JANGAN DIAMKAN ANCAMAN SADIS RIZIEQ!

Oleh: Akhmad Sahal

Kalau memang pemerintahan Jokowi serius punya komitmen memberantas radikalisme dan terorisme, sekaranglah saatnya untuk membuktikan. Rizieq Shihab baru-baru ini menebar ancaman sadis atas nama Islam, seperti terlihat dalam video yang kita saksikan barusan.

Bayangkan, dia mengancam, kalau orang-orang yang dia sebut sebagai penghina Islam, penghina Nabi, penghina ulama, tidak diproses, dia akan menjadikan Indonesia seperti Perancis yang memenggal kepala guru sekolah yang dianggap menghina Rasul.

Ini bukan pertama kali Rizieq menebar ancaman penggal kepala. Sebelum dia kabur ke Arab Saudi, dia pernah juga menyatakan mendukung ISIS. Baginya ISIS adalah sudaranya FPI. Rizieq bilang, kalau pemerintah zalim, maka ISIS perlu ada di Indonesia. Kalau tentara dan polisi zalim, maka tentara dan polisi bisa disembelih, katanya.

Ini jelas hasutan yang bengis, yang harus segera ditindak tegas. Saya setuju dengan Prof. Jimly Asshiddiqie yang meminta agar aparat penegak hukum untuk bergerak menindak Rizieq karena kasus ini. Ketua ICMI tersebut menyatakan dalam twitnya:

Ini contoh ceramah yang bersifat menantang dan berisi penuh kebencian dan permusuhan, yang bagi aparat pasti harus ditindak. Jika dibiarkan, provokasinya bisa meluas dan melebar. Hentikan ceramah seperti ini, apalagi mengatasnamakan dakwah, yang mestinya dengan hikmah dan mau’izhoh hasanah (wejangan yang baik).

Benar kata Prof. Jimly Asshiddiqie, seruan Rizieq untuk memenggal kepala sangat berbahaya kalau dibiarkan. Kenapa? Rizieq nyata-nyata mengeluarkan semacam licence to kill atas nama agama. Pengikutnya yang fanatik merasa punya lisensi untuk memenggal kepala orang yang mereka anggap menghina Islam. Dan mereka berbuat begitu seakan-akan sudah menjalankan ajaran Islam. Tentu saja menurut pemahaman mereka. Dengan begitu akan muncul algojo-algojo yang menjadi pengawal “fatwa penggal kepala” dari Rizieq tersebut. Ngeri saudara-saudara.

Yang kemudian muncul adalah kesan bahwa Islam membenarkan dan mensahkan kekejian, dengan dalih menghukum penghina Nabi, menghina Islam, menghina ulama. Tentu saja menurut versi mereka. Ini jelas merupakan paham Islam ekstrem yang kaku dan picik yang juga menjadi basis tindakan kaum radikal dan kaum teroris atas nama Islam.

Nah, kalau pandangan semacam ini dibiarkan menyebar luas di ruang-ruang publik, di pengajian, di medsos, dan lain-lain, lama-lama Islam ekstrem semacam ini berkembang menjadi paham yang mainstream, dianggap normal, dinormalkan, dianggap wajar. Sedangkan wajah Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang moderat menjadi tersingkir, terbenam. Normalisasi radikalisme dan terorisme ini sangat berbahaya.

Di sinilah kenapa langkah pemerintah untuk menindak penghasut kekerasan atas nama agama menjadi sangat penting.

Selama ini kesannya pemerintah berpikir seribu kali kalau menindak orang seperti Rizieq. Pemerintah kelihatannya masih beranggapan, kalau Rizieq cs dikerasin, khawatirnya mereka semakin membesar.

Pemerintah khawatir bahwa sikap yang dilakukan oleh Rizieq cs adalah provokasi yang disengaja, undangan agar pemerintah bersikap keras ke mereka. Kalau sudah begitu, mereka jadi punya alasan untuk membikin perlawanan yang lebih massif terhadap pemerintah, kalau perlu mereka berharap ada martir. Sehingga dengan begitu mereka bisa melancarkan upaya melawan pemerintah.

Tapi di sisi lain kalau tidak dikerasi seperti yang sekarang ini terjadi, kesannya pemerintah tanpa wibawa, gak punya marwah, lembek, dan takut terhadap Rizieq dan kelompoknya. Akibatnya, banyak warga masyarakat, termasuk pendukung Jokowi sendiri yang justru geregetan, khawatir dan takut dengan sikap pemerintah yang letoy semacam ini.

Rizieq selama ini ngelunjak karena ia bisa semena-mena tanpa diapa-apain. Ia menganggap diri sebagai sosok yang untouchable, di atas hukum, bahkan di atas negara.

Sudah saatnya pemerintah gak perlu berlarut-larut dalam sikap gamang semacam ini.

Memang perkara ini bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tapi juga tugas umat Islam. Umat Islam Indonesia sering menyebut diri sebagai umat yang moderat, wasathiyah. Nah, sudah saatnya hal itu bukan hanya dalam wacana, tapi harus dibuktikan.

Umat Islam jangan hanya bilang bahwa Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, tapi buktikan dengan bersama-sama mengutuk wajah Islam yang brutal dan penuh kekerasan. Islam wasathiyah jangan hanya sebatas retorika dan wacana. Tapi harus ditunjukkan dalam aksi nyata. Tolak dan kecam upaya sekelompok muslim yang mentasanamakan Islam tapi menghalalkan kekejian.

Langkah kongkretnya, misalnya, dengan kampanye publik untuk mengatakan TIDAK! terhadap wajah Islam yang brutal yang dibawa oleh Rizieq yang mengatasnamakan umat Islam.

Ini seperti yang ditwitkan oleh Mbak Alissa Wahid kemarin ya, kata Mbak Alisa:

Kalau ada ceramah yang mengatakan “jangan salahkan umat Islam kalau besok kepalanya dipenggal di jalan” itu #TidakAtasNamaSaya. Saya Muslim, & Menolak diatasnamakan untuk tindak kekejian seperti itu.

Saya bayangkan kalau mayoritas umat Islam Indonesia yang memang moderat ini ramai-ramai menolak hasutan ala Rizieq tadi, wah itu keren banget. Intinya, kalau ada eleman muslim yang menebar teror atas nama Islam, jangan diam seribu bahasa, jangan mungkir, jangan denial. Tapi tolak, kecam, kutuk.

Mengecam hasutan Rizieq bukanlah sikap anti Islam, bukan pula anti habaib, bukan anti habib. Tapi anti terhadap sosok yang menebar kebencian dan kekerasan atas nama Islam. Mengecam Rizieq saat ini adalah upaya untuk menjaga Islam yang rahmatan lil ‘alamin dari mereka yang mengaku menjadi pembelanya, tapi ternyata menampilkan wajah Islam yang brutal dan beringas.

Komentar