KOALISI LBH PERS, DEWAN PERS, DAN VERONICA KOMAN VS KOMPAS TV?

Oleh: Ade Armando

Masalah korupsi di kita nggak habis-habis beritanya. Baru selesai kasus Jiwasraya, muncul kasus Menteri Perikanan, datang lagi kasus Menteri Sosial. Dan yang terbaru adalah kasus korupsi di ASABRI, atau Asuransi Sosial Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

Model kasus ASABRI ini mirip dengan kasus korupsi di Jiwasraya. Sebelum ke kasus korupsinya, kita harus tahu dulu sejarah terbentuknya ASABRI.

ASABRI dibentuk di zaman Soeharto, tahun 1971 lalu. Niatnya untuk memberikan santunan dan uang pensiun kepada keluarga prajurit, juga memberikan kredit perumahan. Menurut Peraturan Pemerintah pada waktu itu, para peserta atau semua anggota TNI, wajib membayar iuran dari gajinya untuk masuk di ASABRI. Jadi kebayang kan, ada ratusan ribu anggota TNI dan Polri yang membayar iuran setiap bulan dan itu dikelola oleh ASABRI.

Berapa total nilai aset yang dikelola oleh ASABRI sekarang ini?

Menurut Dahnil Simanjuntak, juru bicara Kementerian Pertahanan, total nilai aset yang dikelola oleh ASABRI sebesar Rp35 triliun. Dan itu berasal dari uang iuran TNI dan Polri, termasuk PNS di Kementerian Pertahanan. Setiap bulan, para peserta dipotong gajinya untuk uang pensiun dan tunjangan hari tua.

Nah, di bulan Januari tahun 2020 lalu, Mahfud MD pernah men-tweet ada potensi korupsi di ASABRI, sebesar Rp10 triliun. Tweet itu ramai dan banyak yang menyalahkan Mahfud MD karena seperti membongkar borok di dalam tubuh TNI. Kenapa? Karena rata-rata yang memimpin ASABRI adalah dari TNI sendiri.

Ternyata apa yang dikhawatirkan Mahfud MD menjadi kenyataan. Tapi korupsinya nggak Rp10 triliun, malah bengkak jadi Rp23 triliun. Gede banget, woi.

Bagaimana sih cara mereka korupsi di ASABRI? Mirip sih dengan kasus di Jiwasraya, mereka korupsi pakai mainan saham. Saya coba jelaskan di sini dengan sederhana ya.

Dana ASABRI kan gede, puluhan triliun rupiah. Dana itu harus diinvestasikan untuk mendapatkan keuntungan. Karena para Direksi nggak paham-paham banget cara main saham, maka mereka panggil orang untuk mainkan dana ASABRI. Siapa orang yang dipanggil oleh para Direksi itu? Kalian pasti kaget, ya Benny Tjokro dan kawan-kawan, yang terlibat kasus korupsi di Jiwasraya. Die lagi, die lagi.

Sama Benny Tjokro, tentu atas sepengetahuan para Direksi, dana ASABRI yang puluhan triliun rupiah itu dibelikan beberapa saham. Nah, di sinilah curangnya. Saham yang dibeli pakai dana ASABRI senilai puluhan triliun rupiah itu, sudah dimanipulasi dulu nilainya. Harganya ditinggikan dulu oleh mereka. Jadi, yang dibeli oleh ASABRI bukan nilai sebenarnya, tetapi nilai saham yang sudah dinaikkan.

Pada waktu saham itu dijual kembali, harganya sudah pasti jatuh. ASABRI rugi karena nilai beli mereka lebih tinggi dari nilai jual. Dan menariknya lagi, saat nilai sahamnya jatuh, sama ASABRI lewat Benny Tjokro dan kawan-kawannya, dibeli lagi. Dengan pertimbangan, nanti harga sahamnya naik tinggi, akan dijual lagi dengan keuntungan besar untuk kembalikan kerugian ASABRI di awal-awal.

Goreng-menggoreng saham ini sudah berlangsung sejak 2012. Yang terjadi, bukannya untung malah ASABRI rugi terus. Siapa yang untung? Ya, Benny Tjokro dan kawan-kawannya lah, termasuk para Direksi ASABRI yang ikut mereka. Mereka dapat keuntungan dari selisih jual beli saham, kipas-kipas dapat duit dari modal uang pensiunan.

Dan enaknya lagi, mereka bilang kalau kerugian itu adalah hal yang biasa, namanya main saham kadang untung kadang rugi. Cuma yang ini, ruginya kebanyakan.

Begitulah model tipu-menipu, goreng-menggoreng dana pensiun TNI dan Polri dengan nilai yang fantastis puluhan triliun rupiah. Negara pun dirugikan, dan praktik seperti ini berlangsung terus sampai akhirnya mereka ketahuan. Kejaksaan Agung juga sudah menetapkan 8 tersangka kasus mega korupsi ASABRI ini, dan dari 8 orang itu, 2 orang berpangkat Jenderal Purnawirawan, yang menjabat sebagai Direksi ASABRI. Mereka kaya raya dari uang para anggota TNI dan Polri yang mereka mainkan, sedangkan para anggota yang wajib setor iuran sedang berjuang untuk sekedar mendapatkan kredit perumahan buat keluarga mereka. Jahanam, kan?

Korupsi di ASABRI ini juga bukan pertama kali. Tahun 2007, ada ribut-ribut masalah korupsi di ASABRI. Waktu itu, ASABRI meminjamkan uang Rp410 miliar kepada pengusaha yang juga rekan bisnis mereka, namanya Henry Leo. Tapi ternyata uang itu malah diinvestasikan ke tempat lain. Dan kasus ini berakhir dengan dipenjaranya Henry Leo dan Direksi ASABRI.

Untungnya, sebelum timbul keributan akibat keresahan dari para anggota TNI dan Polri, pemerintah sudah menetapkan kalau uang iuran mereka aman dan tidak hilang. Dalam artian, semua uang pensiun di ASABRI dijamin oleh pemerintah. Ini langkah yang bagus dari pemerintah, termasuk Kemenhan dan BUMN untuk memberikan jaminan terhadap nasabah mereka yang juga abdi negara.

Sudah seharusnya pemerintah menjamin masa depan para abdi negara seperti anggota TNI dan Polri. Mereka sudah mempertaruhkan nyawa mereka dengan gaji yang sebenarnya tidak seberapa dan berharap kelak ketika mereka sudah pensiun, masa tua mereka dijamin oleh negara dan bisa punya rumah tinggal sederhana untuk menghabiskan sisa usia mereka.

Sesederhana itu sebenarnya impian para anggota TNI dan Polri. Tidak perlu muluk-muluk ingin kaya raya, seperti Benny Tjokro dan kawan-kawan, dengan nilai aset mereka yang triliunan rupiah dan tersebar di berbagai negara, tetapi tuanya mendekam di penjara.

Komentar