SMRC, KEBOHONGAN SOAL JOKOWI, DAN GATOT NURMANTYO | Logika Ade Armando

Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) baru saja meluncurkan hasil survei nasionalnya tentang isu kebangkitan PKI.

Survei nasional itu menunjukkan hanya 14 persen warga Indonesia yang menganggap PKI adalah sebuah ancaman.

Ini berarti persentase masyarakat yang percaya bahwa PKI sedang bangkit di Indonesia tidak berubah selama 4 tahun terakhir. Dari survei tahun 2016, angkanya berkisar di sekitar 10-16 persen.

Hasil survei ini pantas sekali didengar mereka yang terus mengkampanyekan isu kebangkitan PKI.

Gatot Nurmantyo dan Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia misalnya. Dan ini adalah narasi khas kelompok anti-Jokowi.

Misalnya saja, ada narasi bahwa orang-orang Komunis sekarang berada di lingkaran dalam Istana. Atau ada fitnah bahwa bahwa orangtua Jokowi adalah Komunis. Atau fitnah bahwa pemerintah menzalimi para ulama karena pesanan kaum Komunis.

Mereka juga bilang bahwa pemerintah melarang penyiaran film Pengkhianatan G30S/PKI.

Bahkan beberapa pekan lalu muncul kabar bahwa pemberhentian Gatot Nurmantyo sebagai Panglima TNI pada 2017 terjadi karena dia menyelenggarakan acara pemutaran film Pengkhianatan G30S/PKI.

Dalam sebuah webinar dia mengatakan bahwa dia pernah diperingatkan oleh seorang kawannya di PDIP, bahwa kalau dia ngotot melakukan acara nonton bareng film Pengkhianatan G30S/PKI, dia akan dicopot dari posisinya sebagai Panglima.

Kemudian, kata Gatot, dia malah jadi bersemangat tetap melakukan acara nonton bareng tersebut dan kemudian dia memang ternyata diberhentikan sebagai Panglima.

Kesan yang ingin ditimbulkan sangat jelas, pemerintah Jokowi tidak suka kalau sejarah G30S/PKI diungkapkan kembali kepada publik.

Maka menyebarlah cerita fiksi tentang Gatot diberhentikan karena nonton bareng.

Padahal dengan sedikit akal sehat, kita akan bisa menyimpulkan bahwa tuduhan itu mengarang bebas. Gatot ketika itu diberhentikan hanya beberapa bulan sebelum pensiunnya tiba.

Dan kalaulah ada alasan politik, yang lebih relevan adalah saat itu Gatot jelas memang nampak dekat dengan kelompok-kelompok Islamis radikal.

Bayangkan, seorang Panglima menjalin hubungan erat dengan kaum Islamis radikal yang mengancam NKRI. Wajarlah kalau nama Gatot dengan segera dibenamkan.

Oh iya, dan sebagai catatan, pemerintah Jokowi tidak pernah memerintahkan film Pengkhianatan G30S/PKI untuk tidak disiarkan.

Tahun ini saja film tersebut disiarkan oleh SCTV dan TV One.

Kalaulah ada pelarangan, itu terjadi di awal reformasi ketika Menteri Penerangan di era Habibie, Yunus Yosfiah, melarang film tersebut diputar setiap tahun di TVRI.

Jadi, kisah Gatot ini absurd.

Sayangnya bahkan seorang pakar sekelas Refly Harun mengangkat cerita itu di channel Youtubenya. Tapi ilustrasi ini sekadar menunjukkan ancaman Komunis akan terus didaur ulang.

Bahkan misalnya ada kabar bahwa bahan ajar tentang G30S/PKI sudah dihilangkan dari kurikulum sekolah. Itu tentu saja juga bohong.

Begitu juga, mengalirnya investasi Cina ke Indonesia digambarkan sebagai bukti bahwa Indonesia membangun hubungan dekat dengan pemerintah Cina yang Komunis.

Bahkan dirancangnya RUU Haluan Ideologi Pancasila juga digoreng sebagai bukti kebangkitan Komunis.

Itu semua bohong, tapi segenap kebohongan itu terus didaur ulang dalam beragam versinya. Dalam kaitan ini, hasil survei SMRC menjadi penting.

Survei itu menunjukkan hanya 14 persen masyarakat yang percaya bahwa kebangkitan PKI adalah ancaman.

Jadi mereka yang termakan dengan propaganda ancaman Komunis itu cuma minoritas. Tapi apakah itu berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan? Nanti dulu. Ada beberapa catatan penting dari hasil survei yang perlu memperoleh perhatian.

Survei ini juga menunjukkan bahwa sebenarnya hanya 36 persen warga yang tahu dengan isu kebangkitan PKI.

Sementara 64 persen warga tidak pernah tahu dengan isu kebangkitan PKI. Dan ternyata juga, isu ini terkesan elitis. Kalangan berpendidikan perguruan tinggi yang menyatakan tahu adanya isu kebangkitan PKI mencapai 62 peren.

Sebaliknya hanya 18 persen warga berpendidikan SD yang menyatakan tahu dengan isu kebangkitan PKI. Bahkan lebih jauh lagi, dukungan terhadap capres pada 2019 pun ternyata berpengaruh.

Hanya 29 persen dari pendukung Jokowi yang tahu menganggap memang terjadi kebangkitan PKI. Sementara, ada 56 persen pendukung Prabowo yang tahu menganggap memang terjadi kebangkitan PKI.

Apa arti semua data ini?

Pertama, mereka yang menganggap ada ancaman kebangkitan PKI sebenarnya hanyalah minoritas, hanyalah 14 persen.

Kedua, tapi itu mungkin juga berhubungan dengan fakta bahwa mayoritas warga Indonesia tidak terterpa isu kebangkitan PKI.

Ketiga, kampanye kebangkitan PKI selama ini rupanya lebih beredar di kalangan berpendidikan tinggi; dan sebaliknya, relatif terbatas di kalangan berpendidikan rendah.

Keempat, kaum pendukung Prabowo lebih menjadi sasaran kampanye ini ketimbang kubu Jokowi.

Yang ingin saya katakan, data ini tidak berarti akan menyurutkan hasrat para penyebar fitnah tentang ancaman PKI. Saya percaya bahwa para penyebar fitnah itu sebenarnya tahu tidak ada ancaman PKI.

Dengan akal sehat saja, kita bisa menilai mana mungkin ada ancaman Komunisme di Indonesia di abad 21.

Komunis itu sudah mati di dunia. Bahkan RRC yang masih disebut negara Komunis, sudah mengubah arah ekonominya menjadi ‘ekonomi pasar sosialis’.

Komunisme itu anyep. Dan di mana pula kita menemukan adanya indikasi gerakan Komunis saat ini di Indonesia?

Kalau ada, ya harusnya sudah terdeteksi dong. Dikalangan elit tidak ada. Di kalangan rakyat, juga tidak ada. Jadi omong kosonglah soal Komunisme. Tapi masalahnya, ini isu yang enak digoreng.

Ini adalah isu yang bisa dipakai untuk mempersatukan massa, terutama umat Islam, dalam rangka membangun gerakan politik. Bagi muslim awam, Komunisme adalah musuh nomor satu. Bagi mereka, soal pembuktian dan verifikasi menjadi tidak penting.

Kalau mereka diserang dengan kebohongan demi kebohongan setiap hari, mereka sangat mungkin percaya.

Jadi, dengan melihat data SMRC, sangat mungkin dalam beberapa tahun kemudian, sasaran kampanye akan digandakan kepada kalangan menengah ke bawah.

Dan masalahnya kemudian yang akan dilabeli sebagai Komunis bukanlah mereka yang sesungguhnya Komunis yang memang tidak ada.

Yang akan dituduh Komunis atau pro-Komunis adalah semua kelompok yang selama ini dicitrakan sebagai anti-agama, anti-Islam. Misalnya saya dan Anda, para penonton Cokro TV. Komunisme akan digunakan lagi untuk memecah bangsa.

Saya percaya gerombolan Gatot, KAMI, 212, Cendana Fans Club, dan seterusnya akan terus menyebarkan kampanye kebangkitan Komunisme.

Karena itu kita harus terus melawan penyebaran kebohongan itu dengan terus menyuarakan akal sehat.

Saya percaya bangsa ini punya akal sehat. Dan dengan akal sehat, negara ini akan selamat

 

Komentar