MAYBANK HARUS MEMPERTANGGUNGJAWABKAN DANA NASABAHNYA

oleh: Eko Kuntadhi

Gimana kalau tabungan anda di bank, yang tadinya ditujukan untuk masa depan, tetiba raib tak berbekas?

Sementara bank tempat anda membuka rekening kayaknya sih lepas tangan. Bahkan ketika mau meminta pertanggungjawaban pihak perbankan, anda diancam mau dituntut balik. Kayaknya anda seperti berhadapan dengan tembok besar. Lembaga yang punya budget untuk sewa pengacara mahal, tentu saja mereka punya daya juga untuk menjebloskan anda ke penjara.

Ini sih, namanya kiamat. Sudah jatuh, kecebur comberan. Eh, mau ditimpakan tangga dan pot bunga di atas kepala kita. Miris banget.

Nah kayak begitu yang dialami Winda Earl, seorang atlit e-sport. Ia membuka rekening koran di Maybank, Cabang Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Ibunya Floletta Lizzy Wiguna juga punya tabungan di bank tersebut. Menurut keterangan Winda, ya karena itu rekening koran, ia percaya saja pada laporan rekening yang tiap bulan dikirimkan kepadanya. Total dana yang ada di rekening Winda kira-kira ya Rp17 miliar. Sementara yang ada di rekening ibunya ada Rp5 miliar.

Tapi sial bagi Winda dan ibunya. Begitu dia mau cairkan uangnya, duitnya gak ada. Di rekening ibunya tinggal tersisa Rp17 juta. Sementara di rekening Winda yang tadinya Rp17 miliar tinggal Rp600 ribu.

Usut punya usut, ternyata kepala cabang Maybank Cipulir, berinisial A melakukan praktik bank di dalam bank. Jadi duitnya Winda itu sama dia diolah, dikelola dan diputar bukan lewat sistem dan mekanisme perbankan sebagaimana layaknya. Hingga akhirnya, ujung-ujungnya duitnya raib entah ke mana. Sementara, menurut pihak bank, mereka juga merasa kecolongan dengan kelakuan karyawannya tersebut, atau kepala cabangnya itu.

Si A ini nih, kepala cabang Maybank, sekarang mendekam di tahanan kejaksanaan. Ia sudah ditetapkan sebagai tersangka.

Yang agak miris menurut gua ya, justru sekarang opini agak diarahkan seperti memojokkan nasabah, memojokkan Winda dan keluarganya. Kemarin kita dengar pengacara Maybank Hotman Paris misalnya, kemarin bilang di depan wartawan, ia membuka peluang menggugat balik nasabah, bila nasabah melaporkan kasus Maybank ini ke polisi. Artinya yang jadi terlapor adalah Maybank.

Membaca berita kayak gini, sebagai konsumen perbankan, saya ngeri juga. Sudah duit ilang, eh, pas mau minta pertanggungjawaban bank malah diancam akan dituntut balik. Ini kan luar biasa.

Hotman Paris juga mengatakan bahwa buku tabungan dan ATM Winda ada di tangan tersangka. Padahal menurut yang biasanya, jenis tabungan yang dibuka Winda adalah rekening koran. Dan seperti biasanya di bank-bank lain, rekening koran ya gak ada buku tabungan, apalagi ATM.

Kayaknya, info soal buku tabungan berada di tangan tersangka itu, seolah-olah ya menurut gua, membangun opini bahwa ada indikasi nasabah terlibat membobol duitnya sendiri. Kayaknya gitu yang pengin dibangun tuh. Ini kesalahan nasabah. Padahal kan logikanya simple, ya gak usah dibobol, kalau emang itu duitnya. Ngapain susah-susah membobol duitnya sendiri? Kan aneh.

Pihak Maybank sendiri mengatakan akan menunggu sampai keputusan pengadilan yang bersifat tetap. Itu artinya dari pengadilan negeri, kalau kasusnya berlanjut ke pengadilan tinggi, kalau kasusnya berlanjut lagi ke kasasi MA, kalau berlanjut lagi sampai ke PK. Itu juga memakan waktu yang bertahun-tahun. Itu pun pengadilannya terhadap tersangka si A ini, karyawan bank, bukan terhadap institusi banknya.

Artinya, jika karyawan bank tadi diputuskan bersalah, terus kan Maybank karena gak ada keputusan apa-apa, jadi gak ada kewajiban untuk balikin duit? Itu kan pertanyaannya. Kayaknya ya belum tentu dibalikin. Karena apa? Maybank bukan tergugat.

Artinya, Winda dan ibunya cuma bisa ngarep aset tersangka yang disita. Itu juga kalau ada dan bisa dikembalikan kepada nasabah.

Kalau aset tersangka gak ada gimana? Ya kicep. Duit Rp22 miliar menguap begitu saja.

Sepertinya menurut gua kasus ini simple. Ada karyawan bank yang nakal. Memakai duit nasabah untuk kepentingan dirinya sendiri. Karyawan nakal itu sudah ditahan sama polisi.

Masalahnya, apakah karena kenakalan seorang kepala cabang, nasabah akan gigit jari jika duitnya ilang. Padahal duitnya yang ditabungkan atau yang disimpan di bank itu, kan karyawan nakal bisa bergerak, jika pengawasan dari banknya gak serius atau katakanlah berantakan. Jadi dia bisa menggunakan ruang-ruang abu-abu, sehingga bisa menjalankan kejahatannya.

Ok, kasus Maybank dan karyawan nakalnya kini sudah masuk pengadilan. Jadi itu masalah internal perbankannya. Masalahnya sejauh mana tanggung jawab bank terhadap dana nasabah? Kayaknya ini yang menjadi konsen kita.

Kita ini semua kan nasabah perbankan rata-rata. Kita menitipkan duit di bank karena kita percaya pada lembaga itu. Kita mempercayakan duit kita aman dikelola oleh mereka. Soal akhlak masing-masing karyawan bank, itu bukan urusan kita. Itu urusan manajemen bank. Yang kita tahu duit kita aman.

Jika soal ulah karyawan nakal di sebuah perbankan dan nasabah menjadi korban, betapa mengerikan kondisi ini buat kita. Jika bank beralasan menyerahkan kasusnya pada proses hukum, bagi saya itu artinya bank kayak lepas tangan terhadap kenakalan karyawannya. Udah dihukum, minta ganti sama dia. Padahal kenakalan sekali lagi bisa terjadi salah satunya juga karena problem pengawasan yang lemah.

Nah, jika karena lemahnya pengawasan, yang jadi korban adalah nasabahnya. Astagfirullah banget kan. Ngeri jadi nasabah kalau begini nasibnya. Masa nasib dana kita sangat ditentukan oleh akhlak satu-dua orang karyawan bank? Mestinya kan, keamanan dana kita dijamin oleh sistem. Oleh sebuah mekanisme yang mampu secara cepat mendeteksi apabila terjadi kekurangan atau kecurangan di internal bank tersebut.

Apalagi tersangkanya adalah kepala cabang kelasnya. Namanya kepala cabang, dia diberi kekuasaan oleh manajemen untuk melakukan banyak hal, terutama di cabang yang dia kuasai. Dan jangan salah, nasabah dengan duit Rp22 miliar ini bukan kayak nasabah model kita yang duitnya cuma secuil.

Kalau duit kita cuma secuil, mau buka tabungan ya kita kudu datang ke bank. Antri di depan teller. Nungguin berlama-lama. Sementara kalau duit anda segudang, bukan anda yang datang ke bank, pihak banknya yang datang ke anda. Nasabah jenis kayak gini mendapat layanan khusus.

Artinya, kalau belakangan disebar opini, kepala cabangnya bersahabat dengan ayahnya Winda, ya memang kayak gitu. Barangkali itu pelayanan. Kepala cabang sangat berkepentingan dengan nasabah yang duitnya gede, agar mereka nasabah ini tidak memindahkan dananya ke bank lain. Karena itu salah satu prestasi kepala cabang. Nah, jadi kalau hubungan kepala cabang dengan nasabah dekat, ya normallah udah pasti. Tidak harus dipersepsikan sebagai sebuah konspirasi.

Artinya gini, posisi A sebagai kepala cabang, ketika melakukan aktivitas berhadapan dengan nasabahnya, mau tidak mau, ia mewakili institusi perusahaannya. Ia bukan bertindak sebagai pribadi ketika berhadapan dengan nasabah. Dengan demikian, kalau dia menyimpang, ya mestinya sih banknya juga bertanggung jawab atas perilaku kenakalan karyawannya. Jangan sampai nasabah yang dikorbankan.

Sebagai bagian dari nasabah, kita, menurut gua, perlu tahu bagaimana kasus-kasus seperti ini diselesaikan. Agar jika persoalan sejenis ini menimpa kita, ada pelajaran penting yang bisa kita petik. Kita juga kayaknya perlu menuntut pemerintah, dalam hal ini OJK, untuk turut memberi perlindungan kepada para nasabah, kepada para konsumen perbankan, kepada para konsumen di lembaga-lembaga keuangan.

Bagi saya simple, kasus hukum harus terus berjalan. Antara bank dengan karyawannya. Tapi hak nasabah terhadap uangnya harus menjadi tanggung jawab institusi. Artinya biar bagaimanapun, harus ada kepastian bank mengembalikan dana nasabah yang digunakan secara nakal oleh karyawannya.

Sebab institusi perbankan mengandalkan kepercayaan. Tanpa kepercayaan, mana ada orang yang mau menitipkan duitnya, sekaligus menitipkan masa depannya di lembaga-lembaga seperti itu.

Ini penting untuk diselesaikan dan dijaminkan bahwa nasabah tidak dirugikan apabila ada salah seorang karyawan bank yang nakal. Bank harus bertanggung jawab, institusi keuangan harus bertanggung jawab.

Saya sih, cuma mengajak anda berpikir, kesimpulannya ya terserah anda. Terima kasih.

Komentar