MEREKA BUKAN MATI SYAHID TAPI MATI JAHILIYAH

Rizieq Shihab memang baru saja dinyatakan sebagai tersangka pelanggaran kerumunan, dengan dijerat pasal hasutan dan melawan petugas. Dan Polri menegaskan akan melakukan penangkapan.

Tapi masalahnya bukan berarti selesai. Karena Rizieq dan pendukungnya belakangan ini gencar menyebarkan propaganda bahwa mereka adalah pihak yang cinta damai, tapi dibantai oleh aparat yang zalim. Mereka menyebarkan framing bahwa tewasnya enam anggota FPI di jalan tol adalah pembantaian. Enam anggota FPI tersebut menurut versi FPI tidak membawa senjata api dan senjata tajam, tapi didor oleh polisi.

Lalu enam anggota FPI yang tewas tadi dipuja-puja sebagai mati syahid, tubuhnya harum, dan seterusnya. Glorifikasi sebagai syuhada ini sebenarnya sering digunakan juga oleh para pendukung teroris yang ditembak mati oleh Densus 88.

Tak ketinggalan, Ustad Abdul Somad juga berkomentar terkait tewasnya enam anggota FPI tadi. Dia memvonis polisi yang membunuh enam anggota FPI bakal masuk neraka jahanam.

Propaganda FPI semacam ini tujuannya untuk membuat masyarakat tidak lagi percaya terhadap keterangan polisi yang menyatakan, bahwa penembakan polisi terhadap anggota FPI itu karena faktor pembelaan diri. Polisi diserang oleh laskar FPI yang bawa senpi dan sajam.

Sampai saat ini, kita harus menunggu hasil penyelidikan dan investigasi terhadap kasus ini.

Tapi menurut saya sih, polisi tak akan main tembak begitu saja terhadap anggota FPI kalau benar-benar tidak mengancam dan membahayakan jiwanya. Ini mengingat rekam jejak polisi sendiri yang sebelumnya tak pernah membunuh anggota FPI. Baru kemarin di jalan tol itu. Dan kalau yang terjadi memang seperti yang dikatakan polisi, bahwa polisilah yang duluan diserang oleh anggota FPI dengan senjata, maka alasan Polri meletuskan tembakan itu sah.

Di sini saya ingin mengutip pernyataan Direktur Setara Institute, Hendardi, yang bilang begini, “Jika betul bahwa senjata-senjata yang ditunjukkan Kapolda Metro Jaya dan Pangdam Jaya adalah senjata milik anggota FPI, maka pembelaan Polri atas jiwa anggotanya yang terancam bisa diterima.”

Tapi sekali lagi, kita tunggu hasil investigasi tentang kasus ini.

Namun lepas dari semua itu, propaganda FPI yang digaungkan oleh Munarman cs haruslah kita lawan, haruslah kita tolak, karena isinya penuh kebohongan dan penyesatan opini publik.

Misalnya dikatakan, FPI cinta damai? Omong kosong. Rekam jejak FPI justru penuh dengan kekerasan dan kebencian. FPI gak pernah bersenjata? Helloo… Banyak sekali foto menunjukkan betapa bangganya anggota FPI pamer berbagai senjata miliknya.

Belum lagi fakta bahwa jaringan terorisme di Indonesia selama ini banyak yang berafiliasi dengan FPI. Warga Ahmadiyah pernah dibunuh dan dibantai oleh orang FPI. Selain itu, Rizieq dan FPI menyatakan mendukung ISIS. Rizieq bahkan memakai gaya ISIS, menebar ancaman penggal kepala.

Dalam salah satu video, Rizieq menghujat pemerintahan Jokowi sebagai zalim terhadap umat Islam, dan ia mengancam penggal kepala terhadap aparat TNI dan Polri, sebagaimana polisi dan tentara dipenggal kepalanya di Suriah dan Irak.

Selain itu, propaganda FPI yang memuja anggotanya yang tewas sebagai syuhada, sebagai mujahid yang mati syahid, ini juga menyesatkan. Vonis neraka jahanam dari Ustad Abdul Somad terhadap polisi yang menembak laskar FPI juga sesungguhnya itu narasi yang sangat ngawur, karena menggunakan dalil secara serampangan.

Sejatinya kalau menurut Islam, orang yang menyerang atau melawan aparat pemerintah yang sah dengan senjata itu disebut sebagai pemberontak atau bughat, yang arti harfiahnya: mereka yang melampaui batas. Dan bughat dalam perspektif fikih adalah haram, hukumnya sah untuk diperangi.

Ini karena menurut fikih, ulil amri atau penguasa yang sah itu wajib ditaati. Ketaatan terhadap ulil amri ini asalkan tidak memerintahkan pada kemaksiatan. Jadi selama tidak memerintahkan kemaksiatan ulil amri atau penguasa yang sah wajib ditaati. Dan bughat itu justru membangkang, melawan dengan kekerasan, dengan senjata, terhadap penguasa yang sah tersebut.

Apa sih kriteria bughat? Kitab-kitab fikih yang banyak dikaji di pesantren, misalnya Kitab Al-Iqna’ menyebutkan setidaknya tiga syarat (tiga kriteria):

pertama mereka punya kekuatan untuk melancarkan pemberontakan, perlawanan, entah itu dalam bentuk senjata, massa, logistik, jaringan dan seterusnya.

Kedua, mereka nyata-nyata membangkang dan menyatakan permusuhan, pemberontakan, hujatan dan kebencian pada pemerintahan yang sah.

Ketiga, perlawanan tersebut didasarkan pada tafsir atau narasi tertentu untuk membenarkan tindakannya. Misalnya dengan bilang bahwa pemerintah zalim, represif, membantai umat Islam, dst. Narasi semacam ini sih memang jelas fitnah dan bohong, tapi mereka sebarkan terus agar rakyat mendukung tindakannya untuk melakukan pemberontakan, sebagai bughat tadi.

Jadi intinya, menyerang penguasa yang sah, yang disebut bughat itu, itu sesuatu yang haram dan sah untuk diperangi balik oleh sang penguasa

Lantas, bagaimana kalau si bughat, orang yang menyerang aparat pemerintahan yang sah tersebut mati ditembak? Akankah ia menjadi mujahid yang mati syahid seperti propaganda FPI?

Tidak sama sekali. Penyerang pemerintah yang sah itu kalau diperangi dan mati, ia bukanlah syahid, tapi mati dalam keadaan jahiliyah. Karena orang ini menentang perintah Allah agar menaati ulil amri, menaati penguasa yang sah.

Ini sesuai dengan bunyi hadits:

“Barang siapa yang melepaskan tangannya dari ketaatan pada pemimpin, maka ia pasti bertemu Allah pada hari kiamat dengan tanpa hujah atau argumen yang membelanya. Barang siapa yang mati dalam keadaan tidak ada baiat di lehernya (maksudnya tidak ada ketaatan terhadap sang pemimpin yang sah tadi), maka ia mati dengan cara mati jahiliyah.” (HR. Muslim no. 1851).

Jadi penyerang aparat itu bukan mati syahid, tapi mati sangit. Karena ia mati secara jahiliyah. Yang dimaksud mati jahiliyah adalah mati dalam keadaan sesat dan salah jalan, sebagaimana keadaan orang-orang jahiliyah.

Lantas bagaimana dengan aparat yang mempertahankan diri dari serangan bughat dan akhirnya dia membunuh si bughat itu? Apakah ia berarti masuk neraka jahanam seperti kata Ustad Abdul Somad? O, tidak. Ia justru menunaikan perintah Allah agar taat terhadap ulil amri.

Dengan begitu, vonis UAS bahwa mereka akan masuk neraka jahanam ya jelas-jelas ngawurlah. Lagian UAS ini sok tahu tentang siapa yang akan masuk neraka dan surga. Doanya untuk Pilkada saja gak manjur, kok berani-beraninya playing God, memvonis nasib orang di akhirat.

Komentar