DALANG DEMO CIPTA KERJA: DEMOKRAT, KAMI, ATAU SIAPA?

oleh: Ade Armando

Kali ini, saya masih akan bicara tentang unjuk rasa anti UU Cipta Kerja yang membawa kerusuhan. Pertanyaannya, adakah kekuatan di belakangnya?

Dan kalau ada, siapa? Apakah Demokrat, KAMI, atau siapa?

Pertanyaan ini sebenarnya mengemuka dalam acara Rosi Show di Kompas TV, Kamis 15 Oktober.

Saya hadir di sana sebagai salah seorang pembicara bersama Menko Polhukam Mahfud MD, Suryani Chaniago (Politisi Nasdem), Rachland Nasidik (Politisi Demokrat), dan Usman Hamid (Amnesty International).

Saya termasuk orang yang menganggap tidak masuk akal kalau dikatakan kerusuhan terkait protes UU Cipta Kerja merupakan aksi spontan masyarakat tanpa didalangi. Tapi memang soal siapa dalangnya, kita juga tidak bisa begitu saja menunjuk hidung tanpa bukti.

Ada beberapa hal yang harus dijelaskan terlebih dulu. Kita harus bedakan antara unjuk rasa menentang UU Cipta Kerja dan Kerusuhan yang terjadi terkait unjuk rasa tersebut.

Kalau demo anti UU Cipta Kerja itu sih sebenarnya biasa saja. Bisa saja ada yang mendalangi, mendanai, tapi tidak ada masalah. Unjuk rasa itu adalah kegiatan sah dalam demokrasi.

Yang jadi persoalan adalah kerusuhan, vandalisme, perusakan fasilitas publik, kekerasan terhadap aparat keamanan, pelemparan batu, kotoran, bom molotov, dan semacamnya. Itu yang jadi persoalan. Dan dalangnya harus ditindak tegas.

Saya dapat cerita menarIk dari teman-teman di lapangan. Mereka bilang, kelompok-kelompok buruh jelas tidak terlibat dalam aksi kekerasan. Mereka patuh pada aturan main. Mareka terorganisir. Mereka punya Koordinator yang mereka patuhi. Walau mereka meneriakkan yel-yel keras, tujuan mereka jelas, menentang UU Cipta Kerja.

Kita tidak tahu persis tentunya apakah mereka paham atau tidak dengan isi UU Cipta Kerja. Ya mungkin saja mereka tertipu dengan hoax-hoax tentang betapa isi UU itu akan merugikan mereka. Tapi itu kan tidak terlalu penting. Yang jelas mereka tertib, dan begitu diperintahkan untuk menghentikan aksi, mereka berhenti.

Pada sore hari mereka sudah membubarkan diri. Ini yang tidak terlihat pada aksi mereka yang bukan buruh. Misalnya anak-anak muda tanggung. Anak-anak STM, SMK, SMU, bahkan SMP. Mereka yang tidak jelas pekerjaannya.

Banyak dari mereka yang hadir tidak mengerti apa yang dilawan. Mereka jelas dimobilisasi untuk bikin kacau. Sejumlah pembela aksi memang berargumen bahwa kita tidak boleh memandang enteng kaum remaja itu.

Mereka misalnya digambarkan terpanggil karena solidaritas pada nasib buruh. Atau seperti yang dikatakan Anies Baswedan, kaum muda yang ikut unjuk rasa adalah mereka yang peduli pada nasib bangsa.

Saya tentu ingin juga percaya bahwa niat anak-anak muda itu seluhur yang digambarkan Anies. Kalau saja kaum remaja itu terlibat dalam aksi karena keterpanggilan mereka, tentu kita semua patut bersyukur. Tapi kenapa juga kita harus menipu diri sendiri?

Kenyataannya kan jelas tidak begitu.

Sejumlah video sudah menunjukkan bahwa mereka pada dasarnya cuma ikut-ikutan, dimobilisasi lewat medsos, atau bahkan dapat duit. Dan sedihnya, mereka inilah yang menjadi barisan terdepan dalam aksi kekerasan.

Buat saya mereka adalah kaum yang ditumbalkan. Karena itu, menjadi penting untuk memahami siapa yang begitu tega memanfaatkan keluguan mereka dan begitu tega mendorong terjadinya kekerasan fisik yang bisa memakan korban jiwa dan harta.

Apa yang terjadi jelas menunjukkan bahwa gerakan kerusuhan ini didalangi. Tidak perlu menjadi analis politik handal untuk bisa menyimpulkan itu.

Sejak sebelum kerusuhan 8 Oktober pecah, kita sudah melihat kok bahwa aksi itu bukan cuma bertujuan untuk menolak UU Cipta Kerja.

Narasi yang berulang-ulang dilontarkan adalah: Kepung Istana, Bubarkan Parlemen, Turunkan Jokowi, dan Bentuk Dewan Rakyat.

Atau setidaknya, mereka bilang aksi hanya akan berakhir kalau UU Cipta Kerja dibatalkan. Ini kan jelas pernyataan perang. Dan banyak anak muda yang ditahan itu pun hadir dengan persiapan perang, bawa golok, petasan, sampai molotov.

Jadi bisa diduga memang ada pihak yang berada di belakang aksi kerusuhan ini. Pertanyaannya, siapa?

Tudingan pertama ditujukan pada Partai Demokrat. Saya sih ragukan itu. Kesan saya, tuduhan ini muncul karena Partai Demokrat terlalu bernafsu ingin menunjukkan pada publik bahwa mereka mendukung aksi menolak UU Cipta Kerja.

Mereka misalnya memviralkan video Agus Yudhoyono yang menyelamati para anggota Fraksi Demokrat yang walkout di hari pengesahan UU Cipta Kerja di DPR.

Marzuki Ali, salah seorang tokoh Demokrat, juga secara terang-terangan mengaku membiayai mahasiswa yang terlibat dalam protes Cipta Kerja.

Jadi, upaya Demokrat cari panggung dengan menunjukkan keberpihakan mereka dengan aspirasi buruh melawan UU malah menjadi bumerang, mereka jadinya dituduh sebagai dalang aksi demo, termasuk aksi kerusuhannya.

Tapi terus terang saya tidak melihat bukti-bukti lebih kuat yang layak menjadikan Demokrat menjadi pihak terduga.

Yang lebih layak dicurigai adalah Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Delapan aktivisnya sudah ditahan. Dan kalau kita dengar penjelasan polisi, dan kalau penjelasan polisi ini benar, mereka memang layak ditahan.

Polisi menahan mereka atas dasar apa yang mereka tulis di media sosial. Dalam penjelasan polisi, digambarkan bahwa dalam percakapan WA mereka ada hal-hal menakutkan ini.

Misalnya, mereka memang memobilisasi peserta aksi untuk melempari Gedung DPR yang disebut sarang maling dan setan. Mereka memobilisasi massa untuk melempari polisi.

Lantas ada seruan untuk menggunakan molotov disertai kata-kata: kalau batu, yang kena cuma satu orang, tapi bom molotov bisa puluhan orang, dan bensin bisa berceceran. Ada juga yang menyerukan: Buat Skenario 98. Jarah Toko Cina dan Rumah-rumah.

Polisi bahkan juga sudah berhasil menyita sejumlah barang bukti, termasuk bom molotov dan uang Rp 500 ribu. Jadi, aktivis KAMI ini ditahan karena apa yang mereka sampaikan di medsos.

Polisi belum mengungkapkan lebih jauh soal keterlibatan mereka sebagai dalang kerusuhan. Gatot Nurmantyo sendiri, sang tokoh utama KAMI, berkilah bahwa ponsel para anggota KAMI diretas atau dikloning. Menurutnya, percakapan yang dijadikan bukti oleh polisi itu bersifat artifisial dan absurd.

Ia mengatakan hal semacam itu memang sering dialami para aktivis yang kritis terhadap kekuasaan Negara. Lebih jauh, dengan gagah, Gatot mengatakan ia meminta masyarakat tidak mengasihani para tokoh dan aktivis KAMI yang ditangkap polisi.

Ia mengatakan masyarakat justru harus bersyukur karena penangkapan tersebut membuktikan bahwa para aktivis KAMI adalah pejuang bukan karbitan.

Rangkaian aksi penolakan UU Cipta Kerja nampaknya masih akan terus berlangsung. Namun, dengan terbongkarnya jaringan orang-orang yang diduga berusaha menunggangi aksi unjuk rasa, kita layak berharap bahwa ke depan demonstrasi berjalan dengan aman.

Kita berharap pemerintah tentu dapat bertindak tegas membongkar jaringan kekuatan jahat yang berada di belakang aksi kerusuhan tersebut.

Mahfud MD sendiri, di diskusi Kompas TV, menyatakan pemerintah sudah punya bukti catatan rapat atau bukti transfer terkait dengan pendanaan kerusuhan.

Rasanya pemerintah tidak perlu lagi ragu mengambil langkah tegas menghabisi kelompok-kelompok yang berpotensi menghancurkan Indonesia dengan mengorbankan kaum muda sebagai umpan kekerasan.

Ayo kita dukung terus pemerintah melawan kaum biadab ini. Terus gunakan akal sehat. Karena hanya kalau bangsa ini menggunakan akal sehat, Indonesia akan selamat.

Komentar