ENAM ORANG MATI DEMI EGO SEORANG RIZIEQ!

Kita selalu berduka jika ada rakyat yang wafat karena ulah teroris. Mereka adalah korban kebiadaban. Kita juga berduka ketika enam orang pengikut Rizieq mati ditembak polisi. Bukan karena kematiannya yang membuat kita berduka. Tetapi cara kematian yang sia-sia, yang bikin kita miris.

Kita tahu, kenapa mereka mati. Para pengawal itu, berusaha menghalangi mobil polisi yang sedang bertugas. Dari bocoran pembicaraan via HT, kita tahu, mereka memang diperintahkan untuk menghalangi mobil polisi di jalan tol Cikampek.

Bukan hanya menghalangi. Menurut keterangan, mereka berusaha menabrak kendaraan polisi itu, lalu menyerang petugas dengan senjata. Penyerangan kepada petugas, di negara mana pun, pasti akan ditindak secara maksimal. Itu sudah menjadi protap seluruh kepolisian di seluruh dunia.

Jadi kalau ada enam orang penyerang itu mati kemarin, itu hanya konsekuensi logis dari ulahnya sendiri.

Kenapa mereka menghalangi petugas? Karena mereka hendak melindungi Rizieq.

Kita tahu polisi sudah dua kali melayangkan surat panggilan kepada Rizieq, karena dugaan pelanggaran UU Karantina Kesehatan. Rizieq menggelar resepsi pernikahan anaknya secara besar-besaran di tengah pandemi.

Saat polisi mau menyampaikan surat pemanggilan, mereka dihadang oleh gerombolan Rizieq. Bahkan gerombolan itu mengusir polisi dari Petamburan. Saya kadang bingung, apa sih yang mereka bela sampai segitu jumawanya terhadap petugas keamanan?

Apakah mereka sedang membela agama? Lho, kan masalah Rizieq sekarang karena ulahnya menggelar pesta pernikahan anaknya? Jadi ini masalah pribadinya Rizieq, gak ada hubungannya sama agama.

Sesimpel itu menurut saya.

Rizieq ini memang kalau bicara selalu menyentuh hal-hal besar. Sampai soal surga-neraka. Sampai soal Tuhan dan seluruh isi dunia.

Tapi ternyata, ia selalu kesandung dengan masalah-masalah kecil. Masalah chat mesumlah. Ia juga pernah menolak majalah porno koleksinya jadi barang bukti di pengadilan dalam kasus UU Pornografi. Kini ia tersandung lagi dengan masalah pesta pernikahan anaknya yang dilaksanakan di tengah pandemi.

Urusannya dengan polisi, selalu berputar-putar dengan persoalan pribadinya saja. Tapi anehnya, urusan-urusan pribadi seperti ini ditempeli dengan slogan agama. Jadi seolah-olah mereka atau para pembelanya membela Rizieq, tapi berasanya membela agama. Betapa menyedihkan kondisi ini.

Saya sih, merasa bangsa ini sudah capek diributin karena urusan-urusan pribadi Rizieq yang seperti itu. Sebagai umat Islam, saya pantas bersedih, jika membela agama dipersepsikan hanya sebatas membela urusan resepsi pernikahan anaknya Rizieq doang.

Tapi begitulah cara mereka membangun gerakan. Yang pertama dilakukan adalah menciptakan simbol berupa tokoh yang dipersepsikan seperti setengah dewa. Pencitraan tokoh ini harus dibuat sedemikian rupa seolah-olah tokoh ini bukan manusia biasa.

Kenapa mereka harus membangun mitos terhadap seorang yang ditokohkan itu dan itu penting bagi mereka? Karena dengan mitos dan simbolisasi ketokohan, daya kritis pengikutnya akhirnya terpangkas. Logika pengikutnya dikerdilkan sedemikian rupa. Mereka dipaksa percaya saja pada apapun ucapan tokohnya ini.

Pengikut yang kehilangan akal sehat dan pikiran kritis, sangat dibutuhkan oleh gerombolan-gerombolan seperti mereka ini. Sebab ujungnya mereka diminta untuk berani mati demi tokoh setengah dewa yang dibangunnya itu. Begitulah cara para teroris biasanya mencuci otak korbannya.

Maksud korban di sini adalah mereka yang disuruh berkorban demi kepentingan kelompok itu.

Dalam kasus Rizieq misalnya, ia selalu dicitrakan memiliki garis keturunan Rasulullah. Terlepas benar atau tidak nasab itu, itu gak penting. Tapi itu terus-menerus dikomunikasikan. Glorifikasi garis keturunan Rasulullah ini membuat sebagian umat Islam agak sungkan menentang Rizieq, karena kecintaan mereka pada rasul. Betapapun memuakkan perilakunya Rizieq itu.

Ia juga disematkan status sebagai Imam Besar. Seolah-olah pemimpin dari semua umat.

Kemarin misalnya, di seluruh sudut kota disebarkan baliho Rizieq dengan segala macam gaya. Bahkan di bawah baliho itu, pengikutnya melakukan semacam upacara. Kemarin kayak menyembah baliho gitu deh.

Plesetan adzan jadi ajakan jihad juga dilakukan di bawah balihonya Rizieq.

Selain itu kita tentu pernah mendengar cerita-cerita konyol tentang Rizieq dari pengikutnya. Saya pernah baca di sebuah spanduk bertuliskan, ‘Jika sehelai rambut Rizieq jatuh, akan berurusan dengan Umat Islam’. Sehelai…

Bayangin. Untuk membangun simbol itu mereka bahkan harus mengancam profesi tukang cukur?

Boleh dibilang hampir semua gerombolan radikal menggunakan pola-pola seperti itu. Membangun ketokohan dengan segala mitos yang mengelilingi.

Jadi seburuk apapun perlakuan Rizieq, seburuk apapun omongannya, sekacau apapun statementnya, pengikutnya yang sudah kehilangan akal sehat akan selalu membelanya. Bahkan jika itu hanya menyangkut urusan resepsi pernikahan anaknya saja.

Inilah yang sekarang kita sedihkan. Enam orang itu memilih cara mati yang sia-sia.

Mereka gak mati membela agama, mereka tidak mati membela kepentingan masyarakat, mereka tidak mati untuk membela sebuah hal yang besar sebagai sebuah bentuk perjuangan.

Tapi mereka mati cuma gara-gara Rizieq mau dipanggil karena melanggar Undang-undang Karantina Kesehatan, disebabkan karena dia menggelar pesta pernikahan anaknya. Bayangin, untuk sebuah pesta pernikahan, enam orang itu rela mati. Betapa sudah terbonsai isi kepalanya.

Mudah-mudahan kita bukan orang-orang yang gampang dibonsai isi kepalanya, karena kita akan terus berpikir.

Komentar