PRO NKRI MELAWAN, REKTOR UI DIGUGAT KE PTUN

Oleh: Ade Armando

 

Rektor Universitas Indonesia, Prof. Ari Kuncoro digugat ke Pengadilan Tata Usaha Negara, pertengahan Januari lalu. Dan ini terkait dengan keputusannya yang dianggap membuka jalan bagi kembali menguatnya kelompok-kelompok Islamis radikal, atau kita sebut saja kaum Tarbiyah, di UI.

Rektor UI digugat karena dia memecat tanpa dasar seorang Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan , Prof. Rosari Saleh (Prof. Oca), yang justru menjadi motor utama pembersihan Tarbiyah di UI.

Pemecatan ini jelas terkait dengan langkah progresif Prof. Oca yang memerangi islamisasi UI. Sebenarnya saya tidak terlalu nyaman bicara soal ini.

Saya dosen di UI, dan sebetulnya saya berharap UI, sebagaimana perguruan tinggi negeri lainnya, bisa berkembang menjadi universitas-universitas terbaik yang bisa menghasilkan lulusan cemerlang buat bangsa ini.

Seharusnya tidak perlu ada politik-politikan. Tapi apa yang sekarang terjadi di UI harus diungkapkan kepada publik karena ini bisa membuka mata tentang betapa berbahayanya kaum Tarbiyah.

Buat saya ini bukan cuma soal UI, ini soal Indonesia. Prof. Ari Kuncoro sendiri, sang Rektor, bukanlah Tarbiyah atau Islamis. Dia datang dari Fakultas Ekonomi Bisnis, dan rasanya sih di aitu sekuler.

Tapi nampaknya dia mendapat bisikan intensif dari orang-orang di sekelilingnya yang marah pada Prof. Oca yang dianggap menghabisi pundi-pundi ekonomi dan kekuasaan kekuatan-kekuatan Tarbiyah yang selama 10-15 tahun terakhir merajalela di UI.

Misalnya saja, Prof. Oca difitnah bahwa dia dengan sengaja merancang program pendidikan seks bebas bagi mahasiswa baru, padahal program sebenarnya adalah pendidikan pencegahan kekerasan seks.

Prof. Oca juga difitnah bahwa ia dengan sengaja mewajibkan penandatangan Pakta Integritas oleh mahasiswa baru yang akan merusak reputasi Rektor UI, padahal Pakta Integritas itu sengaja dirancang untuk menjaga jangan sampai mahasiswa baru termakan ideologi-ideologi anti-NKRI dan Pancasila.

Rektor yang naif nampaknya termakan dengan fitnah itu. Dan tiba-tiba saja pada 20 Oktober, Rektor memecat Prof. Oca tanpa alasan. Masalahnya, pemecatan tanpa alasan semacam itu tidak dibenarkan dalam Anggaran Rumah Tangga UI (ART UI).

Menurut ART UI, mereka yang menduduki jabatan perangkat rektor hanya bisa diberhentikan atas dasar alasan: 1. Berakhir masa jabatannya, 2. Sakit jasmani dan rohani, 3. Meninggal, 4. Mengundurkan diri, 5. Pindah ke luar negeri, 6. Melakukan pelanggaran kode etik, 7. Menjadi terdakwa tindakan pidana, 8. Menjadi terpidana, 9. Berafiliasi dengan partai politik dan punya kepentingan pribadi maupun golongan yang bertentangan dengan kepentingan UI dan, terakhir, terbukti tidak melaksanakan tugas sebagaimana mestinya dan atau melanggar peraturan yang berlaku.

Jadi, seorang rektor di UI bukanlah penguasa yang bisa semena-mena memecat para wakilnya. Pemecatan pimpinan di UI harus melandaskan diri pada alasan yang bisa diterima.

Alasan inilah yang tidak bisa diberikan rektor ketika Prof. Oca bertanya apa landasan keputusan pemecatan tersebut. Karena itulah keputusan Rektor dianggap cacat hukum dan sekarang menjadi urusan PTUN.

Sedemikian bermasalahnya keputusan Rektor ini, sampai-sampai sejumlah Guru Besar UI sempat menggugat keputusan tersebut dan meminta organ-organ universitas meminta Rektor mempertanggungjawabkan keputusannya.

Dewan Guru Besar UI sudah meminta secara khusus penjelasan dari Rektor. Dan dari apa yang saya dengar, dalam pertemuan antara Rektor dengan Dewan Guru Besar, rektor tidak bisa menjelaskan ketika ditanya soal alasan pemecatan.

Salah satu alasan yang kerap diulang-ulang rektor adalah hubungan dia dengan Prof. Oca sudah tidak baik, tanpa penjelasan.

Celakanya, alih-alih duduk bersama dengan organ-organ di UI untuk membicarakan persoalan secara dewasa, Rektor bersama Wakil Rektornya malah bersafari ke berbagai petinggi negeri, bahkan sampai ke DPR, dengan tujuan seolah meminta dukungan.

Saya sendiri mendukung Prof. Oca karena apa yang dia lakukan untuk membersihkan UI dari kekuasaan kaum Tarbiyah, di luar apa yang dia lakukan untuk membenahi kualitas pendidikan, sangat jelas terlihat.

Ini misalnya terlihat dalam langkahnya membersihkan program beasiswa.

Sebelum era Prof. Oca, terjadi mismanajemen pengelolaan dan penyaluran dana beasiswa yang bisa mencapai Rp200 miliar. Dulu, beasiswa lebih mudah mengalir ke fakultas-fakultas tertentu yang dikuasai Tarbiyah. Penanggungjawab beasiswa tidak melakukan pengumuman beasiswa secara transparan.

Pengumuman dilakukan dalam periode waktu yang sangat terbatas, dan ada fakultas-fakultas tertentu yang memperoleh informasi lebih awal sehingga peluang untuk mahasiswa dari fakultas-fakultas tersebut untuk menerima beasiswa menjadi jauh lebih besar.

Di bawah arahan Prof. Oca dilakukan pembenahan besar-besaran. Pengelola program beasiswa diganti. Peluang beasiswa disebarkan secara terbuka melalui saluran Instagram, Whatsapp, Youtube, dan juga e-newsletter.

Yang juga luar biasa adalah langkah Prof. Oca membersihkan permainan kotor dalam proses penerimaan mahasiswa baru.

Di masa sebelum Prof. Oca, di dalam panitia yang bertanggungjawab atas pembuatan penyelenggaraan ujian masuk UI (termasuk yang membuat pertanyaan dalam ujian) terdapat orang-orang yang terafiliasi dengan Tarbiyah.

Diduga keterlibatan oknum-oknum tersebut mempermudah masuknya para lulusan dari sekolah atau bimbingan belajar yang terafiliasi dengan gerakan Tarbiyah.

Karena itu, Prof. Oca mengganti sejumlah anggota dari panitia ujian masuk UI dalam rangka mencegah permainan kotor itu.

Sekarang terbukti pada penerimaan mahasiswa baru 2020, hanya sedikit lulusan sekolah dan bimbingan belajar yang terafiliasi dengan gerakan Tarbiyah yang lolos ujian ke UI.

Ada banyak contoh lain yang menunjukkan kehebatan Prof. Oca. Bukan hanya dalam hal membersihkan dominasi kaum Tarbiyah, tapi juga dalam hal peningkatan kualitas akademik UI. Sekadar info, Prof. Oca adalah tokoh yang merancang Rencana Strategis UI yang sekarang diadopsi UI.

Tapi justru karena kapasitas dan integritasnya itulah, kini dia disingkirkan.

Ini lagi-lagi menunjukkan betapa berbahayanya ketika kaum Tarbiyah berpolitik di lembaga-lembaga strategis, seperti UI.

Dominasi kaum Tarbiyah di UI ini jelas-jelas membahayakan. Bahkan secara keuangan, nampaknya UI selama ini sudah dijadikan sumber bancakan. Saat ini saja UI mengalami defisit ratusan miliar rupiah.

Dan ini nampaknya terjadi gara-gara para pengambil kebijakan di UI yang dikuasai kaum Tarbiyah mengada-adakan projek-projek pembangunan fisik secara tidak transparan dan akuntabel.

Di bawah kaum Tarbiyah, selama ini juga sudah berlangsung rekrutmen besar-besaran pegawai, karyawan, dosen yang terafiliasi Tarbiyah di UI. Kaum Tarbiyah berada di seluruh lini birokrasi UI.

Karena itu, kehadiran orang seperti Prof. Oca yang menjadi ‘wonder woman’ untuk melawan upaya kaum Tarbiyah menguasai dan mengkorupsi UI sangat dibutuhkan.

Kita harapkan saja perjuangan Prof. Oca menuai sukses. Mari kita dukung orang-orang terbaik di negeri ini.

Komentar