KEREN, JOKOWI TUNJUK KAPOLRI NON-MUSLIM! |

Oleh: Ade Armando

 

Penunjukkan Komjen Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri punya arti sangat penting. Tentu saja kita bisa bicara rangkaian prestasinya. Tapi menurut saya, salah satu hal terpenting adalah, Listyo Sigit itu adalah pemeluk agama Katolik.

Dan ini adalah kabar baik bagi Indonesia yang sedang diancam oleh kaum radikal Islam yang berusaha memecah belah bangsa. Saya tentu percaya bahwa Sigit adalah seorang polisi yang cakap dan berintegritas.

Namun di Indonesia saat ini, punya keunggulan kualitas itu tidak cukup untuk menjadikan seseorang dipilih sebagai pemimpin.

Saat ini, negara kita ini diganggu oleh kaum radikalis yang nyinyir yang akan mengaitkan segala hal dengan agama.

Buat Presiden ini tentu bukan perkara mudah. Bila dia tidak cukup tegas, dia bisa tersandera kelompok-kelompok radikal tersebut.

Kita sudah melihat ada banyak pemimpin dan juga wakil rakyat yang takut mengambil keputusan yang mereka khawatirkan akan mengusik perasaan umat Islam konservatif.

Salah satu kesalahan Presiden SBY dulu adalah itu: Dia tidak berani mengambil risiko kehilangan popularitas di mata kaum Islamis.

Di kepalanya mungkin ada sebuah imajinasi bahwa kaum Islamis radikal berjumlah besar dan mereka punya kemampuan menggerakkan warga muslim.

Kaum Islamis radikal yang saya maksud bukan umat Islam secara keseluruhan ya. Kaum Islamis radikal yang saya maksud adalah kaum muslim yang percaya bahwa Indonesia harus menjadi negara Islam atau menjadi negara yang dikuasai penguasa Islam.

Contoh terbaik mereka adalah gerakan 212, FPI, Tarbiyah, HTI, PKS. Mereka tersebar di mana-mana. Bukan cuma di PKS, atau di PPP, atau di PAN, tapi juga di Gerindra, Golkar, di Demokrat, atau bahkan di PDIP.

Mereka juga masuk ke birokrasi pemerintahan, ke BUMN, ke lembaga negara independen, dan tentu saja lembaga-lembaga pendidikan di segala ini.

Mereka itulah yang dulu ditakuti Presiden SBY. Presiden SBY itu kan sama sekali bukan Islamis. Dia bahkan kesannya abangan atau sekuler. Tapi ketika dia memimpin Indonesia, dia tidak pernah tegas menghabisi kelompok-kelompok Islamis radikal sehingga bisa terus berkembang sampai sekarang.

Presiden SBY jadinya tersandera oleh imajinasi dia bahwa melawan kaum Islamis adalah sikap yang merugikan secara politik. Begitu juga partai-partai politik.

Seperti yang digambarkan secara sangat baik oleh Saiful Mujani, proses Islamisasi di berbagai provinsi Indonesia, yang ditandai dengan banyaknya jumlah perda-perda syariah, dilakukan justru di daerah-daerah yang dikuasai parpol-parpol nasionalis, seperti PDIP atau Golkar.

Penjelasannya sederhana: Parpol-parpol itu dan juga kepala-kepala daerah di banyak tempat itu menganggap bersikap bertentangan dengan kepentingan kaum Islamis itu berbahaya.

Mereka takut kehilangan pendukung, karena itu mereka menjadi pengecut. Itulah yang menjelaskan mengapa parpol-parpol itu tak berani bicara soal penyerangan dan pelarangan rumah ibadah, pelarangan perayaan natal, persekusi minoritas.

Mereka takut

Penunjukan Kapolri beragama Katolik saat ini, sebenarnya juga berisiko semacam itu. Sebelum Presiden Jokowi memutuskan untuk menunjuk Sigit sebagai Kapolri, sudah terdengar peringatan dari Wakil Ketua MUI, Anwar Abbas, bahwa keputusan Presiden jangan hanya didasarkan pada pendekatan, kedekatan, dan profesionalitas.

Anwar mengatakan penunjukan Kapolri harus didasarkan pada pertimbangan kemaslahatan. Dia menekankan bahwa, beberapa waktu belakangan ini, hubungan antara pemerintah dan umat Islam agak terganggu lantaran tuduhan bahwa pemerintah melakukan praktik kriminalisasi terhadap para ulama.

Anwar sebenarnya hendak mengingatkan agar Jokowi jangan sampai memilih Kapolri non-muslim.

Pernyataan Anwar bahkan bisa dilihat sebagai sekadar puncak gunung es. Bila kita masuk ke percakapan di media sosial kaum Islamis, kemarahan terhadap keputusan pencalonan dan penunjukkan Sigit sangat terasa.

Yang ramai beredar misalnya adalah postingan di akun Facebook, Hady Al Jawi. Dia menulis: “Si Iblis Jokowi mengangkat Kapolri kafir Listyo Sigit Yg Melangkahi 2 Angkatan. Si Iblis Biadab Jokowi Biang Kericuhan dan Kekacauan di NKRI yag Wajib Dibinasakan.”

Lagi-lagi, itu cuma satu contoh yang ramai dibicarakan. Yang tidak terungkap kepada publik, dan hanya beredar di kalangan mereka, sama atau bahkan lebih menyeramkan dari itu.

Bagi kaum Islamis radikal, penunjukkan Kapolri beragama Katolik mengkonfirmasi tuduhan mereka bahwa Jokowi adalah musuh yang menzalimi Islam. Pemerintahan Jokowi membubarkan HTI, melarang FPI, menangkap Rizieq, dan kini menunjuk Kapolri beragama Katolik.

Bagi kaum Islamis radikal, jelas sudah, Islam memang berada di bawah ancaman. Tapi di sinilah letak kehebatan Jokowi. Dia tidak takut. Dia tentu sadar dengan segenap risiko bahwa ini memicu kemarahan.

Tapi dia merasa penunjukan Sigit adalah yang terbaik dan negara tak boleh tersandera oleh kelompok-kelompok radikal yang mengancam bangsa. Jokowi tahu bahwa salah satu kewajiban yang harus dilakukan pemerintah saat ini adalah memerangi korupsi dan juga memerangi dengan tegas kaum radikal.

Masa kepemimpinan Jokowi tinggal tiga tahun. Dalam waktu yang singkat itu, dia harus menghabisi praktik korupsi dan kaum Islamis radikal, sejauh mungkin.

Karena itu dia membutuhkan tangan kanan yang bisa dia percaya, seperti dulu dia mempercayai Tito Karnavian dan Idham Azis. Sigit adalah orang dekat Jokowi.

Dia pernah menjadi ajudan Jokowi, dan pernah menjadi Kapolres Solo saat Jokowi menjadi walikota. Dengan kata lain, chemistry Jokowi dan Sigit sudah terbangun sejak lama. Tidak perlu lagi ada adaptasi.

Tapi tentu saja bukan cuma soal kedekatan yang menentukan. Sigit adalah the right man on the right place untuk menjalankan tantangan 3 tahun ke depan.

Sigit bukan orang main-main. Begitu menjadi Kabareskrim, dia sudah membongkar kasus penyiraman air keras kepada Novel Basewdan. Dia kemudian menangkap buronan kelas kakap Joko S Chandra di Malaysia.

Sigit sendiri yang memimpin tim penangkapan itu bekerja sama dengan Polisi Diraja Malaysia. Dalam kasus itu, dua jenderal polisi yang terlibat persengkongkolan dengan Joko juga menanggung akibatnya.

Pretasi Sigit lain adalah menangkap mastermind perampokan Bank BNI Rp1,2 triliun, Maria Pauline Lumowa, di Serbia. Dan Sigit bukan tipe pemimpin yang duduk di belakang meja. Untuk menjamin keberhasilan operasi, Sigit tidak segan turun langsung ke lapangan.

Jadi pada dasarnya tidak ada alasan untuk meragukan kemampuan Sigit. Kalau Anwar Abbas mengingatkan agar Jokowi memilih dengan mempertimbangkan kemaslahatan masyarakat, penunjukkan Sigit jelas mencerminkan kepentingan masyarakat luas.

Termasuk dalam hal hubungan dengan kelompok Islam. Polisi tidak boleh sedikit pun ragu-ragu untuk bertindak tegas terhadap kaum radikal. Dan bertindak tegas terhadap kaum radikal tidak berarti memusuhi Islam.

Ini sudah ditunjukkan oleh Kapolri Idham Azis. Dia adalah seorang muslim taat, tapi di bawah kepemimpinannyalah, Rizieq dan FPI mulai dihabisi.

Maka keberhasilan dan kepercayaan terhadap POLRI harus dilanjutkan oleh seorang Kapolri baru yang juga tak boleh sedikit pun takut terhadap imajinasi tentang risiko menyakiti hati kaum Islamis.

Dan dalam hal ini, Sigit juga bukan pemimpin yang asing dalam hal membangun hubungan baik dengan kelompok-kelompok Islam.

Ketika dia hendak menjabat Kapolda Banten tahun 2016, dia pernah ditolak MUI Banten atas dasar agama. Sigit Katolik sementara Banten merupakan wilayah Kesultanan yang mayoritas penduduknya Islam.

Penolakan tersebut bahkan ditandatangani sejumlah ulama dalam sebuah petisi. Namun seiring dengan berjalannya waktu, penolakan tersebut pun mereda. Sigit berhasil meyakinkan MUI bahwa dia jadi sahabat umat Islam di Banten.

Saat ada demo 411 dan 212, Kapolda Banten itulah yang mengirim tim Brimob bukan yang bersenjata. Tim yang dikirim oleh Sigit adalah tim Brimob Asmaul Husna.

Kalau Anda ingat ada tim polisi yang berzikir menghadapi demonstran 411 dan 212, itu antara lain adalah anak buah Sigit. Kini, Listyo Sigit sudah menjadi Kapolri.

Kita percaya dia tidak akan mengecewakan harapan masyarakat. Kita harapkan, bersama KPK dan Kejaksaan, POLRI akan efektif menghabisi korupsi.

Kita harapkan, bersama masyarakat sipil, POLRI akan menghabisi kelompok-kelompok Islamis radikal serta melindungi kaum mnoritas yang selama ini menjadi korban penindasan.

Yuk kita dukung Pak Jokowi, Pak Listyo Sigit, dan semua orang baik di pemerintahan kita.

 

Komentar