HALO, KOMNAS HAM, KALAU BINGUNG PEGANGAN…

Oleh: Denny Siregar

Sekali lagi, orang-orang FPI berbohong kepada publik. Bohong memang sudah jadi kebiasaan orang-orang FPI. Gak Imam Besarnya, si Rizieq, yang bohong masalah chat seksnya, gak sekretarisnya si Haikal Hassan yang bohong sudah mimpi ketemu Rasulullah, apalagi Munarman – si penyiram teh dari goa hantu. Mereka pembohong semua. Anehnya, banyak yang percaya kepada mereka bahkan rela mati untuk melindungi mereka.

Temuan terbaru dari Komnas HAM yang diumumkan beberapa hari lalu, jelas-jelas membuka tabir kalau Laskar FPI yang mati ditembak itu bukan karena disiksa polisi. Mereka memang sengaja menunggu polisi mendekat da punya niat jahat. Benar saja, ketika rombongan polisi yang memang bertugas memantau pergerakan Rizieq itu mendekat, Laskar FPI itu langsung menyerang dan akhirnya terjadilah tembak-menembak di antara mereka.

Eh, tembak-menembak? Bukannya sebelumnya si Munarman bilang kalau mustahil para Laskar FPI itu membawa senjata api?

Ya itu tadi, saya bilang kalau orang-orang FPI itu pembohong semua. Mereka selalu bicara seolah-olah mereka gak berdosa, padahal jahatnya luar biasa. Pakaiannya aja yang berwarna putih, dalam hatinya busuk gak kira-kira. Para Laskar itu jelas-jelas ingin membunuh anggota polisi dengan mencoba menjebak mereka, tetapi untungnya anggota polisi yang bertugas sigap dan membela diri, kalau tidak mereka yang mati.

Temuan Komnas HAM yang dipublikasikan menunjukkan ada proyektil dan selongsong peluru yang berasal dari senjata rakitan. Siapa lagi yang pakai senjata rakitan, kalau bukan Laskar FPI yang mati itu? Kan gak mungkin polisi yang pakai senjata rakitan?

Lagian kalau masalah tembak-menembak, tentu polisi jauh lebih terlatih daripada Laskar FPI yang mungkin baru sekali itu pegang senjata api. Mereka gak pernah berlatih serius, mungkin karena harga peluru mahal jadi sayang buat latihan, wong makan aja kadang mereka susah boro-boro mau hambur-hamburin peluru.

Akhirnya dua orang Laskar pun mati konyol di tempat. Kenapa saya bilang mati konyol? Karena mereka gak pakai perhitungan, yang dilawan tembak-menembak itu polisi yang setiap hari latihan pakai senjata. Bedakan antara berani dan mati konyol. Berani itu pakai perhitungan, kalau mati konyol itu, udah tahu gak mampu tapi sok jadi jawara.

Begitu juga ketika akhirnya empat orang dari mereka ditangkap dan mau dibawa ke Polda oleh polisi. Polisi memang tidak bawa borgol pada malam itu, karena mereka memang bukan tugas penangkapan hanya pemantauan. Jadi dikira polisi, empat Laskar FPI itu sudah dapat shock therapy dengan matinya dua kawan mereka.

Eh, ternyata empat orang Laskar itu bukannya menyerah, malah makin konyol dengan menyerang anggota polisi yang ada di dalam mobil. Mereka mencekik, memukul, bahkan mau merebut senjata polisi. Ya akhirnya bam! bam! bam! bam! Laskar FPI yang tersisa itu langsung dihabisi. Polisi membela diri dan pada saat pertarungan jarak dekat seperti itu, seharusnya apa yang dilakukan oleh polisi sah adanya.

Tapi Komnas HAM malah berfikir berbeda. Mereka anggap polisi melanggar HAM karena membunuh empat orang yang tidak bersenjata dengan tembakan-tembakan. Heran saya juga, bagaimana bisa polisi dibilang melanggar HAM kalau mereka membela diri? Kalau saya ada di posisi yang sama dengan polisi, terjepit, dan teman terancam nyawanya, saya pasti akan tembak mereka yang mengancam nyawa. Apalagi para Laskar itu mau merebut senjata teman saya yang mereka pukuli. Kalau mereka berhasil merebut senjata, wah nyawa saya yang terancam. Mending dia atau saya yang mati saat itu juga.

Komnas HAM pasti gak pernah berfikir begitu. Apalagi mereka hanya menyimpulkan sesuatu berdasarkan nonton video doang dan dengar cerita-cerita, tidak pernah merasakan bagaimana kerasnya situasi di lapangan. Ini mungkin jadi pelajaran ya buat pemerintah. Siapapun nanti yang terpilih menjadi anggota Komnas HAM, secara bergilir biar mereka ikut patroli sama polisi ke daerah-daerah berbahaya yang orangnya ganas-ganas dan menyerang. Taruhan, mereka pasti kencing-kencing di celana, biar gak asal ribut HAM terus, apalagi dalam situasi kill or be killed.

Ajak juga itu si Kontras sama Amnesty International, biar gak cuma nyocot tanpa solusi. Diajak rekonstruksi gak mau, tapi ngomong di luar kayak yang paling tahu.

Untung saja kesimpulan Komnas HAM tidak menjadi rekomendasi hukum apapun, selain cuma pandangan dari sudut yang berbeda saja. Tetap saja, pengadilan yang akan menentukan semuanya, apakah polisi benar atau salah dalam mengambil tindakan tewasnya enam orang Laskar FPI itu.

Dan seandainya pun, akhirnya pengadilan nanti dengan pandangan mereka yang terbatas, memutuskan anggota polisi yang bertugas bersalah karena lalai dalam tugas, saya akan tetap mendukung mereka karena buat saya mereka sudah bertugas dengan benar.

Saya harus angkat secangkir kopi untuk para anggota polisi yang sudah menembak mati para Laskar FPI itu. Buat saya, nyawa kalian jauh lebih berharga daripada enam orang Laskar yang mati sia-sia. Dan kalian punya hak mempertahankannya meski orang menuduh kalian berbuat semena-mena.

Untuk negara, risiko apapun harus ditempuh meski orang tidak selalu mengapresiasi apa yang kalian lakukan. Salam hormat untuk anggota polisi kita yang sudah rela bertaruh nyawa supaya negeri kita tetap aman dari gerombolan preman yang berjubah agama.

Komentar