SETELAH AKSI GAGAL, GATOT MAU APA LAGI?

oleh: Ade Armando

Aksi Tolak UU Cipta kerja untuk turunkan Jokowi gagal total. Sekarang tinggal kita tunggu aksi bongkar-bongkarnya…

Perpecahan di kubu anti Jokowi sudah terjadi Gatot Nurmantyo seolah dituduh tidak bertanggung jawab. Lihat saja video salah seorang aktivis anti Jokowi, Eggy Sudjana.

Dengan nada santun tapi tajam, dia mempertanyakan janji Gatot untuk memberikan bantuan pada para aktivis Koalisi Aksi Menyelematkan Indonesia (KAMI) yang terena jerat hukum.

Begitu juga beredar meme berisikan pernyataan seorang dosen Universitas Al Azhar, Ujang Komarudin. Dia bilang: “Sejatinya GN harus turun tangan. Dalam perjuangan, satu terluka, maka semua merasa terluka. GN harus membela rekan-rekan seperjuangannya.”

Beredar pula meme dengan teks: “Anak Buah Ditangkap, Boss Ngumpet Entah Di mana.” Sebuah media online menulis dengan judul: “Tidak Peduli dengan Kawan-kawannya yang Ditangkap Bareskrim, Gatot Nurmanto Dianggap Tidak Setia.”

Apakah aksi kerusuhan 8 Oktober dan 13 Oktober memang dirancang KAMI, dan lebih jauh lagi didalangi Gatot Nurmantyo?

Belum ada bukti konklusif sebenarnya. Tapi apa yang terjadi memang bisa membuat orang menaruh kecurigaan semacam itu. Penahanan delapan aktivis KAMI oleh pihak kepolisian tidak secara tegas menunjukkan bahwa mereka terlibat merancang kerusuhan.

Di antara mereka, ada tiga nama yang diketahui selama ini die-harder anti Jokowi: Anton Permana, Syahganda Nainggolan, dan Jumhur Hidayat.

Syahganda adalah doktor ilmu politik yang sejak Maret lalu meramalkan Jokowi akan diturunkan sekitar September 2020.

Jumhur dulu dikenal sebagai orang SBY dan sempat menduduki jabatan sebagai Kepala Badan Penempatan dan Perlindungan TKI selama 2007 – 2014.

Sementara Anto Permana pernah mencalonkan diri sebagai calon Wali Kota Payakumbuh melalui Partai Gerindra. Sebelumnya, ia merupakan timses calon Wali Kota Payakumbuh lainnya dari partai PKS

Kedelapan orang ini tidak dituduh makar. Mereka ditahan karena apa yang mereka tulis melalui medsos. Menurut keterangan polisi, mereka diduga memberikan informasi yang menyesatkan, berbau SARA dan menghasut.

Kata polisi, ngeri kalau membaca isi WA mereka. “Pantas di lapangan terjadi aksi anarki.” Karena semua yang ditahan adalah aktivis KAMI, wajar bila tudingan sekarang mengarah ke KAMI

Dan begitu orang bicara KAMI, yang langsung teringat adalah nama Gatot. Gatot bukanlah ketua KAMI. Tapi dia dikenal sebagai deklarator KAMI yang dianggap menempati posisi sentral di organisas itu.

Maklumlah, dia itu dulu Panglima TNI yang bahkan ketika masih menduduki jabatan penting itu terkesan sebagai pembangkang Presiden jokowi. Dia juga kaya raya dan dekat dengan pengusaha besar Tommy Winata.

Banyak yang bilang, Gatot adalah pejabat TNI yang ketika menjabat memuluskan pemenangan proyek pengadaan barang TNI ke tangan Tommy. Dan dikabarkan pula kekayaan Gatot selama ini dikelola di bank Arta Graha milik Tommy. Jumlahnya triliunan rupiah.

Selain itu Gatot dikenal dekat dengan Keluarga cendana. Dalam beberapa tahun terakhir, dia juga terkesan akrab dengan kelompok-kelompik islamis radikal seperti gerakan 212.

Dia juga membuat banyak pernyataan kontroversial. Akhir September lalu, dia tiba-tiba saja mengatakan bahwa setelah menyelenggarakan acara nonton bareng film Pengkhianatan G30 S PKI, Presiden Jokowi memberhentikannya dari posisi Panglima TNI.

Dan terkait dengan UU Cipta kerja, dia juga sejak awal Oktober sudah menyatakan mendukung aksi penolakan UU Cipta kerja.

Dengan jaringan pendukung sedemikian kuat, kini dia diprediksikan bisa menjadi salah seorang kandidat terkuat untuk Pilpres 2024.

Karena itu, ada kesan bahwa KAMI sebenarnya adalah gerakan politik yang digunakan Gatot untuk meraih ambisi kekuasaannya.

Ketua KAMI Din Sjamsudin sendiri sudah bersuara soal penahanan para aktivis KAMI. Dia menulis: Fitnah lebih kejam daripada pembunuhan.

Menurutnya, penangkapan para pejuang KAMI tidak akan mengendurkan sedikit pun perjuangan KAMI untuk meluruskan kiblat bangsa dan negara. Tulis Din : Gerakan moral kami sudah berada pada point of no return (titik tidak ada kembali).

Jadi apakah KAMI memang terlibat dalam aksi kerusuhan di jakarta dan beberapa kota lainnya?

Seperti saya katakan, tidak ada bukti konklusif. Namun menarik juga untuk mencatat bahwa sebelum aksi 13 Oktober berlangsung, dua hari sebelumnya beredar luas skenario aksi yang dipaparkan melalui seri tweet akun @digeembokFC.

Kita tidak perlu sepenuhnya percaya dengan apa yang ditulis di sana. Tapi apa yang disampaikannya pantas membuat kita menduga bahwa itu didasarkan pada info intelijen Indonesia.

Dalam seri tweet itu sudah disebut-sebut soal aksi di Medan. Tapi yang lebih menarik adalah apa yang digambarkan tentang Jakarta.

Jadi diungkapkan di sana, dalam aksi 13 Oktober tersebut, KAMI berfungsi sebagai PENYANDANG DANA dan PENYUPLAI LOGISTIK.

Gatot Nurmantyo sendiri ini pada hari itu akan seolah-olah berada di acara pemberian satunan pada anak yatim di daerah menteng

Disebut pula secara spesisifik nama-nama presidium KAMI, nama organisasi mahasiswa, nama mantan jenderal yang akan mempersiapkan massa, kelompok perempuan yang akan hadir di acara demo; bahkan nama-nama lokasi yang bakal menjadi wilayah kerusuhan.

Gerakan demo di jakarta itu akan dipermudah pula karena Anies Baswedan sudah memutuskan adanya PSBB transisi. Dalam unjuk rasa hari itu, juga akan hadir kelompok Alumni 212, FPI dan GNPF Ulama.

Nama Jumhur Hidayat pun disebut. Jadi ada informasi cukup terperinci tentang rencana aksi 13 Oktober.

Dan sangat mungkin informasi inilah yang menjadikan aparat keamanan bekerja dengan sangat cepat dan efektif mencegah agar aksi 13 Oktober tidak meluas tanpa kendali.

Seusai aksi 8 Oktober, Menkopolhukam Mahfud MD sudah memberi indikasi bahwa pemerintah sudah mengidentifikasi siapa aktor di belakang kerusuhan.

Ketika itu Mahfud menyatakan pemerintah akan menindak tegas “aktor intelektual dan pelaku aksi-aksi anarkis dan berbentuk kriminal” dalam demonstrasi menolak UU Cipta Kerja.

Kini delapan aktivis KAMI sudah ditahan polisi. Apakah itu sebagian orang yang dimaksud Mahfud sebagai ‘aktor intelektual?’

Bisa jadi. Dan bisa jadi pula akan ada orang-orang berikutnya.

Tapi yang jelas upaya menunggangi protes UU Cipta Kerja untuk memecahbelah dan membuat kerusuhan luas di indonesia sejauh ini gagal.

Pertanyaannya: apa langkah koalisi anti Jokowi berikutnya? Kerusuhan lagi? Kekacauan lagi? Karena itu, Yuk kita jaga terus Indonesia.

Komentar