PAK JOKOWI, LIBAS PENINDAS KRISTEN | Logika Ade Armando

Penindasan terhadap umat Kristen terus berlangsung. Saya curiga bahwa ini terjadi tidak secara alamiah. Ada kekuatan-kekuatan yang memang ingin memecah belah bangsa.

Mereka menggunakan simbol-simbol Islam. Mereka merasa pemerintah tidak akan berani frontal menghadapi mereka. Dan karena itu pula mereka akan semakin berani menjalankan aksi mereka.

Tujuan mereka nampaknya adalah menciptakan ketegangan. Menciptakan rasa ketidakamanan, ketakutan. Bahkan ketidakpercayaan pada pemerintah. Dan kalau ini memang terus terjadi, yang mungkin mereka harapkan adalah umat Kristen akan membalas.

Dan kalau itu terjadi, tak akan terhindarkan konflik yang meluas. Jangan pernah lupa, konflik antar Islam-Kristen sudah berulangkali terjadi di Indonesia. Kita masih ingat konflik berdarah di Ambon. Juga di Poso.

Kita tentu berharap saudara-saudara Kristen tidak terpancing. Karena kalau api sampai tersulut, tidak terbayang kebiadaban apa yang kembali terjadi. Saya melihat ada eskalasi kekerasan terhadap umat Kristen akhir-akhir ini.

Penindasan berlangsung di banyak tempat. Pada September lalu saja, ada sejumlah kasus penting.

Pada 1 September, terjadi pelarangan pembangunan fasilitas rumah dinas pendeta di Gereja Kristen Protestan di Kabupaten Aceh Singkil.

Saya ulang ya, yang ditolak adalah pembangunan rumah dinas.

Pemerintah kabupaten berdalih, rumah dinas itu akan dijadikan gereja dan karenanya harus memperoleh izin masyarakat terlebih dahulu. Pengurus gereja sudah menyatakan bahwa yang dibangun bukanlah gereja melainkan rumah dinas.

Tapi pemerintah kabupaten tetap menolak memberikan izin. Kemudian pada 13 September 2020, sekelompok manusia biadab menteror ibadah online jemaat HKBP di Perumahan Kota Serang Baru, Kabupaten Bekasi.

Ibadah itu tidak mengumpulkan massa.

Hanya ada pendeta, pengurus gereja, dan beberapa jemaat yang membuat siaran live streaming di salah satu rumah di Perumahan tersebut.

Dan tiba-tiba saja serombongan orang tidak dikenal mendatangi rumah tersebut dan mengganggu jalannya ibadah dengan berbagai cara.

Mereka menyalakan musik keras-keras melalui sound speaker persis di depan rumah tempat ibadah online dijalankan. Lantas mereka mengusir pendeta dan jemaat yang ada.

Seminggu kemudian, pada 20 September, terjadi penolakan ibadah oleh kaum biadab terhadap jemaat Gereja Pantekosta di Kecamatan Jonggol, Kabupaten Bekasi.

Adu mulut sempat terjadi antara jemaat gereja dengan gerombolan warga yang dipimpin oleh Ketua RT setempat.

Jemaat menegaskan, bahwa yang mereka lakukan adalah bagian dari pembinaan iman agar jemaat memiliki moralitas yang baik. Namun, warga tetap melarang jemaat tersebut melakukan ibadah.

Keesokan harinya, pada 21 September, terjadi pelarangan renovasi pembangunan rumah seorang warga Kristen di Desa Ngastemi, Kabupaten Mojokerto. Larangan itu dikeluarkan Kepala Desa terhadap warga bernama Sumarmi.

Pertama, kata Kepala Desa, Sumarmi tidak boleh melakukan renovasi bangunan rumah dengan menyertakan simbol salib.

Kedua, Sumarmi tidak boleh melakukan kegiatan doa bersama di rumahnya tersebut. Pihak desa mengklaim, kegiatan keagamaan Kristen tersebut telah menimbulkan keresahan warga. Karena itu renovasi rumah harus dihentikan.

Apa yang terjadi ini jelas membuat umat beragama harus marah. Dalam Islam, tidak pernah ada ajaran untuk melarang umat Kristen beribadah, membangun rumah ibadah, dan menggunakan simbol Kristen.

Masyarakat yang resah dengan kegiatan ibadah beragama hampir pasti adalah kalangan pembenci agama. Mereka yang terus melakukan penindasan adalah mereka yang merusak nama agama. Tapi, mereka nampaknya terus diprovokasi untuk melakukan aksi kekerasan terhadap umat Kristen.

Saya sih percaya di belakang ini ada kekuatan-kekuatan yang menggerakkan. Mereka ingin Indonesia hancur. Mereka ingin Indonesia menjadi wilayah perang saudara yang akan mengorbankan anak bangsa. Karena itu pemerintah tidak bisa terus melakukan pembiaran.

Pemerintah selama ini terkesan takut menghadapi kaum radikal yang secara nyata ingin menghancurkan Indonesia. Padahal kalau kita gunakan akal sehat, apa sih yang harus ditakutkan?

Mayoritas rakyat Indonesia akan berada di belakang Presiden Jokowi kalau dia berani bertindak tegas melibas kaum beringas ini.

Karena itu, once and for all, pemerintah pusat harus segera turun tangan mengakhiri segenap penindasan ini. Para pemecah belah bangsa itu harus tahu mereka tidak bisa semena-mena menindas saudara-saudara umat Kristen.

Aksi kebiadaban ini harus dihentikan. Kebencian terhadap umat beragama ini menghina akal sehat. Mari kita terus gunakan nurani dan akal sehat. Hanya bila kita gunakan nurani dan akal sehat, negara ini akan selamat.

Komentar