JOKOWI MEMANG GILA

oleh: Denny Siregar

Saya mungkin tidak mengalami masa Presiden Soekarno memimpin. Tapi, alhamdulillah, saya ada di masa Jokowi. Dari Jokowi lah saya akhirnya paham, bagaimana visi Soekarno untuk bangsa ini.

Jokowi adalah pemimpin yang punya sudut pandang jauh ke depan. Dia bercita-cita supaya Indonesia kelak bisa dihormati oleh seluruh bangsa. Kita harus jadi negara kaya. Apa yang kurang dari Indonesia? Dari sisi sumber daya alam kita kaya. Ada minyak, ada gas, ada emas, bahkan banyak mineral lainnya. Dari sisi sumber daya manusia, kita adalah negara terbanyak penduduknya nomor 4 di dunia, dengan jumlah hampir mencapai 300 juta jiwa.

Lalu yang kurang apa sehingga kita tidak kaya-kaya bahkan sering diketawain negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, yang sebenarnya jauh lebih kecil dari negara kita?

Yang kurang adalah hal yang paling mendasar dari diri manusia, yaitu MENTAL.

Meskipun kita boleh bangga karena pernah mengusir penjajah sendiri, kita harus paham kalau kita pernah dijajah selama 350 tahun lamanya. Penjajahan yang begitu lama menghilangkan jati diri kita, bahwa kita sebenarnya adalah bangsa pemberani. Lagu “nenek moyangku adalah pelaut” sudah menggambarkan seperti apa sebenarnya kita dulu. Tapi karena kita sekian ratus tahun menjadi budak, maka yang banyak dilahirkan adalah pemikiran-pemikiran untuk menjadi budak selama-lamanya.

Dan kita memang terus dijajah. Habis Belanda, datanglah Inggris. Habis Inggris, datang Jepang. Habis Jepang, terbitlah Amerika bersama kendaraan Orde Barunya. Terus menerus mental kita dijajah dan harta kita dikeruk sekian lamanya, sehingga kita tumbuh menjadi orang yang kerdil, rendah diri, tidak mampu bersaing, picik, dan gampang diprovokasi.

Jauh dari visi Soekarno, bapak bangsa kita dulu yang berani melawan hegemoni negara-negara barat dengan misi imperialismenya. Kita terlalu lama dibuai dengan pemahaman, “Sudah takdir Tuhan…” sehingga tidak mau mengubah nasib kita sendiri. Negeri kita dikelilingi emas permata, tapi kita hanya menjadi babu di rumah kita sendiri.

Inilah yang mau diubah besar-besaran oleh Jokowi. Budaya lama dengan mental jajahan harus segera direvolusi. Kita harus mau berpikir ke depan, kalau tidak kita kelak akan mati.

Tapi memang, mengubah mental terjajah sekian lama, itu menyakitkan. Biasanya kita bangun jam 12 siang, sekarang harus bangun jam 5 pagi. Tersiksa, kan? Biasanya, kita hanya menunggu perintah, sekarang kita dipaksa harus berpikir sendiri. Menyakitkan memang, tapi ada pepatah Inggris lama, “No pain, no gain.” Tidak ada rasa sakit, tidak akan ada hasilnya.

Jokowi mengajak kita berpikir seperti itu, mengubah hal mendasar dari diri kita sendiri. Dia rombak semua sistem yang salah selama ini, yang dipakai oleh orang untuk korupsi. Mulai mafia pangan, mafia minyak, sampai mafia di birokrasi dia babat semua. Dan perlawanan-perlawanan pun bermunculan dari orang yang selama ini tidur nyenyak, sekarang dipaksa bangun dengan teriakan sekeras-kerasnya. Pastilah marah dan ngamuk. Tapi kalau gak dibangunkan, bagaimana kita bisa berhasil nantinya?

UU Cipta Kerja atau Omnibus Law ini, memang dibuat untuk mengubah perilaku bangsa Indonesia. Di dalam UU Cipta Kerja itu kita mencoba menyesuaikan diri lebih kompetitif dari pesaing kita, Vietnam dan Thailand, supaya negeri ini makin cantik untuk investasi.

Lha kok, malah mengundang investor asing bukannya buat sendiri? Terus apa kita gak dijajah lagi oleh mereka secara ekonomi?

Ini pemikiran yang salah dari mental yang sudah lama terjajah. Investasi asing diundang datang ke Indonesia, tujuan besarnya bukan hanya membuka lapangan kerja saja. Tapi misi pentingnya adalah ALIH TEKNOLOGI supaya kita belajar dari bangsa yang maju sudah lama. Nanti pelan-pelan, dengan aturan-aturan yang kita punya, kita akan menggantikan tenaga kerja asing dengan orang-orang kita. Butuh waktu memang, tapi kalau tidak dimulai sekarang kapan lagi kita mau memulai?

Itulah kenapa untuk investasi asing, kita gak milih-milih dari negara mana, mau Amerika kek, mau Cina kek, mau Afrika kek, kalau lu bawa duit dan bawa teknologi, silakan buka usaha di sini. Bawa juga tenaga ahli lu ke sini. Nanti pelan-pelan kalian ajari kami supaya pintar dan mandiri. Kalau kami sudah bisa, kan kalian juga yang untung karena beban produksi kalian dengan harus mengirimkan orang dari negara jauh akan berkurang?

Itulah visi besar dari Omnibus Law yang banyak dipelintir orang penafsiran-penafsirannya. Mereka gak paham, mau dijelaskan bagaimanapun karena sudah kadung terprovokasi. Ditambah para pengkhianat negara yang tidak ingin negara ini maju dengan bahasa, kita dijajah asing meski tanpa sadar pemikiran mereka juga sudah dijajah asing dengan gaya timur tengah.

Mereka ngamuk, mereka memaki, demo, merusak karena tidak mau dibangunkan dari budaya selama ini. Tidak banyak pejabat, sekelas Presiden yang mau melakukan seperti ini. Keputusan ini butuh keberanian tingkat tinggi. Atau lebih ekstremnya lagi, Presidennya harus gila kalau pengen merombak semua mental bangsa ini. Soekarno dulu pernah melakukan ini, tapi dia kalah oleh gempuran negara barat lewat tangan-tangan para pengkhianat yang licik, yang bisa dibayar untuk kepentingan mereka pribadi.

Jokowi bisa saja main aman, “Ah ngapain saya harus memaksakan diri, mending duduk, diam, dan perkaya keluarga, juga kroni. Lebih nyaman. Nanti urusan mengubah mental, kasih aja ke Presiden berikutnya yang mau susah payah..”

Tapi Jokowi tidak begitu. Dia tampil dengan berani dan menghadapi semua itu dengan tangan besi. Para Gubernur diundang dan mereka diwajibkan untuk mengawal agenda sebesar ini. Beberapa Gubernur dengan mental pecundang langsung cari muka dan melemparkan masalah ke Jokowi. Gak ada masalah, kata Jokowi. Lempar ke sini, biar gua yang hadapi. Itulah mental pemberani, mental singa betulan, bukan mental singa patung yang bacotnya keras gak karuan, tapi pas turun ke lapangan meringkik seperti anjing kurang makan.

Kita butuh orang seperti Jokowi. Kita butuh orang-orang berani untuk menjaga bangsa ini dan mimpi kita ke depan nanti.

Lalu kenapa ketika saya bilang, saya berada di belakang Jokowi mengawal mimpi besarnya untuk Indonesia, saya dibilang penjilat dan orang bayaran? Saya juga punya mimpi yang sama dengan beliau, supaya anak-anak saya kelak tinggal di negeri dengan kepala tegak bukan tertunduk karena rendah diri. Jokowi orang merdeka. Saya orang merdeka. Dan orang-orang yang mengawalnya juga orang merdeka. Kalau bukan kita yang mengubah nasib kita sendiri, lalu siapa lagi?

Benar kata Bung Karno dalam pidatonya dulu, “Tugas saya lebih mudah karena melawan penjajah. Tugas kalian lebih sulit karena melawan bangsa sendiri.”

Melawan pengkhianat berbaju serikat, demi perut mereka pribadi. Melawan pengkhianat berbaju partai, yang hanya sibuk dengan citra diri. Melawan orang-orang dengan pemikiran-pemikiran yang salah dan mental terjajah, yang mudah terprovokasi.

Kalau Jokowi berani, saya juga harus berani. Gak perlu pakai jilatan atau bayaran, saya akan tetap mengawalnya karena itu kebanggaan. Biar saya bisa cerita untuk cucu saya nanti, bahwa kakeknya pernah berjuang di sisi orang pemberani dengan segala resikonya. Bahwa demi negeri ini, apapun resikonya layak dipertaruhkan.

Dan para pemberani selalu memulai perangnya dengan secangkir kopi. Seruput dulu, wahai jiwa-jiwa yang tidak pernah menyerah untuk mengubah mental bangsa ini.

Markibong.

 

Komentar