KEGAGALAN TOTAL AKSI 8 OKTOBER!

oleh: Ade Armando

Aksi unjuk rasa yang berlangsung 8 Oktober lalu, sangat memprihatinkan. Tapi juga menggelikan.

Ada video seorang pria yang semula berwajah sangat sangar. Dia disebut Pak Dosen. Dengan gagah dia bilang dia membawa petasan untuk membakar polisi. Anjing-anjing kapitalis, katanya. Tandain muka gue, katanya. Lucunya tak lama kemudian dia ditahan.

Tapi begitu ditanya, mukanya langsung pucat khas seorang maling yang ketangkap pas melakukan aksi. Dengan gemetar dia bilang, “Iya bahasa saya yang salah.”

Ada pula video lain tentang seorang peserta demo yang meninggalkan kerumunan dengan terburu-buru. Dia nampak ketakutan. Tapi ternyata dia itu bukan takut pada polisi. Dia itu diuber oleh perempuan yang mungkin ibunya yang marah-marah dan menyuruhnya pulang.

Ada video lain dari Jawa tengah. Sejumlah anak SMK ditanyai Ganjar Pranowo, yang biasa, bicara dengan nada ramah, mengapa mereka ikut dalam unjuk rasa anti UU Cipta Kerja. Anak-anak itu tidak tahu dong apa yang sedang mereka demo. Mereka bilang, mereka tertarik saja karena ada pesan berantai di WA untuk ikut demo.

Bahkan seorang siswa dengan tulus mengatakan, ya kan mereka habis ikut UTS online, lantas jalan-jalan keluar dan kemudian tertarik ikut demo.

Ada video lain, kali ini menampilkan seorang gadis bermasker. Dia itu ikut demo. Gadis ini mengaku sudah duduk di semester sembilan sebuah universitas swasta. Tapi ketika ditanya kenapa dia unjuk rasa, dengan nada manja dia bilang, “Nggak tahu juga sih..”

Dia berulangkali geleng-geleng – tentu dengan gaya gadis manja – ketika ditanya nama UU yang diprotes, apa isinya, dan seterusnya, dan seterusnya.

Ada pula video seorang pria setengah tua yang dengan yakin menyatakan bahwa UU Melly Goeslaw ini menyengsarakan rakyat. Bahwa pria itu menyebut UU Omnibus Law sebagai UU Melly Goeslaw saja sudah sangat lucu.

Tapi yang paling menggelikan adalah bagaimana pria ini berulangkali gagal menyebut kata ‘menyengsarakan’. Menyengsekerakan. Menyerengsarakan. Kata dia. Dan akhirnya dia bilang, ya itu ajalah.

Saya duga video terakhir itu sebenarnya parodi. Tapi secara sangat baik itu mewakili aksi 8 Oktober. Ini semua bisa dibilang sebenarnya pertunjukan yang menggelikan.

Masalahnya tapi, ini jadi sekaligus menyedihkan karena kelucuan itu adalah bagian dari sebuah teater besar aksi kekerasan yang dilakukan untuk menciptakan kepanikan dan kehancuran Indonesia.

Alhamdulillah, aksi tersebut gagal total.

Untuk kesekian kalinya dalam sejarah kepemimpinan Jokowi, upaya untuk menciptakan kekacauan yang ujung-ujungnya ditujukan untuk menggulingkan pemerintah menemui kegagalan.

Sebagian pihak berargumen bahwa aksi 8 Oktober itu adalah gerakan murni protes rakyat terhadap kelahiran UU Cipta Kerja. Buat saya, argumen semacam itu omong kosong.

Saya tidak ingin mengatakan bahwa UU ini tidak bermasalah. Tapi kalau urusannya benar menentang UU Cipta Kerja, tentu tidak perlu ada aksi bakar-bakar fasilitas publik.

Saya juga punya banyak kritik terhadap sebagian UU Cipta Kerja. Saya juga bikin di Cokro TV video yang menunjukkan sebagian persoalan dalam UU Cipta Kerja. Mengatakan bahwa isi UU Cipta Kerja adalah semata-mata untuk kepentingan buruh juga naif. Tapi dalam demokrasi, ya kita harus patuh pada aturan main.

Kalau kita tidak suka, ada banyak langkah yang bisa ditempuh, kita bisa bikin petisi, mengecam secara terbuka, mengajukan banding ke Mahkamah Konstitusi, dan berusaha menekan pemerintah agar mengeluarkan peraturan-peraturan turunan UU yang berpihak pada kepentingan rakyat.

Pasti tidak mudah. Tapi itulah demokrasi.

Mereka yang mengorkestrasi rangkaian kerusuhan ini adalah orang-orang yang jelas anti demokrasi. Ini jelas bukan gerakan murni untuk menunjukkan protes. Orkestrasinya terlalu terang-benderang.

Mula-mula ada orang semacam Gatot Nurmantyo yang sebelum 8 Oktober Sudah menyatakan mendukung Aksi Buruh menentang UU Cipta Kerja. Lantas beredar rangkaian hoax tentang isi UU Cipta Kerja yang sangat tidak masuk akal namun terus diviralkan.

Dikatakan bahwa dalam UU Cipta Kerja, cuti hamil, cuti kematian, cuti sakit, ditiadakan. Pesangon ditiadakan, jaminan sosial dihilangkan, buruh dilarang untuk ikut aksi protes. Upah buruh akan dihitung per jam, outsourcing diberlakukan seumur hidup. Ini semua bohong, sudah dibantah berulang kali, tapi terus disebar.

Provokasi ini dilanjutkan dengan seruan bagi masyarakat untuk terlibat dalam aksi 8 Oktober dengan bahasa yang sangat provokatif. Misalnya saja ada Seruan Aksi Bagi Seluruh Elemen Masyarakat Terindas, dengan hashtag #JogjaMemanggil.

Dalam seruannya dinyatakan:

Mosi tidak percaya: TURUNKAN JOKOWI, CABUT UU CIPTA KERJA, BUBARKAN DPR, DAN BANGUN DEWAN RAKYAT.

Ada juga seruan: Kepung Istana Negara. Atau seruan: Aksi Serbu Ibukota

Jadi, sejak awal tujuannya bukanlah memprotes UU Cipta Kerja. Ini ada soal turunkan Jokowi dan bubarkan DPR. Bahkan revolusi dengan membangun Dewan Rakyat.

Dan ketika Hari H tiba, segenap skenario menyulut peperangan itu terbukti. Yang terlibat dalam aksi bukan cuma rombongan buruh yang terorganisir. Ada anak-anak SMA, STM, SMK. Ada anak SMP. Ada orang-orang yang disebut kaum Anarko – mereka yang pokoknya bertujuan bikin konflik.

Kerusuhan bukan cuma terjadi di Jakarta, tapi di banyak kota lainnya. Di pagi hari sudah beredar video-video dan foto-foto yang menampilkan kerusuhan yang sebenarnya merupakan rekaman di luar negeri atau yang terjadi di tahun-tahun lalu.

Tujuannya jelas, menimbulkan kepanikan. Semakin siang, kekerasan seungguhnya pun terjadi. Dan kaum buzzer para anarkis cepat beraksi.

Ketika ada restoran di Jogja dibakar, tiba-tiba saja ada netizen yang bohong dengan bilang dia menyaksikan sendiri bahwa kebakaran terjadi karena semprotan gas air mata polisi ternyata menghantam kabel listrik.

Celaka baginya, tak lama kemudian ada beredar hasil rekaman CCTV di depan restoran yang menangkap adegan menjelang kebakaran. Di sana terlihat ada seorang pria dengan sengaja melempar bom molotov ke restoran tersebut. Ya gagal lah skenario menjelekkan polisi.

Ada pula kabar bohong tentang mahasiswa yang tewas, atau juga ada aktivis pers mahasiswa yang hilang. Dan di tengah keriuhan, tiba-tiba saja Annisa Pohan dan Aliya Rajasa menyatakan netizen mulai merindukan SBY.

Ada pula akun di TikTok yang menaikkan video 10 detik berisi pernyataan seorang perempuan muda yang mengancam anggota DPR. Si perempuan itu meminta anggota DPR yang terkesan adalah teman kencannya untuk menolak UU Omnibus Law, atau rahasia mereka akan dibeberkan kepada istri si anggota DPR.

Ada pula dosen di Surabaya yang menyatakan memberi nilai A untuk mahasiswanya yang ikut dalam aksi melawan UU Cipta Kerja. Dan seusai kerusuhan, tiba-tiba saja LBH Bang Japar, itu LBH yang dipimpin Fahira idris, membuka Krisis Center untuk memberi bantuan hukum bagi para pelaku aksi.

Pengumumannya disebar oleh Bambang Widjojanto – anak buah loyal Anies Baswedan – yang kemudian di retweet oleh Dandhy Laksono.

Ada juga video orang bagi-bagi duit 50 ribuan. Bahkan media memberitakan pengakuan siswa yang bilang mereka memang diancam akan dipukuli bila tidak ikut demo.

Selebriti medsos, Tengku Zulkarnain menulis tweet: Jika demo terus berlanjut, dan DPR ngotot tidak mau cabut UU Cipta Kerja, akankah berujung pada pemakzulan Jokowi?

Lantas Refly Harun – juru bicara Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia — juga bicara dengan nada dramatis di videonya. Kata dia, buruh dan mahasiswa diperhadapkan kembali dengan aparat keamanan. Padahal mereka, kata Refly, dalah korban dari para elit yang berselingkuh dengan pengusaha dan para cukong.

Menurut Refly, yang menulis UU Cipta Kerja adalah iblis.

Lantas ada pula surat pernyataan dari Gubernur Sumatra Barat, Irwan Prayitno, yang menyatakan menyampaikan aspirasi dari Serikat Pekerja Buruh yang menyatakan menolak pengesahan UU Omnibuslaw Cipta Kerja.

Dan di malam hari 8 Oktober, di Jakarta, Anies Baswedan pun muncul dan mendatangi para pelaku aksi. Dia berpidato, menyemangati para pelaku aksi. Dia bilang mengekspresikan pandangan adalah tindakan yang dilindungi konstitusi. Dia juga bilang agar para pelaku aksi menjaga stamina dan perjuangan.

Seusai kerusuhan, muncul sikap bersama FPI, Gerakan Nasional Pembela Fatwa MUI, dan 212 yang meminta agar Jokowi mundur dan Partai pendukung UU Cipta Kerja dibubarkan. Seperti saya katakan, hampir pasti ini semua tidak terjadi secara spontan, tanpa rekayasa.

Memang ada kekuatan-kekuatan yang sengaja ingin menimbulkan kepanikan di Indonesia. Saya yakin mereka tidak peduli dengan nasib buruh, nasib rakyat. Selama ini, selama berbulan-bulan, mereka tidak bicara soal UU Cipta Kerja. Mereka sekadar menggunakan isu ini untuk membakar masyarakat. UU Cipta Kerja cuma menjadi faktor yang bisa dijadikan alasan untuk memobilisasi massa.

Mereka memang sekadar ingin membakar suasana. Buat mereka yang terpenting bukanlah nasib rakyat atau nasib buruh. Buat mereka, setiap kesempatan akan mereka gunakan untuk membuat masyarakat marah pada Jokowi.

Saya duga mereka sengaja ingin memprovokasi aparat keamanan. Mereka ingin terjadi konflik fisik. Mereka ingin anak-anak muda yang mereka sudah bayar untuk bertarung di lapangan menjadi korban. Mereka berharap kita marah.

Tapi kalau kita terus gunakan hati dan akal sehat, aksi mereka tidak akan membuahkan hasil. Jadi, terus gunakan akal sehat. Karena hanya dengan akal sehat, negara ini akan selamat.

Komentar