ANEH: JALUR TANPA TEST DI PTN BAGI MAHASISWA HAPAL ALQURAN!

Oleh: Ade Armando

Ada kabar lucu dari Kalimantan Barat. Sebelas pimpinan perguruan tinggi di sana bersepakat untuk membuka jalur masuk khusus tanpa tes bagi calon mahasiswa yang hapal Alquran 30 Juz. Yang bersepakat bukan saja perguruan tinggi swasta, tapi juga negeri.

Misalnya Universitas Tanjungpura, Politeknik Negeri Pontianak, dan Politeknik Kesehatan Kemenkes Pontianak. Kalau ini perguruan tinggi swasta sih ya suka-suka merekalah. Tapi kalau perguruan tinggi negeri mengizinkan calon mahasiswa lulus tanpa tes hanya karena mereka hapal Alquran, ini sih namanya penghamburan uang rakyat.

Ini jelas kebijakan diskriminatif. Penghapal Alquran – atau biasa disebut hafidz — pastilah orang Islam. Jadi, jalur khusus ini hanya bisa dimanfaatkan oleh siswa muslim. Tidak boleh dong perguruan tinggi negeri bersikap seperti itu. Tapi yang lebih penting, kenapa jugasih penghapal Alquran harus diistiimewakan?

Kemampuan menghapal Alquran adalah sesuatu yang tidak berkorelasi dengan kualitas intelektual seorang siswa. Bisa dibilang, menghapal Alquran bukanlah kemampuan yang memang dibutuhkan dalam masyarakat yang berkompetisi dalam hal sains dan ilmu pengetahuan.

Saya muslim. Tentu saja saya mencintai Alquran. Tapi menghapal Alquran adalah sebuah tradisi yang barangkali memang penting di masa awal Islam, tapi tidak lagi sekarang. Hafidz lahir dalam konteks masyarakat yang perkembangan teknologinya masih terbatas. Bagi yang belum paham soal tradisi menghapal Alquran, saya coba bantu ya.

Ini semua berkaitan dengan proses turunnya wahyu dari Allah kepada Nabi Muhammad, 14 abad yang lalu. Ayat-ayat Allah itu tidak langsung disampaikan kepada Nabi Muhammad. Ayat disampaikan dulu kepada malaikat Jibril. Jibril kemudian menyampaikannya kepada Nabi Muhammad. Penyampaian itu disampaikan secara lisan dari Jibril kepada Nabi Muhammad.

Diturunkannya pun tidak sekaligus satu buku. Diturunkannya secara bertahap. Misalnya hari ini turun lima ayat. Minggu depan sekian ayat. Bulan depan lagi sekian ayat lagi. Dan seterusnya sampai 22 tahun.

Masalahnya, Nabi Muhammad ini buta huruf. Dia tidak bisa membaca, tidak bisa menulis. Kalau saja Alquran diturunkan di abad 21, mungkin prosesnya akan sederhana. Nabi Muhammad mungkin akan merekam saja pernyataan Jibril melalui sarana elektronik. Atau kalau di abad 21 sih, rasanya janggal kalau tokoh sepenting Nabi Muhammad buta huruf.

Jadi, sangat mungkin kata-kata Jibril itu akan ditulis di laptop Nabi Muhammad dan disimpan dalam folder berjudul, misalnya, ‘Ayat-ayat dari Jibril’, atau begitulah. Tapi kan masalahnya Alquran turun di abad ke tujuh Masehi, dan Nabi buta huruf.

Jadi, ketika dia memperoleh rangkaian ayat dari Jibril, itu harus dia hapalkan kata per kata. Karena itu pula, saya rasa, rangkaian ayat yang diturunkan tidak mungkin terlalu panjang. Kalau terlalu panjang, mungkin dikhawatirkan ada yang terlupakan oleh Nabi.

Sesudah menerima ayat-ayat itu, Nabi Muhammad akan menemui sahabat-sahabatnya. Kepada mereka, dia akan sampaikan kabar bahwa dia baru saja mendapat ayat-ayat baru. Kemampuan para sahabat Nabi itu juga tidak seragam. Banyak juga yang buta huruf seperti Nabi.

Walau ada juga sekelompok kecil yang sudah paham dengan tulis-baca. Tapi ingat juga, waktu itu belum ada kertas atau alat tulis modern seperti yang kita kenal sekarang ini.

Karena itu, ayat-ayat Allah yang dibawa Nabi itu ditulis seadanya di berbagai medium darurat yang ada, misalnya di kulit binatang, di daun, di batu, di batang kayu, dan sebagainya.

Nah selain itu, ada pula orang-orang yang dipilih menjadi penghapal ayat-ayat Alquran. Mereka inilah yang disebut sebagai hafidz Alquran. Para penghapal Alquran itu kemudian menyampaikannya pada teman-temannya yang lain sehingga semakin banyak penghapal Alquran.

Ketika komunitas muslim masih terbatas di Mekkah dan Madinah, dan Nabi Muhammad masih hidup, peran hafidz masih belum terlalu penting. Soalnya kalau ada muslim yang kepengen tanya bunyi ayat Allah, dia tinggal nanya langsung ke Nabi.

Tapi seperti Anda tahu, Islam kemudian menyebarkan pengaruh ke wilayah-wilayah lain yang sangat luas.

Semakin lama, semakin jauh. Nah dalam proses penyebaran inilah, hafidz berperan penting sebagai orang-orang yang bisa dijadikan sumber referensi tentang ayat Alquran.

Ingat ya, waktu itu belum ada Google. Jadi, mottonya bukan tanya saja pada Mbah Google, melainkan tanya saja pada Bro Hafidz! Tapi kemudian perubahan terjadi.

Mula-mula Nabi Muhammad meninggal. Kemudian, karena perang demi perang yang terjadi, banyak hafidz yang meninggal. Jumlah hafidz menjadi menyusut. Karena itulah para pemimpin Islam pasca wafatnya Nabi berinisiatif untuk mengumpulkan ayat-ayat yang tersebar baik di medium tradisional maupun di benak para hafidz.

Jadi saat Nabi masih hidup, saat itu belum ada kitab Alquran seperti yang kita kenal sekarang. Di era Nabi Muhammad, ayat-ayat Allah itu terpisah-pisah. Tapi sejak Khalifah Pertama, Abu Bakar, sudah dimulai inisiatif untuk mengumpulkan ayat-ayat Allah itu dalam satu buku kumpulan secara sistematis ayat-ayat tersebut. Dan penyatuan itu baru terwujud di era Khalifah Ketiga, Utsman bin Affan.

Yang ingin saya tunjukkan di sini adalah kehadiran hafidz itu adalah sesuatu yang sangat kontekstual. Menghapal Alquran di masa itu menjadi penting karena kemampuan tulis baca dan teknologi penyimpanan informasi masih terbelakang. Hafidz dibutuhkan di masanya.

Namun, begitu ayat-ayat itu bisa dikodifikasikan dalam kitab Alquran, dan kitab Alquran itu terus dijaga konsistensi isinya, arti penting hafidz tentu jadi berkurang. Saya tentu tidak ingin mengatakan kegiatan menghapal Alquran itu tak berguna.

Bagi mereka yang menjadi ilmuwan dengan spesialisasi ilmu agama, menghapal Alquran tentu besar manfaatnya. Mereka bisa dengan mudah merefer pada isi Alquran tatkala melakukan penelitian, pengkajian, atau memberikan ceramah dan kuliah.

Menghapal Alquran sebagai kecakapan kesenian juga mungkin ada gunanya. Jadi kalau ada anak-anak yang kecakapannya bernyanyi, menari, berpuisi, lantas ada juga yang pintar melantunkan dan menghapal Alquran.

Tapi seperti saya katakan di awal, ini bukanlah kecakapan yang menunjukkan tingkat kecerdasan seseorang untuk mampu mempelajari sains dan ilmu pengetahuan secara umum.

Jadi, kalaulah ada jalur khusus untuk penghapal Alquran seharusnya hanya diberikan untuk disiplin yang terkait dengan ilmu agama Islam. Atau kalau jalur khusus buat hafidz ini mau diterapkan di disiplin ilmu non-agama, ya jangan di perguruan tinggi negeri dong.

Kalau ada perguruan tinggi swasta mau mengistimewakan siswa muslim, ya terserah mereka. Tapi ini jangan diterapkan di perguruan tinggi negeri, karena ini menyangkut uang rakyat.

Yang bisa masuk perguruan tinggi negeri seharusnya hanyalah siswa-siswa yang pantas mendapatkan kursi karena intelektualitasnya.

Saya paham kalau para tokoh Islam di Kalimantan Barat berharap untuk meningkatkan kualitas siswa-siswa muslim. Tapi jangan diskriminatif dong. Dan kedua, pilihlah siswa muslim yang memang pintar, yang cerdas, yang cakap.

Kalau begini caranya, yang terekrut justru bukan mereka yang terbaik yang justru nantinya akan tidak mencapai prestasi optimal.

Jadi terapkanlah kebijakan-kebijakan yang rasional dan objektif. Mari terus gunakan akal sehat. Karena hanya dengan akal sehat, negara in akan jadi hebat!

Komentar