MACRON, KARTUN NABI DAN MONSTER

Di Perancis, seorang guru dibunuh secara keji. Kepalanya dipenggal. Masalahnya karena ia menunjukkan gambar kartun Kanjeng Nabi Muhammad dari sebuah majalah Perancis yang isinya melecehkan sebetulnya.

Presiden Perancis Emmanuel Macron bereaksi atas kasus tersebut. Ia mengutuk pembunuhan bengis itu. Sayangnya Macron tidak mengkritik gambar kartun terbitan majalah Charlie Hebdo yang melecehkan simbol sakral umat muslim tersebut. Bahkan Macron dengan jelas menyebutkan, atas nama kebebasan, ia tidak akan menarik gambar kartun tersebut.

Reaksi Macron berbeda dengan Presiden Perancis sebelumnya Jacques Chirac. Ketika kartun dari majalah Charlie Hebdo itu terbit yang menimbulkan reaksi gelombang teror pada editor majalah tersebut, Presiden Chirac juga mengutuk serangan itu. Ia mengutuk aksi terorisme. Tapi ia, pada saat yang bersamaan juga menyebut penerbitan Charlie Hebdo itu sebagai provokasi terang-terangan yang mengobarkan kemarahan. Ia tidak membela Charlie Hebdo dengan alasan kebebasan seperti yang dilakukan Macron.

Beberapa negara berpenduduk muslim protes pada ucapan Macron. Pemerintah Indonesia termasuk yang memprotes kebijakan Perancis yang memberi ruang orang untuk melecehkan simbol sakral sebuah keyakinan. Seperti kartun di Charlie Hebdo itu.

Presiden Jokowi misalnya, mengecam aksi kekerasan yang terjadi di Perancis. Pada saat yang sama ia juga mengecam tindakan penghinaan terhadap agama Islam.

Kebebasan berekspresi yang menciderai kehormatan, kesucian, serta kesakralan nilai-nilai dan simbol agama, sama sekali tidak bisa dibenarkan dan harus dihentikan, begitu kata Presiden Jokowi.

Yang melakukan tindakan brutal di Perancis hingga memenggal guru itu, kita tahu adalah gerombolan Islam garis keras atau orang yang berpikirnya sangat radikal. Tapi harus dicatat mereka bukan ujug-ujug menjadi radikal. Apalagi bisa sampai membunuh orang.

Alasan orang menjadi radikal salah satunya karena mereka dicecoki informasi bahwa Islam sebagai agama sedang dihina, sedang dilecehkan, sedang dipinggirkan, sedang dijajah. Pokoknya secara psikologis mereka diposisikan sangat terpojok dan tertekan sebagai umat Islam.

Nah, dalam suasana beragama yang terpojok itulah, mereka ditawarkan jalan keluar yang dibutuhkan agama. Yaitu melawan dengan kekerasan. Terorisme ini cikal bakalnya adalah perasaan seperti itu. Bahkan mereka melawan dengan cara kekerasan yang paling musykil dilakukan oleh orang normal: menggorok leher. Kenapa? Karena dicekoki dendam.

Makanya semua kelompok radikal selalu mengkampanyekan bahwa agamanya sedang dipinggirkan. Dunia misalnya digambarkan sedang menindas Islam. Bahwa Islam sedang dihancurkan. Dan slogan-slogan sejenis seperti itu dikampanyekan oleh kelompok-kelompok radikal.

Cara seperti ini digunakan untuk menarik umat Islam, yang tadinya mungkin biasa-biasa saja, tetapi dikondisikan untuk berbuat kekerasan. Karena apa? Karena provokasi. Alasannya apalagi kalau bukan sedang membela agama.

Yang paling jago menggunakan jargon seperti ini adalah gerombolan garis keras. Semua kampanye ISIS, HTI, Ikhwanul Muslimin, JAD, itu bentuknya sama. Mereka berkampanye seperti itu, Islam sedang ditindas dan perlu dibela. Itu saja dasarnya. Gak jauh-jauh.

Bahkan mereka terbiasa menciptakan hoax untuk kampanyenya tersebut. Lihat saja isu-isu seperti penindasan muslim Uighur, Myanmar, dan lain-lain mereka kapitalisasi sedemikian rupa untuk menarik simpati. Tapi di Perancis kejadiannya nyata tentang pelecehan Kanjeng Nabi melalui gambar kartun. Kita tahulah, Nabi adalah salah satu simbol sakral umat Islam.

Nah, semakin fenomena pelecehan terhadap simbol-simbol agama itu ditampakkan dengan jelas, yang paling senang siapa? Ya gerombolan teroris dan radikal itu. Sebab di situlah kesempatan mereka terbuka untuk menarik simpati para pengikutnya.

Kita nih, yang berpikir toleran dan terbuka, bisa saja bicara pelecehan terhadap simbol Nabi ya gak harus direspon dengan keras. Tapi ingat, di luar kita ada potensi-potensi orang yang berpikir radikal, yang cara berpikirnya tidak sama dengan kita.

Terus siapa yang paling dirugikan kalau seandainya ini terus terjadi, ya masyarakat banyak. Seperti guru tadi atau jemaah gereja di Notre Dome, yang juga menjadi korban kebrutalan para teroris akibat kasus tersebut.

Jadi sekali lagi, siapa sebetulnya yang senang ketika ada seorang guru di Perancis menunjukkan kartun yang melecehkan Nabi Muhammad? Yang senang adalah kelompok garis keras itu.

Siapa yang senang ketika Presiden Macron tidak mau menarik kartun pelecehan itu atas nama kebebasan. Yang senang adalah gerombolan garis keras itu.

Mereka senang, karena mereka menemukan momentum baru untuk memasarkan ajarannya. Mereka bisa mengkapitalisasi sebuah isu di negara yang jauh untuk mengacau di wilayah lain.

Kalau kemudian isu Perancis itu direspon oleh gerombolan radikal di Indonesia, memang begitu pola kerjanya.

Jadi jangan kaget kalau mereka mengkapitalisasi isu perancis itu dengan sedikit gila-gilaan. Mereka akan gunakan isu ini untuk menunjukkan bahwa agama perlu dibela karena sedang dinista. Inilah kesempatan mereka untuk merekrut member-member baru.

Jadi, memang aneh juga sih. Ketika misalnya Perancis berteriak, kita perangi kekerasan gerombolan biadab. Tapi di sisi lain, Macron sendiri atas nama kebebasan ia membiarkan pelecehan simbol-simbol agama. Bukankah itu menjadi salah satu pemicu lahirnya monster-monster baru? Lahirnya radikal-radikal baru? Lahirnya pembunuh-pembunuh baru? Akibat rekrutan atas isu yang terjadi.

Dalam konteks ini saya setuju dengan statemen Presiden Jokowi. Ia mengutuk kekerasan di Perancis. Sekaligus mengecam pelecehan simbol-simbol agama.

Kemampuan atau respons Jokowi itu menepis isu, agar isu Perancis tidak bisa digunakan oleh gerombolan radikal untuk mengacau di Indonesia.

Mau bukti bahwa mereka sudah mau mengkapitalisasi ini? Coba lihat saja statemen-statemennya Rizieq yang sudah sibuk berfatwa-fatwa tentang gerakan 411 dan 212 untuk merespons soal-soal Perancis ini. Kenapa? Karena dia tahu, inilah momentum untuk mengkapitalisasi isu.

Untung Jokowi jauh lebih cerdas merespons persoalan ini. Sehingga ia bisa menyatakan kegeramannya terhadap pembunuhan di Perancis, sekaligus ia bisa protes, jangan dong simbol-simbol agama dilecehkan. Karena selain melukai hati umat Islam, juga membangkitkan monster-monster baru yang jauh lebih beringas.

 

Komentar