kalau Pembunuh mati di penjara wajar. Koruptor Triliunan, Pemerkosa, Penghina Agama, Pedofilia, dan Teroris mati di penjara wajar.”

“Tapi kalau menghina orang, sampai mati dipenjara, rasanya memprihatinkan. Sesama Muslim bukankah bisa ishlah? Semoga ke depan keadaan makin membaik.”

Meski tidak langsung, Zul nampaknya membangun frame bahwa Maaher meninggal bukan karena penyakitnya. Yang juga mengangkat kasus wafatnya Maaher dengan nada sinis dan bahkan mengancam adalah penyidik KPK, Novel Baswedan.

Dia menulis begini: “Ustaz Maaher meninggal di Rutan Polri. Padahal kasusnya penghinaan, ditahan, lalu sakit. Orang sakit, kenapa dipaksakan ditahan? Aparat jangan keterlaluanlah. Apalagi dengan ustaz. Ini bukan sepele lho ..”

Jadi Novel menuduh bahwa polisi keterlaluan karena menahan Maaher yang berada dalam kondisi sakit. Dan Novel seperti mengancam bahwa perlakukan polisi terhadap Maaher bukan soal sepele.

Dengan kata lain dia hendak mengatakan bahwa apa yang dilakukan polisi bisa memicu masalah lebih jauh. Serangan ini memang bisa diduga akan menyebar.

Maklumlah, Maaher selama ini dikenal sebagai seorang ustaz yang lazim menyuarakan kebenciannya terutama terhadap pemerintah Jokowi dan pihak-pihak yang dianggapnya mendukung Jokowi.

Pada 2018, ketika ada kerusuhan di Mako Brimob, Maaher menyebut polisi sebagai gerombolan monyet berseragam bencong, sementara para tahanan adalah ‘para pahlawan’. Dia menyebut Jokowi sebagai presiden planga-plongo yang perlu diganti.

Ketika Nikita Mirzani menyindir Rizieq Shihab tatkala sang imam baru saja pulang, Maaher langsung menghina Nikita sebagai ‘babi betina, lonte oplosan penjual selangkangan’.

Maaher benci sekali dengan PSI yang memang adalah partai loyalis Jokowi. Dia pernah bernyanyi dengan lirik: “Tsamara mati, Grace Natalie mati, Raja Juli mati, Abu janda bangsat, PSI laknat.”

Jadi, Maaher memang berposisi sebagai pembenci Jokowi. Bahkan ketika polisi menahan Maaher, banyak beredar tuduhan bahwa itu dilakukan atas instruksi Jokowi dengan memanfaatkan kasus Habib Luthfi.

Jadi, benarkah Maaher meninggal karena tindakan penganiayaan? Keluarga Maaher sendiri sudah membantah dugaan itu. Adik Maaher menyebut kakaknya itu memiliki riwayat penyakit akut, yaitu tuberkulosis usus.

Menurut sang adik, sebelum ditahan polisi, Maaher memang sempat sakit parah, dioperasi, dan kemudian harus menjalani rawat jalan dan mengkonsumsi obat secara rutin. Kematiannya di tempat tahanan terkait dengan penyakit lamanya itu.

Kronologi versi adik Maher itu sejalan dengan penjelasan Polisi, kecuali dalam hal penyakit yang dideritanya. Polisi membantah tuduhan Novel bahwa Maaher ditahan dalam kondisi sakit. Menurut polisi, kondisi Maaher baru memburuk setelah ditahan beberapa lama di rutan. Polisi sempat membawa Maaher ke rumah sakit Kramat Jati dan dirawat di sana selama 7 hari.

Setelah kembali ke Rutan, kondisinya memburuk lagi sehingga, Maaher sempat hendak dibawa ke rumah sakit POLRI. Ide itu awalnya ditolak Maaher yang memilih untuk tetap bertahan di rutan. Sehingga ketika akhirnya dia dibawa ke RS POLRI, kondisinya sudah tak tertolong. Tapi penjelasan polisi ini tetap tidak menjelaskan apa penyakit yang diderita Maaher.

Adik Maaher menyebut TBC usus. Itu tidak disebut polisi yang nampak sangat berhati-hati menjelaskan kematian Maaher.

Kepala Divi Humas Mabes Polri Irjen Pol Argo Yuwono melalui konferensi pers khusus mengatakan bahwa penyakit yang diderita oleh Maaher tidak bisa diungkapkan lantaran khawatir akan mencoreng nama baik pihak keluarganya.

“Saya tidak bisa menyampaikan sakitnya apa,” kata Argo.

“Karena bisa berkaitan dengan nama baik keluarga almarhum.”

Argo pun menunjukkan bukti surat berisi rekam medis Maaher saat menjalani perawatan. Tapi tentang penyebab kematian, Argo tetap tidak mengungkapkannya.

“Yang terpenting,” katanya, “Bahwa dari keterangan dokter dan dari perawatan-perawatan yang ada, penyakit saudara Soni Eranata ini adalah penyakit sensitif yang bisa membuat nama baik keluarga juga bisa tercoreng kalau kami sebutkan di sini”. Pada titik inilah, saya ingin mengatakan, kadang tidak semua kebenaran bisa diungkapkan.

Dengan mendengar penjelasan polisi itu, saya rasa Anda sudah punya dugaan tertentu. Dan iya, memang itu penyebabnya. Memang itu. Penyakit itu. Bukan Covid, tapi penyakit yang sangat membahayakan yang belum ditemukan obatnya. Masalahnya, tidak selalu kebenaran mudah diungkapkan.

Bukan karena kita ingin menutup-nutupi sebuah kejahatan. Tapi bisa jadi karena alasan kelayakan atau kepantasan. Bisa jadi karena alasan bahwa kalau kebenaran itu terungkap, akan ada orang tak bersalah tersakiti. Dan bisa juga karena mengungkapkan kebenaran adalah sesuatu yang melanggar etika dan bahkan hukum.

Polisi sudah bersikap sangat bijaksana. Keputusan polisi sudah sangat sejalan dengan etika melindungi kerahasiaan pasien.

Paraturan Menteri Kesehatan tahun 2008 menyatakan bahwa rekam medis pasien bukanlah sesuatu yang bisa dengan mudah saja disampaikan pada pihak di luar pasien dan keluarganya.

Isi rekam media adalah milik pasien. Bila diperlukan, dokter boleh membuka isi rekam medis kepada pihak ketiga, seperti asuransi, pengadilan, dan kepolisian. Tapi polisi sendiri tidak bisa begitu saja menyebarkan informasi rekam medis itu.

Kalaupun dapat dibuka pada keadaan tertentu, pihak yang membutuhkan informasi harus senantiasa menghormati privasi pasien.

Memang kewajiban menyimpan rahasia kedokteran ini tidak berlaku secara mutlak. Dalam KUHP kita kenal adanya istilah ‘daya paksa’.

Dalam hal ini, rahasia pasien memang bisa dipaksa dibuka untuk melindungi kepentingan umum dan kepentingan orang yang tidak bersalah. Tapi nampaknya polisi Indonesia masih belum merasa perlu untuk membeberkan rahasia Maaher itu.

Polisi nampaknya baru akan bicara kalau pada akhirnya fitnah menyebar sehingga mungkin sudah sampai tahap yang membahayakan kepentingan umum. Tapi untuk sementara, marilah kita gunakan akal sehat kita dulu. Kita tahu sama tahu saja, apa penyebab wafatnya Maaher.

Kita mungkin saja membenci Maaher, tapi biar bagaimanapun kerahasiaan dia dan keluarganya tetap harus dilindungi.

Komentar