KESALAHAN PANDJI SOAL FPI, NU, DAN MUHAMMADIYAH

Oleh: Ade Armando

Nama Pandji Pragiwaksono sedang riuh dibicarakan. Komedian top itu dianggap melecehkan NU dan Muhammadiyah.

Menurut saya sih, ini seharusnya tidak usah terjadi kalau saja Pandji sadar dengan keterbatasan pengetahuannya. Pandji mungkin ingin sekali terlihat sebagai bukan sekadar selebritis. Dan ini sih sebenarnya bagus-bagus saja.

Semakin banyak tokoh berpengaruh di Indonesia mengajak publik peduli pada soal-soal kemasyarakatan, tentu semakin baik. Tapi seorang influencer seperti Pandji juga harus sadar.

Ucapan-ucapannya didengar orang banyak. Dia adalah tokoh berpengaruh. Dan karena dia berpengaruh, dia mengemban tanggungjawab untuk bicara dengan benar. Di Amerika Serikat, sekitar tiga tahun yang lalu, terbit sebuah buku yang menarik, berjudul: The Death of Expertise, karya Tom Nichols.

Buku ini relevan sekali dengan kasus Pandji.

Nichols masygul bahwa terlalu banyak orang yang seolah-olah ahli dan didengar pendapatnya, padahal pengetahuan orang itu jauh dari memadai dan akibatnya menyesatkan masyarakat.

Saya tentu tidak ingin bilang, Pandji itu bodoh, dia pintar.

Tapi kalau dia ingin bicara tentang sesuatu yang menyangkut kepentingan masyarakat luas, dia harus belajar serius dulu untuk memahaminya, baru kemudian bicara.

Pandji itu diributkan karena beredar sebuah video pendek di mana dia mempertanyakan keputusan pemerintah melarang FPI. Menurut Pandji, FPI ada karena FPI dibutuhkan masyarakat.

Dengan mengutip Profesor Tamrin Amal Tomagola, dia mengatakan pintu para ulama FPI selalu terbuka bagi masyarakat yang membutuhkan. Sementara di pihak lain, pintu ulama-ulama NU dan Muhammadiyah tertutup.

Para ulama NU dan Muhammadiyah terlalu elitis, ujar Pandji. Ketika rakyat membutuhkan pertolongan yang terlihat hanyalah FPI. Kita sendiri, kelas menengah, kata Pandji, enggan untuk membantu orang kecil.

Ketika kita mendengar ada suara: “Assalamualaikum” di depan rumah, kita buru-buru menghindar.

Saya sendiri juga begitu kok, kata Pandji. Nah, itulah yang tidak dilakukan FPI. Mereka ringan tangan, kata Pandji. Ketika rakyat mengalami kesulitan soal sekolah anaknya, atau butuh bantuan untuk merawat kesehatan, FPI turun tangan.

Jadi, kata Pandji, banyak orang pro-FPI, karena FPI ada saat dibutuhkan rakyat. Di ujung paparannya, Pandji berpetuah: Kalau kita tidak ingin FPI bertambah besar, kita harus menyelesaikan masalah sosial di sekitar kita.

Ketidakpedulian kita akan berbalik pada lahirnya permasalah sosial berikutnya. Begitu kata Pandji. Video Pandji yang diributkan itu berdurasi kurang dari dua menit dan menyebar melalui beragam media sosial.

Saya pertama kali melihatnya di berbagai Whatsapp Group. Tapi rupanya itu juga disebarkan melalui berbagai channel Youtube berbau Islam, dengan nama seperti Media Umat Islam, Dunia Akhirat, dan Hade DakwahTV.

Video ini rupanya sangat disukai para pendukung FPI, tapi sebaliknya juga membuat banyak orang marah karena disebut-sebutnya nama NU dan Muhammadiyah. Pandji dituduh melecehkan dua organisasi besar itu, seraya memuji-muji FPI.

Pandji sendiri sudah membela diri dengan mengatakan bahwa penyebutan soal keelitisan NU dan Muhammadiyah itu adalah kata-kata dari Profesor Tamrin Amal Tomagola.

Itu diucapkan Tamrin katanya, dalam wawancara dengan Pandji delapan tahun yang lalu. Pandji balik menyerang para pengkritiknya karena hanya menonton sebagian kecil dari videonya yang sebetulnya jauh lebih panjang dan lebih lengkap.

Kalau begitu pertanyaannya: Apa yang sebetulnya merupakan pesan lengkap yang hendak disampaikan Pandji?

Video pendek itu memang adalah hasil editan dari video asli yang diupload di channel Youtube Pandji berdurasi lebih dari 50 menit, awal Januari, yaitu segera setelah FPI dilarang berkegiatan.

Judul videonya: “FPI Dibubarin Percuma? Feat Afif Xavi dan Fikri Kuning”. Dua nama itu, Afif dan Fikri, adalah standup comedian baru yang kebetulan punya pengalaman langsung bersentuhan dengan FPI.

Fikri pernah menjadi anggota FPI. Sementara Afif tinggal di Petamburan, daerah markas FPI di Jakarta. Dua anak muda ini memberi kesaksian yang membela FPI tentunya.

Menurut Fikri, kegiatan utama FPI adalah pengajian. Nggak ada sweeping-sweepingan, katanya.Nggak ada penggerebekan. Dia juga membantah bahwa kalau ada aksi, anggota FPI dibayar. Yang ada, katanya, malah keluar duit pribadi.

Afif juga menyatakan bahwa 80% masyarakat Petamburan mendukung FPI. Bahkan dia cerita pengalaman langsung bahwa ketegangan di Petamburan terjadi karena adanya para penyusup yang tidak dia kenal.

Pada intinya, frame wawancara oleh Pandji ini hendak memberi perspektif bahwa menganggap FPI berbahaya adalah salah besar.

Pandji berargumen bahwa pelarangan FPI seharusnya dilakukan melalui pengadilan. Menurutnya, pembubaran – atau sebenarnya pelarangan FPI – tetap harus dilakukan dengan benar.

Kata Pandji, kalau sekarang FPI dibubarkan, toh FPI bisa berdiri lagi dengan nama lain. Lagipula katanya, menjadi anggota FPI kan adalah hak asasi, karena setiap orang berhak berorganisasi.

Dan kita tidak bisa dong, kata Pandji, membubarkan organisasi hanya karena kita tidak suka dengan orang-orangnya. Pada bagian itulah, Pandji kemudian mengutip pernyataan Thamrin tadi.

Seperti saya katakan, argumen Pandji ini dangkal.

Dalam hal NU dan Muhammadiyah, Pandji tidak pantas mengatakan bahwa apa yang dikutipnya itu hanyalah pendapat orang lain yang dia gunakan untuk memperkuat argumennya.

Pengutipan pernyataan Thamrin adalah bagian dari keseluruhan narasi yang hendak dia bangun. Pandji kan bisa tidak menyebut nama NU dan Muhammadiyah kalau dia tidak setuju.

Tapi secara jelas dua nama itu dia sebut, dan itu sekarang menjadi tanggungjawab dia, bukan lagi tanggungjawab Thamrin.

Dan semakin tidak pantas karena apa yang dia kutip sebetulnya berasal dari pernyataan delapan tahun yang lalu, sementara kebijakan pemerintah yang dia sanggah adalah keputusan untuk menghadapi ancaman FPI saat ini.

Pandji jadinya terkesan hendak lepas tangan. Tapi terus terang, yang juga lebih bermasalah adalah argumen lengkap yang dia tampilkan di videonya.

Jadi, baik videonya yang cuma 2 menit itu, atau yang lebih lengkap 50 menit, menurut saya, sama-sama bermasalah.

Kedua anak muda yang diundangnya adalah bagian dari frame yang hendak dibangun Pandji bahwa pemerintah salah membubarkan FPI.

FPI tidak perlu ditakuti, menurut frame itu, karena kegiatan utama FPI adalah mengaji, tidak pernah sweeping, dan FPI sebenarnya sering kena fitnah.

Pandji hendak mengarahkan penontonnya untuk percaya bahwa pemerintah telah melanggar HAM, melanggar proses hukum yang seharusnya, dan membubarkan FPI hanya karena FPI adalah ancaman bagi penguasa.

Pandji bahkan secara tidak langsung menyatakan bahwa pemerintah, kita semua, dan juga NU dan Muhammadiyah selama ini mengabaikan kewajiban untuk peduli pada rakyat kecil. Itu menurut saya memprihatinkan.

Sudah jelaslah, alasan pembubaran FPI bukan karena pemerintah cemas dengan kekuatan FPI melawan pemerintah. Kurang apa lagi sih bukti yang diperlukan untuk menunjukkan kejahatan FPI?

Dan kalau saja, Pandji mau sedikit membuka-buka kepustakaan, dia akan tahu pelarangan organisasi tanpa melalui pengadilan adalah hal yang sangat bisa dilakukan, selama alasannya bisa diterima.

Dan kalau saja Pandji mau cukup rendah hati untuk mempelajari keberadaan berbagai organisasi keagamaan atau organisasi sosial di negara ini, Pandji pasti tahu bahwa yang turun tangan membantu orang kecil bukan hanya FPI.

Kalau Pandji sebagai kaum elit tidak mau membantu orang kecil, ya itu urusan dia. Tapi ada begitu banyak kelas menengah lain yang terlibat dalam aktivitas kepedulian sosial membantu kaum papa, baik untuk urusan perut, pendidikan, maupun kesehatan.

Jadi saran saya terakhir pada Pandji: Teruslah bicara soal persoalan-persoalan masyarakat. Teruslah peduli pada politik. Tapi untuk itu semua, juga Anda harus belajar terus. Baca buku, diskusi, mendengar.

 

Komentar