DINAR-DIRHAM MODUS PENIPUAN UMAT

Oleh: Eko Kuntadhi

Zaim Saidi ditangkap polisi. Dia adalah orang yang sejak lama gencar mengkampanyekan penggunaan mata uang dinar dan dirham sebagai alat transaksi. Kita tahu, beberapa waktu belakangan ini bertumbuhan pasar muamalah namanya, transaksinya menggunakan dinar dan dirham.

Zaim dianggap sebagai inisiator pasar aneh tersebut. Di pasar ini kabarnya, logam dinar dan dirham yang digunakan untuk bertransaksi ada tulisannya, ‘Amir Zaim Saidi’. Artinya, amir itu adalah sebutan untuk pemimpin agama.

Entahlah apakah posisi Zaim ini mau ditingkatkan derajatnya sederajat dengan Taqiyudin sebagai amir Hizbut Tahrir. Dan apa juga motivasinya dengan menuliskan namanya sendiri, dengan label ‘Amir’ itu pada keping logam dinar dan dirham.

Di Depok kemarin, pasar ini kabarnya sudah berdiri sejak 2014. Tapi ya, segitu-gitu aja. Gak berkembang-berkembang. Kita sih, maklum juga kenapa pasar itu berkembang di Depok, Depok adalah ibukota PKS. Kalau anda ke Depok, anda bisa beli oleh-oleh khas Depok, yaitu gantungan kunci logo PKS.

Di depan pasar ini ada loket penukaran uang. Jadi kalau kita mau ke sana, rupiah kita ditukar dengan logam dinar dan dirham. Lalu mereka belanja di pasar. Trus siapa sih yang diuntungin? Yang diuntungin adalah yang punya bisnis tukar-menukar itu. Karena logam dinar dan dirhamnya ada nama Zaim Saidi, mungkin juga dia yang diuntungkan. Wong dia yang menerbitkan mata uangnya.

Tentu saja di Indonesia, ada aturan bahwa mata uang yang sah sebagai alat transaksi adalah rupiah. Mereka yang melanggarnya bisa dikenakan hukuman 1 tahun penjara atau denda Rp100 juta.

Ini sekadar informasi ya, dinar itu adalah mata uang logam (emas) seberat sekitar 4,45 gram. Atau ada yang bilang juga 4,25 gram. Sedangkan dirham adalah mata uang koin perak setara 2,9 gram.

Sekarang misalnya harga satu dinar katanya sekitar 4 jutaan. Sedangkan harga satu dirham setara 80 ribuan. Selain itu ada juga satuan yang lebih kecil yang disebut fulus, harganya Rp3 ribuan.

Jadi kalau orang ngomong fulus, fulus, nah itu dia tuh.

Saya gak tahu gimana kalau kita mau beli permen harganya Rp1.000. Beli pakai fulus misalnya, terus kembaliannya gimana? Dipotek? Kan gak mungkin

Alasan orang didorong untuk menggunakan dirham dan dinar apa lagi, kalau bukan menggunakan agama sebagai bungkusannya. Orang-orang yang mengikuti ini, meyakini bahwa dengan menggunakan mata uang dirham dan dinar, mereka telah menjalankan perdagangan sesuai syariat.

Kayaknya ya, mereka seperti mau membangun komunitas sendiri yang tujuannya merubuhkan sistem. Sistem ekonomi kita yang berbasis pada rupiah, atau sistem ekonomi dunia yang berbasis pada mata uang masing-masing.

Saya sih curiga ini semacam gerakan model HTI. Sebab dalam UUD para pengasong khilafah itu, secara eksplisit dijelaskan bahwa mata uang mereka adalah dinar dan dirham sesuai yang disampaikan oleh Zaim Saidi.

Artinya mereka memang bertujuan membangun sistem sendiri, baik ekonomi maupun politik.

Mereka mencari celah bagaimana meruntuhkan sistem yang sudah ada. Para jemaahnya diiming-imingi dengan alasan syariat. Nah biasanya, Jemaah yang pikirannya pendek, “wih ini pakai dirham dan dinar mengikuti perintah Nabi,” katanya. Dan mereka beranggapan bahwa ini bagian dari ibadah.

Sebetulnya ya, penggunaan dirham dan dinar gak ada, dalam kitab suci Al-quran misalnya, bahwa ini adalah bagian dari ketaatan beragama. Kejauhan.

Saya sendiri heran, bagaimana soal mata uang ini bisa masuk seolah-olah bagian dari syariat. Padahal dinar sendiri asalnya dari Romawi, dulu dikenal dengan istilah Denarius. Jadi, kalau bertransaksi dengan dinar sebagai bagian dari syariat, ya aneh. Wong asalnya dari Romawi yang diadopsi oleh masyarakat Islam. Jadi bukan dari negara Islam.

Iya, pada zaman Nabi misalnya dan kekhalifahan, dinar dan dirham diakui sebagai alat transaksi. Karena mereka mengadopsi dari Romawi. Tapi, masa yang dicontek dari zaman Nabi cuman mata uangnya yang udah ketinggalan zaman itu.

Kenapa misalnya, gak dicontek akhlaknya dalam berdagang? Tidak mengurangi timbangan. Jujur terhadap kualitas barang yang dijual. Dengan kata lain, akhlak dalam bertransaksi. Bukan mata uangnya.

Nabi tidak pernah mewajibkan kita bertransaksi dengan dinar atau dirham, seperti yang dianjurkan Zaim Saidi. Yang diwajibkan Nabi adalah menegakkan akhlak dalam perdagangan.

Ketika saya baca berbagai penjelasan, kenapa sih orang ngotot banget pakai dirham dan dinar. Ini mungkin salah satu protes mereka terhadap hegemoni Amerika dengan dolarnya. Mereka menuding dolar Amerika sebagai mata uang yang bisa menciptakan ketidakadilan sosial.

Ya, di satu sisi ada benarnya juga. Sebagian besar perdagangan dunia memang menggunakan ukuran dolar Amerika. Akibatnya mata uang dolar menjadi mata uang patokan nilai untuk negara-negara di seluruh dunia.

Ketika kita berdagang dengan negara lain, misalnya, biasanya kita menggunakan standar dolar untuk menentukan nilai atau harga sebuah barang. Bahkan untuk menghitung cadangan devisa negara, patokan yang digunakan adalah dolar Amerika itu.

Ketika dolar Amerika digunakan oleh seluruh dunia, tentu saja negara yang menerbitkannya diuntungkan bukan main. Kenapa? Mereka hanya tinggal mencetak sebanyak-banyaknya. Tidak khawatir dilanda inflasi. Sebab yang akan menanggung inflasinya bukan cuma sekadar Amerika, tetapi juga seluruh dunia. Kenapa? Karena seluruh dunia menggunakan dolar sebagai patokan.

Amerika sendiri tidak peduli dengan perjanjian Bretton Woods yang dulu pada tahun 1944 mensyaratkan suatu negara bisa mencetak uang sesuai dengan cadangan emas yang dimiliki oleh negara tersebut. Sementara Amerika pada tahun 1971 misalnya, sudah meninggalkan konsep itu. Dan dia mencetak dolar sebanyak-banyaknya.

Jadi bisa dikatakan, dolar sebagai produk Amerika yang biayanya paling murah, tapi dijualnya paling mahal.

Kondisi inilah yang kabarnya menjadi latar belakang orang menoleh pada dinar dan dirham. Alasannya kata mereka untuk melawan keserakahan kapitalisme global.

Sebetulnya sudah banyak negara yang menyadari ketidakadilan sistem ekonomi di dunia ini. Indonesia misalnya, sudah sering membuat perjanjian dagang dengan beberapa negara untuk menggunakan patokan mata uang masing-masing pada setiap transaksi bilateralnya. Misalnya kita transaksi sama Cina, ya menggunakan renminbi atau rupiah sebagai patokannya.

Gerakan ini sudah banyak dilakukan berbagai negara. Dan ini, katakanlah perjanjian bilateral dua negara ini jauh lebih efektif dampaknya, ketimbang seperti yang dilakukan Zaim Saidi untuk memasarkan dinar hanya bermodalkan mendirikan pasar kaget, seperti di Depok atau di beberapa kota lain.

Sudah pasar kagetnya melanggar hukum di Indonesia, juga jadi bahan lucu-lucuan doang. Masak mau melawan kapitalisme global gerakannya cuma pasar kaget. Mungkin ada tong setan, mungkin ada apa, menurut gua ini terlalu berlebihan.

Ibaratnya, mereka mau berhadapan dengan musuh yang bersenjata revolver. Tapi modalnya Cuma dengan ketapel dan hapalan doa makan. Ya, kalah…

Lagian ketimbang bicara logam dinar sih, banyak orang lebih tertarik bicara soal Dinar Candy. Saya gak tahu, itu lelang pakaian dalamnya kemarin bisa dibeli pakai dinar juga apa enggak? Saya gak tahu.

Komentar