YANG RASIS ITU YAHYA WALONI DAN ABDUL SOMAD, BUKAN ABU JANDA!

Oleh: Ade Armando

Anda tahu dong Permadi Arya, yang lebih dikenal sebagai Abu Janda, dilaporkan KNPI pada 28 dan 29 Januari atas dasar tuduhan menyebarkan kebencian dan permusuhan berbasis SARA dan menodai agama.

Dalam kasus pertama, Permadi dianggap rasis karena menyerang aktivis Natalius Pigai, dengan sindiran: “Evolusimu belum selesai.”

Dalam kasus kedua, Permadi dianggap menodai agama karena menulis di Twitternya: “Islam agama arogan.”

Buat saya, tindakan KNPI ini menggelikan.

Kalau memang KNPI peduli dengan persatuan bangsa, saya sarankan KNPI melaporkan orang semacam ustaz Yahya Waloni atau ustaz Abdul Somad.

Yahya itu jelas-jelas menghina Kristen dengan mengatakan: “Kesamaan Katolik dan Protestan adalah sama-sama pro-setan.”

Atau Abdul Somad yang mengatakan: “Di dalam salib Kristen itu ada jin kafir.”

Untuk kedua kasus itu, bagaimana mungkin ada interpretasi selain bahwa mereka menghina Kristen? Tapi KNPI bungkam sejuta bahasa dengan penghinaan-penghinaan yang jelas memecah belah bangsa ini.

Sementara Permadi, jelaslah dia tidak menghina SARA dan tidak menghina Islam. Kalimat-kalimat Permadi tidak bisa diphami sebagai kalimat yang mengandung makna tunggal.

Kalimat-kalimat Permadi disajikan dalam rangkaian argumen yang lebih lengkap yang memiliki konteks tertentu.

Begini, kalau kita hendak menilai pernyataan orang, kita harus selalu kaitkan pernyataan itu dengan konteks kalimat, konteks kejadian, apa yang kita anggap sedang dituju oleh orang itu, dan juga rekam jejak orang itu.

Pernyataan atau kata tidak pernah berdiri sendiri. Dalam bahasa, ada makna tersirat dan ada makna tersurat. Kalau pakai istilah keren, ada makna denotatif dan konotatif. Mereka yang belajar Islam, tentu sangat paham ini.

Misalnya saja, di dalam Alquran, ada surat Al-Anfal ayat 22 yang berbunyi: “Sesungguhnya mahluk bergerak yang bernyawa yang paling buruk dalam pandangan Allah ialah mereka yang tuli dan bisu.”

Kemudian dalam At Taubah ayat 97 ada kalimat berbunyi: “Orang-orang Arab itu sangat besar kekafiran dan kemunafikannya.”

Kalau Anda percaya itu adalah kalimat Allah, apakah itu berarti Allah menganggap orang yang tuli dan bisu sebagai mahluk buruk?

Apakah Allah mengatakan semua orang Arab itu kafir dan munafik. Jawabannya ya jelas tidak.

Kata ‘tuli’ dan ‘bisu’ dan ‘Arab’ di sana harus dibaca dalam konteks. Cara itu pula yang harus kita lakukan untuk menilai pernyataan Permadi. Yang pertama, soal ucapannya kepada Natalius Pigai, mantan Komisioner Komnas HAM itu.

Dalam kasus Pigai, Permadi dianggap rasis karena tweetnya yang berbunyi: “Kau @NataliusPigai2 apa kapasitas kau? Sudah selesai evolusi belom kau?”

Tweet itu dituduh ditujukan pada ras Papua, bukan hanya pada Pigai. Saya akan bantah tuduhan itu. Agar adil, kita pelajari konteksnya.

Pertama, Pigai sama sekali tak dapat dianggap mewakili semua orang Papua. Pigai memang datang dari Papua, sebagaimana saya memang dosen UI misalnya. Kalau ada orang memaki saya: “Dosen zaman sekarang cuma jadi buzzer kacung Jokowi!”

Apakah itu berarti semua atau bahkan mayoritas dosen UI adalah buzzer kacung Jokowi? Tentu saja tidak.

Saya bukan buzzer kacung Jokowi, apalagi dosen-dosen lainnya. Dengan kata lain, serangan Permadi tidak usah dikaitkan dengan ras Papua secara umum. Yang bahaya justru yang mengaitkan-ngaitkan serangan individu ke arah Pigai dengan masyarakat Papua secara keseluruhan, seperti yang dilakukan KNPI.

Mempertanyakan evolusi Pigai sama saja dengan mempertanyakan apakah Pigai ‘punya otak’? Yang tak punya otak, dalam konteks ini, adalah Pigai bukan orang Papua.

Kedua, Pigai dijadikan sasaran tembak Permadi karena Pigai memang adalah tokoh yang selama ini dapat dinilai terus mengancam NKRI. Pigai misalnya pernah menulis tweet bahwa di era Jokowi, rasisme diproduksi secara masif.

Bahwa saat ini tidak ada satupun menteri dari Papua, menurut Pigai, menunjukkan bahwa pemerintah rasis. Pigai berulangkali menuduh pemerintah Jokowi terus menindas dan membantai bangsa Papua.

Pigai juga menyatakan pemerintah Jokowi menekan komunitas Islam, menghina ulama, menganiaya umat Islam.

Bahkan ketika ada kelompok Islam yang mendorong umat Islam mengucapkan “Selamat Natal” kepada umat Kristen, Pigai dengan sinis mengatakan: “Kami tidak butuh ucapan Selamat Natal.”

Sikap Pigai yang penuh kebencian ini sama sekali tidak mewakili masyarakat Papua. Karena itu, serangan terhadap Pigai juga sama sekali tak dapat dikaitkan dengan serangan terhadap Papua.

Ketiga, tweet Permadi ini terkait dengan serangan Pigai terhadap mantan kepala BIN dan mantan direktur BAIS, Hendropriyono. Pada 31 Desember, Hendropriyono menyatakan rasa syukurnya dengan pelarangan FPI.

Di tweetnya dia menyatakan: “Tanggal 30 Desember 2020, masyarakat dan bangsa Indonesia merasa lega karena mendapat hadiah berupa kebebasan dari rasa takut yang mencekam selama ini.”

Tulisnya pula: “Organisasi pelindung ex FPI dan para provokator tunggu giliran.”

Tweet ini yang rupanya membuat marah Pigai. Keesokan harinya, dia menulis tweet menyerang Hendropriyono.

Dia menulis: “Kapasitas Bapak di Negeri ini sebagai apa ya, Penasehat Presiden, Pengamat? Aktivis? Biarkan diurus generasi Abad ke 21 yang egaliter, humanis, demokrat. Kami tidak butuh hadirnya dedengkot tua.”

Hendropriyono membalas serangan Pigai dengan nada santun tapi pedas dalam tweet panjang. Dalam respons itu, Hendropriyono menyatakan dia dulu sempat mengagumi Pigai sebagai orang muda yang patriotik dan cerdas.

Hendro juga mengungkapkan cerita bahwa ketika Pigai masih menjadi komisioner Komnas HAM, Pigai pernah menawarkan jasa untuk membela Hendro dalam kasus tuduhan pelanggaran HAM di masa lalu.

Hendro bilang, tawaran Pigai itu dia tidak tanggapi, karena sudah selesai secara hukum. Tapi sekarang, kata Hendro, Pigai sudah berubah.

Kata Hendro, “Selain patriotismemu dan kepandaianmu, moralmu juga sangat merosot.”

“Sopan santun dan akal budimu lenyap, karena ditelan kekecewaan sebagai penganggur yang tak terakomodasi di tempat yang kamu inginkan,” begitu tulis Hendro.

Saya tak paham tempat apa yang sebetulnya didambakan Pigai. Tapi Hendro jelas ingin menunjukkan, kemarahan Pigai itu tidak murni karena alasan ideologi dan idealisme, namun juga kepentingan kekuasaan.

Percakapan Pigai dan Hendro inilah yang kemudian dikomentari Permadi. Sebagai sesama pecinta NKRI, Permadi merasa perlu membela Hendro untuk melawan Pigai yang membela FPI dan memecah belah bangsa.

Dalam tweetnya, Permadi memaparkan beragam posisi pemerintahan yang pernah diduduki Hendro. Setelah itu, baru dia mengatakan kalimat yang kemudian diributkan itu: “Kau Natalius Pigai apa kapasitas kau? Sudah selesai evolusi belum kau?”

Apakah dengan begitu, Permadi rasis?

Saya yakin tidak. Permadi melawan Pigai yang justru selama ini memprovokasi kemarahan atas dasar ras. Nah, sekarang yang kedua, soal Islam arogan. Konteksnya adalah Permadi merespons apa yang ditulis Tengku Zulkarnain di tweetnya.

Tengku Zul menulis begini:

“Dulu minoritas arogan terhadap mayoritas di Afrika Selatan selama ratusan tahun, apartheid. Akhirnya tumbang juga. Di mana-mana negara normal tidak boleh mayoritas arogan terhadap minoritas. Apalagi jika yang arogan minoritas. Ngeri melihat betapa kini ulama dan Islam dihina di NKRI,” itu kata Zul.

Siapa yang dimaksud mayoritas dan minrotas dalam tweet Zul ini? Hampir pasti Zul menyamakan mayoritas kulit hitam di Afrika Selatan dengan umat Islam (atau Islam).

Sementara yang disamakan dengan minoritas kulit putih mungkin sekali adalah umat Kristen. Jadi Zul berusaha membangun narasi bahwa Kristen menindas Islam. Inilah yang dikritik Permadi.

Begini bunyi tweet Permadi:

“Yang arogan di Indonesia itu adalah Islam sebagai agama pendatang dari Arab kepada budaya asli kearifan lokal. Haram-haramkan sedekah ritual laut sampai kebaya diharamkan dengan alasan aurat,”

Permadi melanjutkan begini:

“Ritual tradisi asli dibubarin alasan syirik, pakai kebaya dibilang murtad, wayang kulit diharamin dan masih banyak lagi upaya penggerusan pemusnahan budaya lokal dengan alasan syariat. Kurang bukti apalagi Islam memang arogan terhadap kearifan lokal?”

Permadi jelas tidak menyebut Islam dalam konteks sebagai ajaran yang diturunkan Allah dan dibawa Nabi Muhammad. Yang dia kecam di situ adalah kelakuan orang-orang yang membawa nama Islam untuk menghancurkan semua yang datang dari budaya lokal.

Ini seperti ketika Alquran menyebut kata ‘orang tuli, ‘orang bisu’, dan ‘orang Arab’ tadi. Ini seperti ketika Gus Dur mengatakan Alquran adalah kitab porno karena di dalamnya ada kata-kata menyusui dan payudara.

Kata-kata harus dipahami dalam konteks.

Selama bertahun-tahun, Permadi sudah memiliki rekam jejak yang jelas membela Islam yang sehat, melawan fanatisme, melawan keterbelakangan, melawan kadrun, melawan penyesatan.

Mungkinkah dia menghina Islam? Tidak mungkin!

Karena itu, yuk kita bela Permadi, alias Abu janda.

Komentar