RIBKA TJIPTANING DAN KEDUNGUAN SOAL VAKSINASI

Oleh: Ade Armando

Barangkali Anda sudah menyaksikan video Ribka Tjiptaning, anggota DPR asal PDIP, yang dalam rapat dengan Menteri Kesehatan bilang dia menolak divaksin. Dia itu sombong, dan maaf ya memalukan.

Terkesan dungu malah.

Dia melecehkan Jokowi, yang disebutnya ‘semakin tidak jelas’. Dia melecehkan Menteri Kesehatan, Budi Gunadi, karena sang menteri bukan dokter, dan sekadar Wamen BUMN. Dengan pongah dia bilang dia tidak mau dipaksa divaksin anti Covid-19.

Bahkan kalau dia harus diberi sanksi, dia memilih untuk membayar saja. Seluruh keluarganya tidak boleh divaksin. Dengan gegabah dia mengatakan, kalau dipaksa, itu adalah pelanggaran HAM.

Alasan penolakannya tidak jelas. Mula-mula dia terkesan seperti menolak karena khawatir bahwa vaksinasi itu akan berdampak buruk. Dia misalnya menyebut bahwa beberapa tahun yang lalu ada kasus di mana mereka yang divaksin anti-polio, justru menjadi lumpuh layu.

Tapi kemudian dia bicara soal komersialisasi vaksin.

Dia bilang, sejak Maret lalu dia sudah mengingatkan bahwa “Ini semua ujung-ujungnya jualan obat, jualan vaksin.”

Katanya, “Mula-mula jualan APD, lantas jualan obat, nanti ada lagi soal stunting.”

Menurut Ribka, semua sudah jelas, sudah ada polanya, semua untuk dagang. Lantas dia bilang, saya ingatkan ya, adinda menteri, negara nggak boleh berbisnis dengan rakyatnya. Tampilan Ribka memalukan.

Kalau dia sedemikian penakut sehingga dia tak berani divaksin, ya urusan dialah. Tapi kenapa harus menakut-nakuti rakyat, bahkan menyebarkan gagasan tentang adanya konspirasi dagang di belakang Covid-19.

Covid-19 itu nyata. Ada hampir 850 ribu orang dinyatakan positif terkena Covid-19 di Indonesia saat ini. Hampir 25 ribu meninggal. Di dunia, diketahui ada sekitar 91 juta orang terkena. Yang meninggal hampir 2 juta.

Mungkin saja statistik itu tidak sepenuhnya akurat. Bisa lebih rendah, tapi bisa juga lebih tinggi. Tapi epidemi ini real.

Bagaimana mungkin virus ini disepelekan, atau sekadar dianggap sebagai akal-akalan dagang obat?

Pemerintah Jokowi mati-matian berusaha memenangkan perang melawan Covid-19. Menurut Menkeu Sri Mulyani, anggarannya sekitar Rp70 triliun. Sementara kalau kita gunakan perhitungan PSI, kalau seluruh penduduk Indonesia harus divaksinasi, angkanya bisa lebih dari Rp100 triliun.

Ini jelas angka yang bukan main-main. Tapi masalahnya, saat ini cara utama mencegah pertumbuhannya adalah dengan vaksinasi. Itupun tidak berarti bahwa kita tidak perlu lagi menjaga protokol kesehatan.

Kita tetap jaga jarak, pakai masker, cuci tangan. Tapi dengan vaksinasi, diharapkan akan ada cukup banyak warga Indonesia yang kebal terhadap Covid sehingga penyebaran virus bisa terhambat.

Ribka dengan pongah bilang kepada Menteri bahwa sang Menteri itu dipilih oleh hanya satu orang, yaitu Presiden, sementara Ribka dipilih oleh ratusan ribu warga. Dengan mengatakan itu, dia seperti bilang, pendapat dia lebih layak daripada pendapat sang Menteri.

Yang dia lupa adalah bahwa keputusan itu datang dari Presiden Jokowi, seorang pemimpin yang dipilih bukan hanya oleh ratusan ribu warga tapi lebih dari 85 juta rakyat Indonesia. Tapi tentu saja bukan angka statistik itu yang penting.

Yang penting saat ini kita harus berperang melawan Covid-19 yang sudah mematikan lebih dari 20 ribu orang, dan kita harus menemukan cara terbaik untuk melakukannya. Kita harus membuat masyarakat Indonesia sehat dan membagun kembali ekonomi Indonesia.

Kalau Ribka punya cara lain, ya paparkan dong.

Tapi kalau dia cuma sekadar mengatakan bahwa ini semua adalah perang dagang, ya dia layak dikatakan dungu. Ribka ini jadi seperti nenek nyinyir, yang selama ini menjadi ciri khas kaum anti-Jokowi.

Perang melawan Covid-19 di Indonesia terus diganggu karena sangat banyak orang dungu yang terus menyebarkan kebencian, kebohongan, dan kecurigaan yang bertujuan menggagalkan kesuksesan program vaksinasi ini.

Misalnya saja, soal Jokowi sebagai orang pertama yang memperoleh vaksin.

Pada awalnya kaum nyinyir sok menantang agar Jokowi menjadi orang pertama untuk divaksin, karena mereka rupanya percaya bahwa vaksin ini tidak aman.

Ternyata Jokowi bersedia. Maka narasi jadi berubah, menjadi: Pemberian vaksin kepada Jokowi harus disiarkan live ke seluruh rakyat Indonesia, agar bisa dipastikan bahwa vaksinasi memang terjadi.

Ternyata sekarang juga dilangsungkan siaran live. Narasi pun berubah menjadi: Harus dipastikan bahwa vaksin itu sungguhan, bukan sekadar pura-pura.

Dan terkahir pun berubah menjadi: Harus dipastikan bahwa vaksin yang diberikan kepada Jokowi adalah sama dengan yang diberikan pada rakyat.

Jadi, memang tidak ada habisnya. Dulu dipersoalkan berapa harga yang harus ditanggung setiap penerima vaksin. Ternyata pemerintah memutuskan vaksin akan diberikan secara gratis.

Tiba-tiba saja narasinya berubah menjadi apa layak uang rakyat digunakan untuk membeli vaksin dari perusahaan-perusahaan asing, apalagi dari Cina. Dahsyat kan?

Bahkan beredar berbagai gosip dan hoax yang pokoknya ingin menjadikan vaksinasi ini adalah hal yang harus dilawan. Saya buat nih, daftar setidaknya sepuluh hoax dungu yang beredar:

Satu, vaksinasi ini modus operandi dari PKI (Partai Komunis Indonesia) atas perintah Negara Komunis China untuk menghabisi rakyat Indonesia.

Dua, Sinovac ini membahayakan, buktinya: Pemerintah Cina sendiri tidak menggunakan Sinovac pada warga Cina.

Tiga, reaksi senyawa vaksin Sinovac akan memicu virus membuat antibodi sendiri, membelah diri menjadi senyawa kimia virus baru yang lebih banyak dan semakin ganas.

Empat, penerima pertama suntikan vaksin Covid-19 Sinovac Cina, meninggal dunia. Lima, vaksin Covid-19 Sinovac yang dikirim ke Indonesia sebenarnya ditujukan untuk uji klinis, bukan untuk pasien sesungguhnya.

Enam, vaksin Covid-19 Sinovac mengandung sel kera hijau. Tujuh, vaksin Covid-19 mengandung virus corona hidup yang dilemahkan. Delapan, vaksin Covid-19 mengandung boraks, formalin, dan merkuri.

Sembilan, vaksin merek Sinovac adalah vaksin yang paling lemah dibandingkan vaksin dengan merek-merek lainnya.

Sepuluh, relawan uji coba vaksin Sinovac mengalami gangguan syaraf sehingga menimbulkan gangguan pada tangan.

Ini semua bohong, bohong, bohong. Tapi terus disebarkan. Terus terang, saya tdiak paham apa yang sebenarnya ada di kepala orang-orang yang menyebarkan kebohongan ini?

Apakah mereka ingin agar kita semua berserah diri saja pada Allah? Atau mereka memang ingin agar jumlah korban terus meningkat. Tentu saja tidak ada jaminan bahwa setelah vaksinasi dilakukan, penyebaran Covid-19 bisa dicegah.

Tapi inilah cara terbaik yang tersedia saat ini. Karena itu, wahai Ribka dan kawan-kawan, kalau Anda memang takut, ya silakan tinggal di rumah dan jangan terima vaksin.

Saya doakan Anda dan keluarga Anda sehat dan selamat. Tapi tolonglah jangan sebarkan kedunguan ini pada banyak orang.

Komentar