KASIHAN ANIES, TAHUN 2022 DIA HABIS

Oleh: Denny Siregar

Membicarakan Anies Baswedan memang nggak ada habisnya. Selalu saja ada kelucuan-kelucuan yang diberikan beliau ini di dalam setiap kebijakan-kebijakannya. Kita sebagai warganet seperti nggak kehabisan bahan untuk bicarakan apa saja yang dia lakukan. Dengan humor tentunya, karena kalau serius, pastilah kita kesal.

Sejak masuk dunia politik, Anies Baswedan adalah orang yang sangat ambisius untuk jadi orang nomor 1 di negara ini. Kemunculan Anies saya deteksi waktu ia dengan pedenya ikut konvensi Partai Demokrat di tahun 2014. Anies yang waktu itu menjabat Rektor Paramadina, memang kurang dikenal namanya. Ia tenggelam di nama-nama besar tokoh publik yang lainnya.

Dan dia gagal. Ya iyalah, mana mungkin menang Konvensi, wong Partai Demokrat itu partai keluarga. 😄

Yang bisa jadi capres di Demokrat itu, urutan pertama adalah bapak, kemudian anak, kemudian adik, baru mantu masuk urutan keempat, ipar, dan terus ke bawah harus ada ikatan keluarganya. Anies siapa? Kalau Demokrat mau konvensi capres kan itu hanya bagian dari pencitraannya saja. Anies yang jago pencitraan, harus mengakui kalau dalam hal ini, dia nggak ada apa-apanya dibandingkan Keluarga Cikeas.

Akhirnya Anies ngikut jadi bagian timses Jokowi, kemudian dipercaya jadi Menteri Pendidikan meski seumur jagung karena konon dia nggak bisa kerja, dan akhirnya menjadi Gubernur Jakarta dengan dukungan penuh politik identitas yang merobek-robek kerukunan bangsa.

Panggung Jakarta memang panggung megah dalam skala politik nasional. Apapun yang terjadi di Jakarta, beritanya selalu identik dengan apa yang terjadi secara nasional. Jokowi dulu sebelum menjadi presiden, dia juga menaiki tangga sebagai gubernur Jakarta dulu. Dari sana namanya kemudian dikenal luas sebagai salah satu tokoh nasional.

Dan ini yang juga sedang diikuti oleh Anies Baswedan. Tepatnya bukan Anies sih menurut saya, karena dia hanya pion saja. Ada orang-orang besar di atasnya yang memainkan Anies, karena dia penurut dan tidak keras kepala seperti Jokowi. Yang penting buat Anies, jadi Plesiden, udah cukup gitu aja. Yang lain-lainnya nggak penting buat dia.

Nah, kesempatan Anies menjadi Plesiden ini lagi terganjal UU yang sekarang. Nama UUnya UU Pemilu serentak. Sejarahnya UU Pemilu serentak ini dimulai ketika Effendi Gazali dari Universitas Indonesia dan Koalisi Masyarakat Untuk Pemilu Serentak, menggugat UU Nomor 42 tahun 2008 ke Mahkamah Konstitusi. Gugatan mereka dikabulkan dan terbitlah Keputusan MK untuk menetapkan UU Pemilu serentak. Alasan MK, pemisahan penyelenggaraan Pilpres dan Pemilihan Legislatif adalah inkonstitusional. Dan Pemilu serentak dianggap lebih efisien. Dan tahun 2016, kemudian lahirlah yang namanya UU Pemilu serentak.

UU Pemilu serentak baru bisa terlaksana di Pemilu 2024 nanti, karena yang repot adalah mengatur kembali manajemen di dalam pelaksanaan Pemilu. Jadi bisa dibilang, tahun 2024 nanti adalah pertama kalinya UU Pemilu serentak diadakan. Catat ya, pertama kali.

Nah, yang masalah adalah ada beberapa partai yang tiba-tiba ingin merevisi UU Pemilu serentak, yang bahkan belum dicoba untuk diselenggarakan. Beberapa partai itu ingin merevisi UU Pemilu serentak. Ini yang bikin aneh, lha belum dicoba kok sudah direvisi? Gimana ini?

Ada indikasi bahwa beberapa bohir ingin menaikkan Anies Baswedan ke pentas Pilpres di tahun 2024. Masalahnya, jabatan Anies Baswedan sebagai Gubernur DKi habis di tahun 2022. Selama 2 tahun sebelum tahun 2024, maka jabatan Gubernur DKI dan banyak jabatan kepala daerah lainnya kosong dan diisi oleh pelaksana tugas dari Kementerian Dalam Negeri.

Inilah yang menjadi sumber permasalahan, karena ada yang ingin memaksa UU Pemilu serentak tahun 2024 tidak jadi terlaksana, karena ingin mengangkat seseorang yang diunggulkan. Aneh juga ya? Dan yang lucunya, mereka yang memaksa itu, kemudian menyebarkan narasi, bahwa partai yang tetap ingin melaksanakan Pemilu serentak di tahun 2024, karena ingin menjegal Anies Baswedan. Mereka yang sibuk sendiri, yang pengen ubah UU sendiri, ribut-ribut sendiri, yang disalahkan orang lain.

Tetapi karena desakan itu datangnya dari DPR RI, yang menyusun UU, maka penyelesaian juga harus datang dari DPR. Istilahnya harus ada keputusan berdasarkan suara terbanyak. Catat ya, ada 575 anggota DPR di Senayan, mereka akan ambil suara. Kalau yang terbanyak suaranya adalah mereka yang setuju UU Pemilu serentak 2024 batal dan kembali ada Pemilu di 2022, maka Anies Baswedan aman untuk bertarung kembali menjadi calon Gubernur DKI dan langkahnya kemudian mulus untuk ikut Pilpres 2024, seperti yang pernah dilakukan oleh Jokowi.

Tetapi sayang disayang, mimpi Anies harus melayang. Beberapa partai besar seperti PDI Perjuangan, Gerindra, dan Golkar menolak revisi UU Pemilu serentak. Mereka bertiga saja, sudah cukup suara untuk membatalkan keinginan sebagian dari partai yang ingin revisi. Itu masih belum ditambah dari PAN, PKB, dan PPP yang juga ikut menolak.

Jadi, siapasih yang ngotot supaya Pemilu kembali ke tahun 2022? Ternyata Nasdem, Demokrat, dan sebuah partai yang tidak asing namanya di dunia persilatan, yaitu PKS.

Oh ternyata mereka yang pengen angkat-angkat Anies Baswedan. Ya sutralah… Cuma karena mereka partai-partai yang kecil kursinya, jadi ya nggak cukup untuk memaksakan kehendaknya supaya Pemilu 2022 harus terlaksana.

Anies pasti kuciwa berat. Nanti 2022 dia harus turun panggung dan nganggur 2 tahun, dan pasti namanya bakalan hilang. Sedangkan salah satu lawan terkuatnya yang disiapkan oleh PDI Perjuangan untuk bertarung di Pilgub DKI 2024, yaitu Bu Risma, masih punya panggung sebagai Menteri Sosial. Ambyar, kan?

Yah, harusnya Anies bisa ikhlas lah kalau nggak terpilih lagi nanti. Minimal selama dia menjabat, kita tahu potensi dirinya, yaitu jago mewarnai. Mungkin Anies bisa bikin taman bermain untuk anak-anak PAUD untuk mengisi waktu luangnya, sehingga hasrat mewarnai dia jadi tersalurkan. Ya nggak jadi Presiden Republik Indonesia, tapi kan bisa jadi Presiden warna-warna. Yang penting tetap ada gelar presidennya.

Oke Bro Anies, jangan kecewa ya. Tetap putus asa, jangan pernah semangat.

Komentar