Rizieq Merusak Citra Habib

Oleh: Akhmad Sahal

Di kalangan umat Islam Indonesia, tidak sedikit orang yang menganggap bahwa mengecam Rizieq Shihab adalah perbuatan tercela, bahkan dosa, karena dia adalah seorang habib, keturunan Nabi. Tak peduli apakah Rizieq sendiri perangainya buruk, penebar kebencian, memprovokasi, mengumbar makian kasar dan jorok, memecah belah, hobi menghujat pemerintah, menistakan agama lain, bahkan terakhir kemarin menebar ancaman penggal kepala.

Semua itu gak dipedulikan. Tetap saja banyak yang menganggap Rizieq Shihab adalah sosok yang mulia semata-mata karena nasabnya. Paling banter, orang merasa gak sreg dan gak nyaman dengan perilaku buruknya. Dan menyatakan tidak mau mengikutinya. Tapi pantang bagi mereka untuk mengkritik, apalagi mengecam Rizieq Shihab. Karena menurut mereka, Rizieq adalah habib yang harus dihormati. Titik.

Pandangan semacam ini menurut saya adalah sikap yang salah kaprah dan keblinger dalam memahami apa arti menghormati habaib atau habib.

Izinkan saya memberikan penjelasan sedikit. Habib atau bentuk jamaknya habaib, adalah gelar penghormatan dari masyarakat untuk mereka yang dipercaya memiliki garis keturunan (nasab) yang bersambung hingga Rasulullah. Mengapa para habib ini dihormati? Prof. Quraisy Shihab menyatakan bahwa kebiasaan menghormati habaib itu karena selama ini, mereka, para keturunan Nabi itu dicirikan oleh tiga hal: pertama nasabnya memang keturunan Nabi. Yang kedua berilmu tinggi. Dan ketiga berakhlak luhur dan mulia.

Dan penghormatan tersebut menurut Pak Quraisy sifatnya resiprokal, timbal balik. Karena habib itu artinya bukan hanya orang yang disayangi atau dicintai, tapi juga orang yang menyayangi atau mencintai masyarakat.

Jadi, dari segi nasab, habaib atau para habib itu jelas punya nasab yang sangat terhormat. Dan umat Islam wajib memuliakan dan menghormati nasab mereka.

Meskipun demikian, harus segera ditambahkan, bahwa mereka juga manusia biasa yang memiliki berbagai kelebihan dan tentu saja kekurangan. Mereka berbeda dari Nabi yang punya sifat ma’shum (infallible), yakni dijamin oleh Allah terjaga dari kesalahan dan dosa. Para habib tidak ma’shum.  Nasab mereka yang sampai kepada Nabi Muhammad SAW tidak membebaskannya dari kemungkinan berbuat dosa dan salah. Hubungan darah tidak selalu menjamin kesamaan hubungan sifat dan tabiat dengan leluhurnya.

Selain itu, harus kita ingat ya bahwa prinsip fundamental Islam adalah egalitarianism, yakni setiap manusia adalah setara, sama-sama Bani Adam, keturunan Nabi juga, yakni Nabi Adam. Dan Bani Adam adalah keturunan yang mulia di mata Allah. Di Quran dinyatakan, Walaqad karramna bani adama, sesungguhnya Kami (Allah) sudah memuliakan bani adam.

Implikasi dari prinsip egalitarianisme semacam ini adalah: bahwa semua orang setara kedudukannya di hadapan Allah. Yang membedakan adalah amal soleh dan akhlaknya. Yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Siapa pun dia. Baik dari keturunan Nabi maupun keturunan orang kafir.

Prinsip egalitarianism Islam ini dicontohkan oleh Nabi sendiri. Nabi pernah mengatakan bahwa andai putriku Fatimah mencuri, aku akan potong tangannya.

Atribut sebagai keturunan Nabi tidak menjamin keselamatan di akhirat. Pak Quraisy Shihab pernah mengatakan, kalau ada keturunan Nabi yang durhaka, ia tak wajar dinamai keturunan Nabi. Ini mengacu pada ayat Al-Quran yang menyatakan, Allah menolak doa Nabi Nuh yang memohon agar puteranya diselamatkan dari kesesatan.

Kata Allah, “Sesungguhnya ia (anakmu yang durhaka) bukanlah keluargamu, karena sesungguhnya perilakunya begitu buruk”. (Q.S. Huud; 46).

Yang ingin saya katakan, memuliakan habaib yang berilmu tinggi dan berakhlak luhur adalah perbuatan terpuji. Apalagi kalau pemuliaan dzurriyah Nabi atau keturunan Nabi tersebut diniatkan sebagai cara untuk menambah cinta kita, mahabbah kita kepada Rasulullah SAW. Dalam kultur NU, kental sekali tradisi memuliakan keturunan Nabi dengan kerangka mahabbah atau cinta Nabi semacam ini.

Namun kita mesti waspada juga. Janganlah pemuliaan dan penghomatan terhadap keturunan Nabi membutakan kita dari pinsip Islam yang saya nyatakan barusan tadi, yaitu bahwa keturunan Nabi tidak ma’shum, dan Islam itu egaliter. Dua prinsip ini jangan diacuhkan.

Ini perlu saya nyatakan, karena banyak dari masyarakat awam yang melontarkan pujian dan penghormatan kepada orang yang digelari habib, padahal ia akhlaknya buruk, tidak berilmu, bergelimang dalam dosa, dan menyimpang terlalu jauh dari ajaran mulia kakeknya, yaitu Rasulullah SAW.

Bahkan masyarakat awam ini terkesan memaklumi dan menerima begitu saja kalau ada habib yang melakukan dosa dan kesalahan. Karena mereka percaya, kelak Rasul pasti akan memberikan syafa’at (pertolongan) kepada keturunan beliau. Di sini mereka memahami konsep tathhir atau penyucian keturunan Nabi dengan cara begini: Gak apa-apa deh kalau ada habib berdosa, toh nanti di ujung hayatnya dia akan disucikan dari dosa tersebut oleh kakek moyangnya.

Pandangan semacam ini jelas keblinger dan berbahaya.  Ini justru mengecoh diri sendiri dan justru bisa merusak hati para habib yang mungkin menjadikan mereka menjadi angkuh dan sombong akan kemuliaan nasabnya. Padahal, anggapan yang mengatakan bahwa meninggalkan ketaatan kepada Allah atau melakukan aneka kemaksiatan itu tidak membahayakan seseorang semata-mata karena dia nasabnya mulia, pandangan semacam ini justru dusta besar atas nama Allah.

Karena itu, wujud penghormatan kita kepada habaib haruslah kita artikan secara cerdas dan kritis. Jangan sampai terjatuh pada kultus dan fanatisme buta kepada habib. Kiranya tepat sekali yang dikatakan Buya Syafii Maarif beberapa waktu lalu, mendewa-dewakan mereka yang mengaku keturunan Nabi adalah perbudakan spiritual. Ini justru harus kita hindari.

Sejatinya, masyarakat muslim Indonesia cukup arif kok dalam berinteraksi dengan para habib. Mereka sejak dulu menghormati habaib yang betul-betul memancarkan akhlak Nabi. Sejarah Islam di negeri ini banyak diwarnai cerita keharuman habaib yang dikenal punya perilaku yang lembut, tulus, ikhlas, serta dilandasi ilmu yang benar dan akhlak yang mulia.

Ini seperti pernah ditulis oleh Abdillah Toha. Misalnya, sebelum dan pascakemerdekaan RI, ada tokoh terkenal Habib Ali Alhabsyi Kwitang, dengan majelis taklim yang bertahan selama lebih dari satu abad sampai sekarang. Habib Ali Alhabsyi tidak pernah mengajarkan ideologi kebencian dan kekerasan. Sebaliknya, beliau mengembangkan tradisi kakek-kakeknya dari  keluarga Ahlul Bait, dari keluarga keturunan Nabi, yang intinya menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, menghormati hak-hak setiap manusia tanpa membedakan mereka berdasarkan latar belakang status sosial, nasab dan seterusnya.

Pada masa kini pun banyak habib sejati yang luhur akhlaknya dan tinggi ilmunya, bahkan sebagian mereka tidak mau memasang gelar habib di depan namanya. Ulama seperti Prof. Quraisy Shihab, Habib Luthfi bin Yahya Pekalongan, Habib Sagaf Aljufri Palu, dua bersaudara Habib Ahmad dan Novel Jindan, Habib Umar bin Hafidz, dll adalah contoh-contohnya.

Intinya, masyarakat muslim dengan sendirinya akan menyayangi dan mencintai habaib yang mencintai dan menyayangi mereka. Ini sesuai dengan makna sejati dari habib, yakni orang yang dicintai sekaligus mencintai. Dan dari situlah muncul sikap hormat terhadap mereka.

Jadi, bila ada dari habaib yang nyata-nyata tidak sejalan dengan akhlak Rasulullah, ia, sang habib itu justru harus diingatkan, dikritik, dikecam. Jangan justru didiamkan. Jangan sampai kita diam melihat perilaku buruk habib yang mencemari kemuliaan garis keturunan Nabi dengan menampilkan perilaku-perilaku yang buruk.

Habib yang berangasan seperti Rizieq Shihab justru ibarat nila setitik yang merusak habaib sebelanga. Dan sikap berangasan Rizieq semacam itu harus dikecam dan ditentang. Dengan cara beginilah kita justru menjaga kehormatan marwah habib dan habaib.

 

Komentar