ANIES BASWEDAN TIDAK PEDULI DENGAN NASIB ANAK-ANAKNYA

oleh: Ade Armando

Anies Baswedan tidak peduli dengan anak-anak yang harus dilindungi nya di Jakarta. Dengar komentarnya soal keterlibatan anak dan remaja dalam aksi unjuk rasa dan kerusuhan terkait UU Cipta Kerja.

Dia bilang keikutsertaan itu menunjukkan para pelajar tersebut memiliki kepedulian terhadap nasib bangsa. Bagus dong, katanya. “Kalau tidak peduli, justru repot.”

Kepedulian itu perlu dirangsang, katanya. Kita layak sedih dan bahkan marah karena kita semua tahu itu omong kosong.

Siapapun yang berakal sehat tahu bahwa ketika pelajar itu melempari polisi, melempar bom molotov, membakar halte, toko, itu tak ada hubungannya dengan kepedulian terhadap nasib bangsa. Anies cuma kembali menata kata-kata

Sebagai gubernur dia seharusnya peduli dengan nasib rakyatnya, nasib anak-anaknya, kondisi fasilitas publik yang berada di wilayah tanggungjawabnya.

Tapi ali-alih begitu, kita kembali disuguhi pertunjukkan yang menunjukkan betapa Anies adalah sekadar pemimpin oportunis. Bahkan di saat kritis, dia masih berusaha memanfaatkan kondisi untuk membangun pencitraan dirinya.

Di tanggal 8 Oktober, ketika terjadi kerusuhan, dia di malam hari justru mendatangi dan menyemangati para perusuh. Soal kerusakan fasilitas publik, dengan enteng, dia bilang: Bisa dibangun kembali dengan biaya puluhan miliar.

Dia itu seperti Rocky Gerung yang di channel youtubenya bilang dia percaya anak STM turun ke jalan karena hati nurani mereka. Tapi Rocky kan cuma komentator sipil yang sedang meramaikan panggung. Anies beda dengan Rocky. Dia gubernur.

Bagaimana mungkin dia tidak peduli dengan kondisi anak-anak dan remaja yang tereksploitasi dalam aksi kerusuhan tersebut? Data menunjukkan bahwa anak sekolah adalah mayoritas peserta unjuk rasa yang terlibat dalam aksi kerusuhan.

Dalam berita 16 Oktober, dikatakan bahwa ada 1377 pengunjuk rasa ditahan, dan 800 di antaranya adalah pelajar. Lima di antaranya adalah anak SD. Mereka ditahan karena melanggar hukum, atau setidaknya melanggar aturan unjuk rasa.

Sebagai pengingat, mayoritas peserta unjuk rasa tidak ditahan polisi. Yang ditahan hanyalah yang melanggar aturan dan sangat mungkin terlibat dalam kerusuhan. Mayoritas di antaranya adalah pelajar. Itu adalah fakta yang menakutkan.

Kita bersyukur, antara lain karena kesigapan aparat keamanan, aksi anarkis pada beberapa hari penuh ketegangan itu tidak berujung pada kerusuhan yang memakan korban nyawa.

Saya juga menduga, kerusuhan tidak meledak pada skala yang tak terkendali karena adanya penahanan beberapa pimpinan KAMI. Sangat mungkin, skenarionya awalnya adalah ke arah aksi yang berdarah-darah. Untunglah, semua bisa dicegah.

Tapi bayangkan kalau skenario mengulang 98 itu — tidak usah sepenuhnya, cukup seperempatnya sajalah – terjadi…

Dan itu terjadi sementara anak-anak STM, SMK, SMA, SMP, SD itu ada di barisan terdepan. Mereka akan jadi tumbal. Bagaimana mungkin, Anies memandang enteng kemungkinan itu semua?

Tentu saja, kita semua akan bahagia kalau anak-anak itu memang terlibat karena kepedulian bangsa. Tapi apa bukti yang bisa membuat kita seoptimistis itu?

Ada begitu banyak video, ada begitu banyak liputan media, dan kita sendiri sebenarnya juga bisa punya pengalaman sendiri-sendiri mengenai anak-anak muda itu.

Saya tidak pernah menyaksikan satu kalipun video yang menunjukkan kaum pelajar itu paham apa yang jadi alasan demo. Mereka memang tidak paham. Bahkan para mahasiswa saya di UI saja saya yakin banyak yang tidak paham. Apalagi para pelajar itu.

Mereka terlibat karena ingin gaya saja, ikut-ikutan, terprovokasi, atau bahkan dibayar. Kata paling pas untuk menggambarkan keterlibatan mereka adalah MEREKA DIEKSPLOITASI. MEREKA DIMANIPULASI

Dan kalau saja mereka dimanipulasi sekadar untuk membuat rame saja masih lumayan. Kalau Cuma untuk menambah jumlah peserta demo agar kelihatan meledak, masih mending. Tapi ini kan lebih jahat dari itu.

Mereka dilibatkan untuk menjadi serdadu di barisan terdepan untuk bertarung dan menjadi umpan peluru kalau kerusuhan sesungguhnya terjadi.

Orang-orang yang dengan sengaja melibatkan para pelajar itu sungguh jahat. Mereka memiliki agenda politik untuk melawan pemerintahan Jokowi, tapi tidak cukup jantan untuk langsung berhadapan dengan Jokowi. Mereka pengecut.

Karena itulah mereka menggunakan sumberdaya yang mereka miliki untuk mengeksploitasi para pelajar yang nol pengetahuannya. Mereka mengeksploitasi kenaifan, keluguan dan ketidakpahaman anak-anak muda itu. Mereka tahu bahwa kaum pekerja sesungguhnya tidak akan all-out terlibat dalam aksi.

Para buruh terlibat dalam aksi secara taat prosedur. Mereka tidak akan merusak. Mereka penuh perhitungan. Tapi anak-anak muda ini tidak punya segenap sensor diri semacam itu.

Ini adalah kalangan yang selama ini tanpa pikir panjang bisa tawuran, membawa samurai, dan senjata tajam lainnya, hanya karena katanya sekolahnya dihina.

Dalam aksi UU cipta kerja pun begitu. Mereka jadi korban permainan politik para elit. Karena itu, mengatakan bahwa keterlibatan mereka adalah karena kepedulian pada bangsa adalah pernyataan konyol yang mengada-ada.

Anies Baswedan tentu saja boleh bersikap anti Jokowi. Dia ingin mengambil nama dari peristiwa Oktober ini. Tapi betapa jahatnya dia, kalau untuk itu dia membiarkan eksploitasi anak-anak ini.

Kalau dia pemimpin yang berintegritas, dan misalnya dia memang menolak UU Cipta Kerja, Anies bisa bicara secara terbuka bahwa dia pada dasarnya tidak setuju dengan UU itu.

Saya tahu, secara hireraki organisasi, dia seharusnya tidak menentang keputusan yang sudah diambil DPR dan pemerintah Pusat. Tapi tentu dia tetap berhak untuk beropini.

Dia bisa mengecam UU tersebut, dan dia akan kelihatan sebagai seorang Gubernur yang berintegritas.

Dan setelah itu dia bisa meminta seluruh elemen masyarakat untuk menyalurkan pendapat melalui jalur yang benar, dan dia bisa mengutuk semua pihak yang berusaha mendorong kerusuhan di Jakarta, terutama yang bahkan melibatkan kaum pelajar.

Namun, barangkali memang berlebihan juga untuk berharap seperti itu. Anies nampaknya memang tidak peduli dengan rakyat. Baginya, mungkin sekali yang terpenting adalah dirinya. Saya menganggap, Anies tidak menggunakan akal sehat dan hati nuraninya.

Komentar