HATI-HATI SEKOLAH BISA JADIKAN ANAKMU MONSTER!

oleh: Eko Kuntadhi

Di Bangka Belitung kemarin, keluar sebuah surat dari Kepala Dinas Pendidikan Provinsi tersebut, yang mewajibkan murid-murid setara SMU di sana untuk membaca buku Al Fatih 1453 karangan Felix Siauw.

Buku ini sebetulnya novel dengan latar belakang sejarah yang bercerita tentang kisah perang salib di zaman Turki Utsmani. Perangnya sendiri terjadi di Eropa. Jauh dari Indonesia. Jadi kisah di novel itu bukan bagian dari sejarah Indonesia. Gak ada hubungan juga dengan Indonesia.

Persoalannya, apa urusannya, siswa di SMU Bangka Belitung wajib membaca buku itu? Biar bukunya laku? Biar Felix Siauw sebagai penulis dapat duit? Biar penerbitnya kaya?

Kalau ini alasannya, ya kita patut curiga ada penyalahgunaan wewenang di sana. Penguasa, maksudnya ini Dinas Pendidikan, memaksa masyarakat atau siswa-siswa SMU untuk membeli buku. Ini artinya kan mereka menguntungkan pihak lain dengan kekuasaannya.

Ok, balik ke buku ya. Gini, perang salib sendiri itu terjadi antara pasukan yang berada di bawah pemerintahan yang beragama Islam dan pasukan yang ada di pemerintahan beragama Kristen. Tapi jika ditelusuri lebih jauh, itu sih sebetulnya, menurut gua ya, bukan perang agama, tetapi perang untuk memperebutkan wilayah kekuasaan.

Agama dalam konteks ini hanya background saja. Kebetulan penguasa beragama Islam dengan penguasa beragama Kristen. Jadi bukan perang agama.

Penguasa Khilafah Utsmani misalnya, menggunakan jargon Islam. Sementara penguasa Eropa yang berhadapan dengannya menggunakan jargon Kristen. Jadi seolah-olah perang agama padahal enggak.

Nah, yang perlu juga diketahui, penulisnya sendiri, Felix Siauw adalah seorang pendukung khilafah yang paling ngotot. Jadi ketika menulis buku ini, jelas dia punya kecenderungan untuk membela Turki Utsmani.

Pertanyaan gua gini, apa yang ingin dicapai oleh Dinas Pendidikan Bangka Belitung dengan menyuruh anak-anak SMU di sana membaca buku itu? Buat gue sih, ini cuma salah satu cara untuk membangkitkan kebencian mayoritas Islam pada umat Kristen. Sekaligus menyusupkan ajaran khilafah ke otak anak-anak kita. Ajaran yang ujungnya ingin menjadikan Indonesia sebagai negara atau bagian dari negara khilafah dunia. Kan anak-anak SMU di Babel gak semuanya beragama Islam?

Lu bayangin, bagaimana perasaan anak-anak SMU yang Kristen ketika baca buku itu? yang ingin gua katakan adalah bahwa gerakan khilafah ini sudah menyusup ke berbagai institusi resmi kita. PNS yang digaji negara, justru menjadi agen-agen khilafah yang ujungnya untuk meruntuhkan Indonesia. Gila kan?

Ideologi HTI model khilafah memang dibangun dengan semangat perang salib ini. Semangat kebencian dengan kelompok yang beragama Kristen.

Ya untung sih, sehari kemudian surat edaran itu dibatalkan. Kepala Dinas Pendidikan Babel sendiri sudah meminta maaf. Tapi kabarnya yang juga mengejutkan, bahwa sebetulnya ide soal buku Al Fatih itu dari Gubernur Babel. Ya mengerikan buat gua.

Ini adalah warning betapa gerombolan khilafah sudah menguasai berbagai institusi resmi di negara kita. Iya, UU boleh saja melarang keberadaan HTI. Hukum boleh saja membubarkan organisasinya. Tetapi ajarannya ternyata merembes sampai ke tulang sumsum kita. Menjadi ancaman paling nyata kehidupan berbangsa kita.

Surat Diknas dari Babel ini yang ketahuan beredar di media sosial. Lo mikir gak, gimana yang gak ketahuan? Bagaimana agen-agen khilafah yang bergerak diam-diam terus-menerus memprovokasi masyarakat. Misalnya guru-guru di sekolah, yang setiap saat berinteraksi dengan murid-muridnya.

Mereka yang sudah keracunan khilafah dan kemudian meracuni anak-anak didiknya, kita gak tahu berapa banyak. Berapa banyak guru-guru yang seperti itu. Dan ini bukan hanya terjadi pada sekolah bernuansa agama, misalnya SDIT, sekolah-sekolah Islam. Tetapi yang menyedihkan juga terjadi di sekolah-sekolah umum, yang belakangan makin condong ke satu agama saja. Mewajibkan pakai pakaian dengan model agama tertentu, menyingkirkan anak-anak yang berbeda agama.

Jadi jangan heran kalau kini kita makin sering mendengar cerita anak-anak yang berbeda agama di sekolah-sekolah umum mendapat perlakukan diskriminatif dari teman-temannya. Teman-teman gua, orang tua yang punya anak, maksud gua teman-teman gua yang beragama Kristen, kini mulai khawatir menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah umum. Mereka khawatir anaknya akan menjadi korban sikap intoleran dari teman-temannya, juga mungkin dari gurunya.

Kalau sekarang kita banyak menyaksikan perlakuan intoleran yang makin menjadi-jadi di kalangan anak-anak kecil, kayaknya ini bukan fenomena yang muncul tiba-tiba. Fenomena ini dipupuk cukup lama. Institusi pendidikan menjadi salah satu lembaga yang banyak keracunan ideologi kebencian model khilafah itu.

Kalau gerakan khilafah ini marak juga di kampus-kampus seperti IKIP, kalau yang sekarang menjadi misalnya Universitas Negeri Jakarta dan lain-lain, mereka kan mencetak calon-calon guru, kayaknya ini juga bukan tanpa sengaja, tapi ada dalam sebuah grand design besar untuk sosialisasi ideologi tersebut. Guru-guru ini akan meresapkan ajarannya ke anak-anak didik nantinya.

Sebetulnya kalau kita mau lihat, bukan hanya dunia pendidikan yang keracunan. Para politisi sialan juga menggunakan politik agama ini untuk kepentingan politiknya. Salah satu cara mengikat militansi pemilih adalah dengan menciptakan kebencian kepada kelompok yang berbeda atau kepada agama lain. Lo sadar gak sih? Ini adalah sesuatu yang sangat berbahaya bagi masa depan bangsa kita.

Akibat yang paling parah dalam dunia pendidikan, anak-anak kita, adik-adik kita, masuk ke dalam sebuah proses yang akan mencetak mereka menjadi monster yang penuh kebencian. Padahal mereka gak punya alasan membenci temannya cuma karena berbeda agama dan diresepin otaknya dengan ajaran-ajaran kebencian itu.

Fenomena di Bangka Belitung ini hanya puncak gunung es. Di bawahnya gua rasa lebih ngeri lagi. Jadi sudah saatnya kita mulai memeriksa kembali lingkungan kita. Sudah saatnya kita menengok kembali adik-adik kita. Melihat kembali sikap anak-anak kita.

Kita harus menjadi orang yang sadar untuk menyelamatkan anak-anak kita dari monster jahat yang disuntikkan dan dilepaskan para politisi dan bigot, yang mulai menggerogoti kepala anak-anak kita. Tujuannya ya agar mereka kembali menjadi manusia.

Jika anda orang tua beragama Islam, jangan dulu berbangga dengan kefasihan anak-anakmu melantunkan kitab suci. Jangan terlalu senang jika jilbab mereka berkibar sampai menyentuh tanah. Periksalah lagi dengan saksama sikap mereka. Apakah kini anakmu yang manis itu telah berkembang menjadi algojo-algojo ketidakadilan yang gampang mempersekusi teman-temannya yang berbeda agama? Yang hidup penuh kebencian? Atau mereka tetap anakmu yang manis selembut dulu?

Gencarnya gerakan ini tidak akan berhenti. Mereka akan terus merangsek hidup kita. Hidup anak-anak dan adik-adik kita. Mereka akan berusaha memanipulasi agama untuk kepentingan politik mereka saja.

Jadi masa depan kita sedang dipertaruhkan. Sebab jika gerakan ini makin subur, gerakan ini makin masif meracuni rakyat Indonesia, Indonesia yang kita tinggali bersama dengan nyaman dan damai ini hanya akan jadi puing-puing belaka.

Sadar dan periksa kembali lingkungan kita, jangan biarkan ideologi kebencian ini meracuni hidup kita.

Komentar