DALAM ISLAM, RAMBUT SUMBER PETAKA?

Oleh: Ade Armando

 

Terus terang, saya sebenarnya iba dengan mereka yang berusaha mati-matian memaksa perempuan berjilbab, seperti yang terjadi di Padang atau juga di daerah-daerah lainnya. Saya iba, karena saya merasa itu semua berpangkal pada cara beragama yang salah.

Kita tidak bisa menyalahkan mereka, karena mereka sangat percaya bahwa mereka itu sedang menjalankan kewajiban sebagai umat Islam yang soleh. Dan selama cara bergama itu tidak berubah, ya ini akan terus terjadi.

Jadi begini, guru agama yang mewajibkan murid-muridnya mengenakan jilbab itu merasa bahwa mereka sebenarnya sedang menyelamatkan murid mereka dan keluarga si murid.

Ini bisa terjadi karena mereka percaya dengan ajaran bahwa rambut perempuan itu bisa membawa malapetaka.

Sekarang ini saja, saya dikirimi banyak sekali hadis-hadis tentang rambut perempuan, gara-gara saya mengecam keputusan SMKN 2 Padang yang memaksa siswinya berjilbab. Salah satu hadis yang saya peroleh berbunyi begini:

“Sehelai rambut wanita yang dilihat lelaki bukan mahram dengan sengaja, balasannya 70 ribu tahun dalam neraka.

Sehari akhirat 1.000 tahun di dunia. Seorang wanita yang masuk neraka akan menarik ayahnya, adiknya, suaminya, dan anak lelakinya.” Ingat, itu baru satu helai rambut, lho.

Sekarang bayangkan, kalau seorang perempuan berambut tebal setiap hari memperlihatkan rambutnya kepada bukan mahram, yaitu bukan suami, bukan ayah, bukan anak, dan bukan saudara.

Berapa miliar tahun dia harus berada di neraka? Dan hadis itu tidak menyebut agama perempuan itu, lho. Jadi baik perempuan muslim atau nonmuslim yang memperlihatkan rambutnya di depan bukan suami atau keluarga intinya, dijamin masuk neraka selama miliaran tahun.

Bahkan si perempuan itu tidak akan masuk neraka sendirian, melainkan membawa serta suami, ayah, adik, dan anak.

Kalau benar begitu, bukankah itu berarti si guru sebenarnya sedang berusaha menyelamatkan murid-muridnya dan keluarga mereka, dan karena itu kita tidak layak dong marah padanya?

Masalahnya, itu pada saat yang sama menunjukkan cara beragama yang terbelakang.

Agama itu tentu bisa membawa kebahagiaan, tapi agama yang tidak dipahami dengan menggunakan akal sehat hanya akan membawa kehancuran.

Dengan akal sehat saja, kita akan bisa menilai betapa hadis tersebut tidak mungkin berasal dari Nabi Muhammad.

Itu pasti palsulah.

Bagaimana mungkin gara-gara rambut terlihat, Allah sedemikian murkanya, padahal Allah Maha Pengasih dan Penyayang? Bagaimana mungkin, memperlihatkan rambut adalah kejahatan super extra-ordinary yang jauh lebih buruk daripada korupsi misalnya.

Membayangkan koruptor akan masuk neraka selama bermiliar tahun saja tidak masuk akal. Apalagi cuma gara-gara rambut. Dan hadis yang menggambarkan derita akibat rambut bukan cuma satu

Contoh lain adalah hadis yang berbunyi: “Wanita yang membuka rambut kepalanya di depan bukan suaminya, akan digantung dengan rambutnya di atas api neraka sehingga menggelegak otaknya.”

Dalam hadis lain dikatakan bahwa Nabi Muhammad pernah dibawa jalan-jalan menyaksikan neraka, dan setelah itu dia melaporkan apa yang dilihatnya.

Kata Nabi: “Aku lihat ada perempuan digantung rambutnya, otaknya mendidih. Aku lihat perempuan digantung lidahnya, tangannya diikat ke belakang dan timah cair dituangkan ke dalam tengkoraknya.”

Juga seusai menyaksikan neraka, Nabi Muhammad bilang begini: “Mereka yang tergantung rambutnya hingga otaknya mendidih adalah wanita yang tidak menutup rambutnya sehingga terlihat oleh lelaki yang bukan mahramnya.”

Jadi, mereka yang percaya dengan kewajiban menutup rambut itu menganggap setiap helai rambut perempuan adalah aurat, dan aurat perempuan harus selalu tertutup dari pandangan bukan mahram.

Logikanya, aurat itu menggoda secara seksual. Keadaan menjadi semakin menyeramkan karena yang disebut aurat bukanlah hanya rambut. Ada hadis yang menyatakan bahwa suara pun adalah aurat yang tidak boleh diperdengarkan.

Ini yang menyebabkan banyak perempuan muslim memilih tidak bicara, apalagi bernyanyi. Memang tidak dikatakan berapa lama seorang perempuan akan masuk neraka kalau dia bernyanyi, tapi tetap saja itu adalah sesuatu yang haram dan akan mendapat hukuman.

Dalam hadis-hadis lain bagian tubuh yang tidak boleh terlihat juga mencakup leher, mata, atau tumit kaki.

Ada pula hadis lain yang menyatakan bahwa yang tidak boleh melihat aurat perempuan itu bukan cuma lelaki, tapi juga sesama wanita.

Saya mengungkapkan ini semua bukan karena saya ingin mengolok-olok agama Islam, Nabi Muhammad, apalagi Allah.

Yang ingin saya katakan adalah bahwa kalau hal-hal yang tadi saya katakan dianggap sebagai perintah atau pernyataan yang benar-benar datang dari Nabi Muhammad, agama berpotensi menjadi sumber malapetaka atau sebaliknya berpeluang menjadi bahan tertawaan.

Kalau itu semua dianggap sebagai hukum dalam Islam, dan mereka yang percaya menganggap hukum Islam harus ditegakkan, kita bisa bayangkan kehancuran yang akan terjadi di Indonesia.

Yang kita bicarakan baru soal rambut, suara, dan bagian-bagian tubuh. Belum soal vaksin, soal memilih pemimpin, soal perang, soal kencing unta, soal seks, soal berhubungan dengan non-muslim.

Dan jangan salah ya, saya tidak sedang mengajak orang untuk meninggalkan agama. Bagi saya, agama jelas penting. Tapi kalau kita menafsirkan agama tanpa menggunakan akal sehat, agama benar-benar akan menjadi ancaman.

Dalam hal ini, saya ingin berbagi sedikit pada mereka yang mungkin tidak familiar dengan Islam.

Umat Islam di dunia percaya bahwa ada Allah memberikan tuntunan hidup melalui Alquran dan hadis (dan sunnah).

Alquran adalah kitab suci berisikan ayat-ayat Allah yang diturunkan di abad ke-7 Masehi kepada Nabi Muhammad melalui perantaraan malaikat.

Hadis (dan sunnah) adalah kumpulan pernyataan dan tindakan Nabi Muhammad semasa ia hidup yang terekam dalam ingatan umat Islam di Mekah dan Madinah pada abad ke-7 Masehi.

Tentang Alquran, mayoritas mutlak umat Islam bahwa itu benar-benar ayat Allah yang tidak boleh diragukan kebenarannya.

Adapun soal hadis, persoalannya tidak sesederhana itu. Hadis baru ditulis ulang lebih dari seratus tahun setelah Nabi meninggal.

Jadi hadis itu adalah sebuah buku yang isinya adalah ingatan orang tentang apa yang pernah diucapkan atau dilakukan Nabi lebih dari seratus tahun sebelumnya.

Karena itu validitas hadis sangat beragam. Ada yang nampak sangat bisa diandalkan, ada yang sangat lemah.

Apalagi dalam proses pengumpulan hadis itu ada banyak sekali hasil karang-karangan orang atau hadis palsu yang sengaja dibuat untuk beragam alasan, bisa bisnis, ekonomi, politik, atau apapun.

Menurut saya, hadis soal hukuman 70.000 tahun bagi perempuan yang menampakkan sehelai rambut itu adalah hasil karang-karangan orang yang mungkin saja sebal karena rambutnya tidak seindah rambut perempuan lainnya.

Masalahnya, walau sudah ada proses penseleksian hadis, hadis-hadis semacam itu tetap bertebaran di muka bumi.

Ajaran-ajaran tidak masuk akal semacam ini dengan mudah ditemukan di banyak buku, internet, media sosial atau apa yang disampaikan para pendakwah berpikiran dangkal.

Celakanya, karena dianggap datang dari Nabi Muhammad, hadis-hadis tidak masuk di akal itu dijadikan rujukan hukum yang dianggap wajib diterapkan dalam hidup ini.

Karena itu selama cara penafsiran agama tidak berubah, agama berpotensi menjadi sumber malapetaka.

Lagi-lagi saya katakan, agama itu sendiri tidak mungkin buruk.

Agama jelas mengandung nilai-nilai kebaikan yang kalau diterapkan akan membawa kedamaian, kesejahteraan, dan kemajuan.

Tapi kalau agama dipahami dengan mengabaikan akal sehat, agama justru bisa menjadi sumber bencana. Karena itu, saran saya, gunakan selalu akal sehat ketika mempelajari agama.

Ajaran agama yang datang dari Tuhan pastilah ajaran yang masuk akal dan akan membawa kebaikan, kedamaian, kesejahteraan.

Sebaliknya, kalau ada ajaran agama yang tidak masuk akal dan kita sadari akan membawa keburukan, perpecahan, dan kesengsaraan, itu pasti bukan datang dari Tuhan.

Karena itu marilah kita jangan sekadar membenci guru-guru yang melakukan pemaksaan jilbab. Mereka melakukannya karena ketidaktahuan mereka.

Karena itu, kalau pemerintah memang ingin agar negara ini tidak lagi diancam oleh kesempitan berpikir, harus ada langkah yang sistematis, terencana dan berkelanjutan untuk mengubah cara umat Islam memahami agamanya.

Komentar