UMAT ISLAM INDONESIA BELAJARLAH DARI DRAKOR DAN K-POP I Catatan Syafiq Hasyim

Produk seni Korea Selatan, terutama dalam bentuk Drakor dan K-Pop sudah lama melanda negeri kita. K-Pop dan Drakor bahkan kini menjadi kesukaan orang Indonesia. Mereka tergila-gila dengan Drakor dan K-Pop tak mengenal umur dan juga tak mengenal agama. Baik orang tua maupun anak muda demam produk seni Korea Selatan ini. Baik Muslim maupun non-muslim memiliki pilihan tertentu dari Drakor maupun K-Pop.

Tidak heran jika Wapres Ma’ruf Amin memberikan semacam pujian dan keinginan agar Drakor dan K-Pop bisa menginspirasi kreativitas bangsa Indonesia. Para pekerja seni, artis, aktor, anak muda, dan lain sebagainya diharapkan oleh Wapres bisa mendapatkan ilham dan inspirasi dari Drakor dan K-Pop.

Peryataan Wapres yang kyai ini sudah barang tentu merupakan kabar yang menggembirakan, bukan hanya bagi para pekerja seni, namun juga bagi kita semua. Mengapa? Karena salah satu hambatan terbesar dari kreasi dan kreativitas mereka adalah hal-hal yang berkaitan dengan keagamaan yang menentang mereka dan Kyai Ma’ruf adalah pemimpin otoritas keagamaan MUI yang sering mengeluarkan fatwa, kini menyatakan hal yang tak terduga.

Selama ini, para pekerja seni, artis dan aktor sering dijadikan sebagai sasaran kalangan agamawan, bahwa pekerjaan yang mereka lakukan adalah pekerjaan yang dilarang oleh agama. Beberapa waktu yang lalu bahkan beredar sejumlah daftar pekerjaan yang mereka haramkan untuk dilakukan, antara lain adalah menjadi penyanyi, model, bintang film dan lain sebagainya.

Kreasi-kreasi bagus dalam bentuk film juga banyak yang mendapatkan penolakan dari kalangan salafi dan wahabi di negeri kita ini. Mereka dianggap melakukan pekerjaan kaum-kaum Yahudi, para bintang film dan aktor di atas. Ujung-ujungnya memojokkan pihak non-muslim, namun memakai tameng profesi yang lain.

Karena itu, pernyataan Kyai Ma’ruf Amin yang terbuka soal perlunya kita kreatif dengan bercermin pada kreativitas dan produktivitas Drakor dan K-Pop mengejutkan bagi kita semua, selain sudah barang tentu menggembirakan bagi masa depan pengembangan dunia seni kita. Yang ada dalam benak Kyai Ma’ruf nampaknya adalah kesuksesan K-Pop dan Drakor bisa menjadi konsumsi hiburan bagi hampir seluruh masyarakat dunia. Bisa menjadi trend baru yang mengalahkan seni dan budaya Barat. Saya kira itu yang Wapres pikirkan.

Anjuran Wapres untuk mengambil inspirasi dari Drakor dan K-Pop untuk kemajuan kita ini, sekaligus membawa kita dalam kesadaran yang selama ini tertutup bahwa sesungguhnya umat Islam zaman dahulu pernah mengalami kemajuan peradaban yang sangat pesat, terutama dalam bidang seni.

Seni Islam adalah seni yang inkusif. Seni Islam, meskipun itu keluar dari nilai-nilai dan tafsir keislaman, namun hasil karya seninya adalah untuk umum dan untuk semua. Seni Islam itu menurut definisi para ahli adalah seni kreatif yang dilahirkan di tanah di mana umat Islam itu hidup.

Karenanya, seni Islam tidak hanya dikembangkan oleh orang-orang Islam, namun juga oleh orang-orang non-muslim karena biasanya yang hidup di sebuah negara atau wilayah bukan hanya orang muslim saja, namun juga kalangan non-muslim.

Di abad-abad kejayaaan Islam masa lalu, zaman Abbasiyah, Turki Usmani, dan sebagainya, kita bisa melihat bagaimana kreativitas seni Islam begitu gamblang terlihat pada bangunan-bangunan arsitektur pada masanya. Kita bisa melihat Tajmahal, Masjid Agung Xian di Cina, Alhamra di Spanyol dan masih banyak lagi. Seni-seni agung di atas begitu luar biasa dan menjadi simbol kemajuan umat Islam.

Pertanyaannya, kenapa seni Islam yang begitu mengagumkan tidak begitu terlihat pada zaman sekarang di dunia Islam? Di mana letak masalahnya? Bukankah sumber inspirasi itu sama, yakni Islam? Atau ada masalah lain yang menyebabkan hal itu terjadi. Menjawab pertanyaan di atas memang tidak mudah dan bertahun-tahun para sarjana muslim berusaha mencari jawabannya.

Beberapa kalangan menyatakan bahwa secara doktrinal Islam sangat terbuka untuk mengembangkan seni dan hal ini dibuktikan oleh peninggalan seni di era kejayaan Islam yang begitu luar biasa dan kita pun masih bisa menyaksikan kehebatannya sampai masa sekarang. Salah satu hambatan terbesar dalam pengembangan seni Islam adalah adanya monopoli penafsiran tentang seni Islam yang paling benar.

Monopoli penafsiran ini mengatur bahwa seni peran, musik, dlsb, yang sesuai dengan Islam itu yang ini dan itu. Pihak yang giat menyuarakan dominasi penafsiran seni Islami adalah mereka yang memiliki cara pandang skripturalistik dalam menafsirkan agama. Kaum Wahabi dan kaum Salafi adalah dua kelompok dalam Islam yang paling menonjol menolak adanya pengembangan dunia seni yang kompleks dan plural.

Menurut mereka, seni musik yang benar di dalam Islam ya seni musik yang tidak memakai alat musik, tidak mengundang imajinasi buruk pada yang mendengarkannya, penyanyinya harus laki-laki. Bahkan, pekerjaan menjadi penyanyi saja ditolak, apalagi jika ada penyanyi yang berasal dari jenis kelamin perempuan, pasti penolakannya akan bertubi-tubi.

Karenanya, tidak mungkin negeri-negeri seperti Saudi Arabia, yang selama ini ulamanya memandang bahwa seni musik itu haram, dlsb, akan mengambil inspirasi dari keberhasilan Korea Selatan dalam menjadikan K-Pop dan Drakor sebagai hal yang benar-benar membanggakan bagi negeri mereka.

Kembali lagi, sebenarnya kita tidak hanya berhenti pada kegembiraan dan apresiasi atas pernyataan Kyai Ma’ruf tentang Drakor dan K-Pop. Namun yang paling penting bagi kita adalah sejauh mana ambisi dan semangat Kyai Ma’ruf dihembuskan dalam bentuk tindakan nyata, pemprograman pemerintah yang nyata, dukungan dan perlindungan pada kreasi para seniman dan pekerja seni secara keseluruhan.

Perlindungan pada mereka, terutama dari ancaman vigilante berbasis keagamaan yang sering mengancam daya kreasi mereka, adalah hal yang paling utama bagi pemerintah. Kreativitas itu butuh kebebasan dan kebebasan itu butuh perlindungan.

Sebagai catatan, berkreasi dalam bidang seni, seperti K-Pop dan Drakor, bukan sekadar wacana dan semangat saja. Banyak hal yang harus dilakukan untuk mendukung kemajuan mereka.

K-Pop dan Drakor bisa sukses seperti yang kita lihat sekarang ini karena akumulasi dari berbagai aspek, terutama dukungan pemerintah dan negara. Pernyataan Kyai Ma’ruf itu mengindikasi bahwa meniru kreativitas Drakor dan K-Pop adalah sesuatu yang Islami, yang perlu diendorse oleh negara.

Komentar