JANGAN SOK MENOLAK VAKSIN!

Oleh: Eko Kuntadhi

Presiden Jokowi melaksanakan vaksinasi. Ia adalah orang pertama di Indonesia yang divaksin Covid-19. Lalu pelan-pelan seluruh rakyat Indonesia nanti akan divaksin secara gratis. Pada tahap awal ini memang diprioritaskan buat tenaga kesehatan, polisi, TNI dan dan orang-orang yang kerjanya memang berisiko tinggi tertular Covid-19.

Soal keamanan vaksin ini ya gak usah khawatir. Biofarma udah selesai melakukan uji klinis vaksin Covid-19 yang bibitnya dari Sinovac. Hasilnya memuaskan juga. Ujicoba berbagai merk vaksin juga dilakukan di seluruh dunia. Jadi kalau kita divaksin nanti, insya allah aman. Gak akan ada risiko yang terlalu berlebihan.

Sementara MUI juga berpendapat vaksin ini suci dan halal. Heran juga sih. Di saat seluruh dunia sibuk meneliti keampuhan vaksin Covid-19, eh, kita malah sibuk meneliti kandungan babi di dalamnya. Tapi ok lah. Namanya juga negeri +62, lucu-lucu sedikit bisa dimaklumi.

Meskipun aman dan halal, ternyata kita memang harus sabar menunggu kapan giliran dapat divaksin.

Begini. Penduduk dunia ada 7,8 miliar orang sekarang. WHO mensyaratkan setidaknya 70% penduduk harus divaksin. Itu sama dengan sekitar 5,5 miliar orang. Jika setiap orang butuh 2 dosis vaksin, berarti dibutuhkan 11 miliar dosis vaksin.

Padahal kapasitas produksi vaksin dunia hanya 6,2 miliar dosis per tahun. Itu pun bukan semuanya vaksin Covid-19. Ada vaksin TBC, Polio, Campak, dll.

Dengan kapasitas produksi saat ini, setidaknya butuh waktu 3 tahun untuk memenuhi seluruh kebutuhan vaksin Covid-19 dunia.

Presiden Jokowi sendiri menginstruksikan bahwa vaksinasi Covid-19 harus selesai dalam setahun. Presiden gak mau nunggu lebih lama, sebab ia tahu vaksinasi ini bukan cuma sekadar urusan kesehatan. Tapi juga menjadi momen penting bagi Indonesia ke depan.

Semua negara di dunia saat ini berjibaku melindungi rakyat mereka dari serangan Covid-19. Mereka tidak mau jadi korban keganasan virus itu. Selama pandemi misalnya, banyak negara yang menerapkan aturan menutup diri dari kedatangan warga negara asing.

Termasuk Indonesia pada Januari ini juga menutup diri. Orang asing gak boleh datang.

Nah, nanti ketika proses vaksinasi seluruh dunia sudah mulai berjalan, pelan-pelan pintu gerbang berbagai negara itu kembali dibuka. Tapi tentu saja hanya akan dibuka bagi warga negara yang negaranya dinyatakan berhasil dalam proses vaksinasi.

Negara yang prosesnya lelet atau malah gagal dalam vaksinasi akan ditolak di seluruh dunia. Negara itu akan dikucilkan. Bukan hanya orangnya yang dikucilkan, tapi mungkin barang-barang produksinya. Sama aja kayak negara itu diembargo gitu lho. Ekonomi negara itu pasti jadi morat-marit. Sirkulasinya imbas krisis kesehatan, menjadi krisis ekonomi, lalu mungkin akan terjadi krisis politik, dan menjadi krisis kemanusiaan. Kan ngeri banget.

Nah, jadi wajar kan, kalau seluruh dunia berlomba mendapatkan vaksin Covid-19 ini paling duluan. Termasuk kita, Indonesia.

Kanada misalnya, sudah memesan vaksin yang jumlahnya 4 sampai 5 kali lipat dari populasi penduduknya. Amerika Serikat, mungkin sudah pesan 3 kali lipat, dan Inggris pesan 2 kali lipat dari populasi penduduknya.

Terus bagaimana dengan Indonesia? Saat ini pemerintah baru dapat komitmen 329 juta dosis dari berbagai perusahaan vaksin di dunia. Jumlah itu ya kurang.

Kalau sendainya penduduk Indonesia 260 juta, dan orang yang layak divaksin itu 200 juta. Minimal kita butuh 400 juta dosis vaksin. Nah jumlah inilah yang terus dikejar pemerintah. Semua sumberdaya dikerahkan untuk mendapatkan akses vaksin ini.

Saya ingin bilang kayak gini deh, vaksin ini atau vaksinasi Covid-19 ini adalah momentum yang amat menentukan masa depan kita selanjutnya. Dampak negara gagal vaksin bukan hanya soal kesehatannya. Tetapi juga akan merembet ke ekonomi, ke politik, bahkan ke kemanusiaan.

Sialnya, di tengah hal penting kayak gini masih ada suara orang yang menolah vaksin. Hoax dan informasi palsu disebarin, padangan agama yang ngaco menolak vaksin diviralkan, membius rakyat yang memang malas mikir.

Yang paling menyebalkan mereka bawa-bawa alasan HAM untuk menolak vaksin. Ini mah namanya bangke-murangke.

Imunitas kelompok atau herd immunity akan terbentuk jika minimal 70% warga divaksin. Kalau jumlahnya di bawah itu, bisa dikatakan proses vaksinasi ini kurang berhasil.

Jadi mereka yang menolak vaksin bukan saja berisiko pada dirinya sendiri, kelakuannya juga menyusahkan orang lain. Bahkan dalam skala besar menyusahkan negara ini. Makanya wajar sih kalau proses vaksinasi ini harus dipaksa. Kalau perlu mereka yang menolak dihukum.

Misalnya diancam hukuman kerangkeng satu sel bareng Sumanto. Atau kalau seandainya yang menolak ini kadrun, ya dia disuruh aja dihukum disuruh memandangi fotonya Abu Janda selama empat jam sambil disetelin videonya Denny Siregar. Pasti mereka kapok.

Tapi sebetulnya sih tujuan mereka menolak vaksin ini apa? Kalau kita membaca peta besarnya tadi, negara yang gagal vaksinasi Covid-19 ini bisa dipastikan akan terjerembab dalam kubangan masalah.

Kesehatan memburuk. Dikucilkan negara lain. Ditolak barang-barang produksinya oleh negara lain. Akibatnya bisa jatuh juga jadi negara gagal.

Jadi sebetulnya gerakan menolak vaksin adalah langkah mendorong Indonesia jatuh ke dalam jurang.

Apakah kita mau hidup dalam jurang kerusakan? Kita, lu aja kale… gua kan enggak.

Terus kelompok mana yang diuntungkan kalau negara ini ancur-ancuran? Ya kelompok atau gerombolan haus kekuasaan yang gak mungkin eksis dalam suasana normal. Mereka butuh kondisi chaos untuk menguasai Indonesia. Mereka butuh tumbal banyak darah dan nyawa. Semakin chaos semakin besar peluang mereka.

Dan kita yang akan jadi korban.

Jadi di mata saya nih, para pemuka agama yang masih teriak-teriak menolak vaksin. Mereka adalah racun yang harus kita hindari atau harus kita jauhi.

Para politisi yang menolak vaksinasi ini, mereka adalah benalu yang cari popularitas murahan di tengah isu vaksin ini. Gak usah dipedulikan.

Sayangnya mungkin, karena ketololan banyak juga rakyat kita ikut-ikutan ogah divaksin atau ikut-ikutan nolak. Bahkan sempat ada tagar #TolakVaksinSinovac di Twitter kemarin. Mungkin ya karena Sinovac berasal dari China. Kalau vaksinnya berasal sari Uzbek mungkin mereka mau kali. Kita gak tahu.

Padahal, mau dari mana kek itu vaksin, sepanjang dia efektif dan terbukti manjur, kita gak peduli. Kenapa? Karena kita penting untuk terus sehat. Indonesia penting untuk sehat, penduduknya sehat, ekonomi sehat. Pikiran dan mental kita juga harus sehat. Syukur-syukur kantong kita juga sehat wal afiat, amin.

Jadi kita ini harus positif memandang vaksin ini. Presiden Jokowi sudah bekerja keras dan maksimal menghalau virus Covid-19. Sebagai rakyat, kita bisa membantunya. Caranya cukup dengan tetap mempertahankan rasionalitas kita. Gak usah kemakan hoax, apalagi dari gerombolan yang lebih suka melihat negeri ini hancur dan rusak.

Saya ingat kisah seorang ibu yang bertanya kepada dokter tentang vaksinasi ini. Katanya gini, “Dokter, apakah keluarga saya semuanya harus divaksin?”

Terus apa jawaban dokter? “Oh, ya gak harus semuanya, Bu. Cukup yang divaksin itu yang kira-kira ibu ingin hidup lebih lama aja. Kalau mau cepet mati ya gak usah divaksin.”

 

Komentar