UI DIDUKUNG ALUMNI ITB, IPB, ITS, UNS MELAWAN PKS | Logika Ade Armando

Upaya kampus-kampus perguruan tinggi negeri melawan manuver PKS memperoleh momentum.

Ini setidaknya ditunjukkan oleh dukungan dari alumni ITB, IPB, ITS, UNS dan UI sendiri terhadap aksi dosen UI menggugat politisi PKS secara hukum.

Tokoh PKS yang digugat itu bernama Muzzammil Yusuf.

Dia adalah pemimpin fraksi PKS di MPR.

Muzzammil sebenarnya lulusan jurusan Ilmu Politik FISIP UI.

Tapi dua pekan yang lalu dia menyatakan melalui videonya bahwa UI mengajarkan seks bebas dalam program penerimaan mahasiswa baru.

Itu tentu saja bohong.

Muzzammil hanya mencuplik sejumput materi dalam pendidikan berisi pencegahan kekerasan seks yang kemudian dia plintir sehingga seolah-olah UI mengajarkan bahwa hubungan seks antara mahasiswa dan mahasiswi adalah hal yang sah dan wajar.

Fitnah ini tentu menimbulkan reaksi keras.

Sebuah petisi yang ditandatangani 1000 dosen dan mahasiswa UI dikirimkan untuk menunjukkan dukungan pada pimpinan UI agar program pencegahan kekerasan seks terus dilanjutkan.

Sejumlah dosen UI juga mengadukan Muzzammil ke polisi, atas tuduhan menyebarkan kabar bohong.

Tanpa disangka, langkah itu kemudian didukung oleh sejumlah alumni perguruan tinggi negeri terkemuka lain, selain alumni UI sendiri tentunya.

Para alumni ITB, IPB, ITS, UNS, dan UI mengirimkan karangan bunga yang berisikan pernyataan dukungan agar pimpinan UI memperkarakan pencemaran nama baik UI.

Kenapa muncul reaksi yang sedemikian keras?

Saya percaya ini bukan soal sekadar fitnah tentang program kekerasan seks.

Reaksi ini adalah bentuk kemarahan yang terpendam terhadap apa yang dilakukan PKS di berbagai perguruan tinggi negeri terkemuka.

Video Muzzammil itu memang bukan cuma soal menyebut seks bebas.

Dia juga bicara soal pakta integritas yang harus ditandatangani mahasiswa baru.

Menurut Muzzammil, pakta integritas tersebut juga harus dibatalkan oleh Rektor UI karena bertentangan dengan UUD 1945.

Jadi, Muzzammil dan PKS memang menyerang legitimasi UI.

Frame yang dibangun adalah: UI dewasa ini menjelma menjadi lembaga yang mencuci otak mahasiswa menjadi kaum liberal yang tak peduli dengan nilai-nilai agama dan menjadi kaum yang tidak kritis terhadap pemerintah Jokowi.

Dan frame ini sengaja dibangun agaknya karena PKS marah bahwa di bawah kepemimpinan Rektor UI saat ini, Prof. Ari Kuncoro, UI menghabisi kursi kekuasaan dan pundi kekayaan PKS di kampus.

Sebagai contoh, dulu program penerimaan mahasiswa baru UI diserahkan langsung pada BEM UI.

Masalahnya, BEM UI hampir selalu dikuasai oleh mahasiswa tarbiyah yang berafiliasi pada PKS.

Karena itulah, program pendidikan mahasiswa baru menjadi ladang strategis bagi kaderisasi PKS.

Itu sudah berlangsung selama belasan tahun.

Dan kini tiba-tiba Rektor UI memindahkan otoritas pembinaan mahasiswa baru ini kepada Direktur Kemahasiswaan yang memang bersikap tegas kepada kelompok-kelompok yang hendak mempolitisasi kampus.

PKS nampaknya menjadi murka atas perubahan itu.

Penyebaran fitnah oleh Muzzammil harus dibaca dalam konteks upaya membangun opini publik untuk menolak kebijakan-kebijakan pimpinan UI ini.

Jadi, keramaian ini adalah sekadar bentuk kecil dari pertarungan antara UI dan PKS.

Dukungan dari alumni universitas ternama lain terhadap UI itu pun harus dibaca dalam perspektif serupa.

Yang marah dengan Islamisasi kampus bukan hanya UI.

Yang saya maksud dengan Islamisasi kampus ini adalah gerakan sistematis, terencana, dan berkelanjutan untuk menancapkan dominasi kaum Islamis radikal baik di birokrasi kampus maupun di gerakan kemahasiswaan.

Ketika posisi-posisi kunci sudah dikuasai, mereka akan menjalankan strategi peminggiran kaum non-muslim, mempromosikan kaum Islamis – tanpa pertimbangan pencapaian tentunya – dan mengarahkan agar para alumninya bisa menguasai lembaga-lembaga strategis di negara ini.

Ini sudah berkembang sejak awal era reformasi.

Penting untuk mencatat bahwa yang dimaksud Islamis radikal di sini bukanlah hanya PKS.

Islamis adalah kaum muslim yang percaya bahwa syariah harus ditegakkan dan Indonesia harus menjadi negara Islam, atau setidaknya negara yang menjalankan syariah Islam.

Selama belasan tahun proses Islamisasi kampus ini sudah terjadi dan sudah sukses memecah belah dan menghancurkan masyarakat akademik.

Selain PKS, organisasi yang harus dicatat adalah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Dan Islamisasi ini jelas membuat muak mereka yang menolak Indonesia dijadikan negara Islam. Kelompok yang mendukung UI dari ITB misalnya adalah Gerakan Anti Radikal ITB (GAR ITB).

Ini adalah sebuah gerakan alumni ITB yang secara jelas mengarahkan sasaran untuk melawan kaum Islamis radikal ITB.

Gerakan Anti Radikal ITB menjadi mencuat namanya ketika mereka meminta pimpinan Majelis Wali Amanat memberhentikan Din Syamsuddin sebagai salah seorang anggota MWA.

Bagi Gerakan Anti Radikal, Din adalah perwakilan tokoh kaum radikal yang merusak nama baik ITB dengan pernyataan-pernyataan yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Bahwa di ITB sampai ada gerakan seperti itu menunjukkan betapa gentingnya kehadiran kaum radikal di ITB.

Dua tahun yang lalu, Yayasan SETARA melakukan penelitian tentang radikalisme di kampus-kampus Indonesia. Berdasarkan penelitian itu, kondisi ITB mirip dengan UI.

Bisa dibilang ITB juga terbelah antara kaum Islamis radikal dan kaum Merah Putih.

Bahwa Din Syamsuddin, yang bukan lulusan ITB, tidak punya keahlian yang relevan dengan ITB, dan bukan seorang negarawan, sampai bisa menempati posisi sangat terhormat sebagai anggota MWA di sana menunjukkan betapa besar kekuatan dan pengaruh kaum Islamis radikal di ITB.

Di Institut Pertanian Bogor (IPB), kondisinya jauh lebih memprihatinkan. Sejak lama IPB dikenal sebagai kampus yang sangat peduli syariah.

Ilustrasi sederhananya, perempuan muslim di sana yang tidak mengenakan jilbab akan mengalami beragam tekanan.

Di kelas-kelas kuliah, tempat duduk mahasiswa pria dan perempuan lazim dipisah.

Ketika kuliah berakhir, para senior bisa saja tiba-tiba masuk ke kelas dan memberikan wejangan Islam pada mahasiswa baru.

Para dosen nonmuslim lazim mengalami hambatan dalam perkembangan karier akademiknya.

Kegiatan-kegiatan kemahasiswaan yang dianggap tidak sesuai syariah, misalnya pertunjukan musik, hampir mustahil diselenggarakan.

Saya tidak punya informasi cukup tentang UNS dan ITS, tapi mengingat para alumninya sampai mengirimkan dukungan pada UI, saya duga kondisinya mengandung kemiripan.

Seperti saya katakan, proses Islamisasi perguruan tinggi negeri ini sudah terjadi selama belasan tahun, atau bahkan lebih dari 20 tahun.

Yang menjalankannya memang bukan hanya PKS. Di IPB misalnya, yang juga kuat adalah HTI. Namun yang memiliki pengaruh besar dan memang memiliki organisasi paling rapih adalah PKS.

Islamisasi ini bukan saja memecah belah, mendiskriminasi nonmuslim, tapi juga membahayakan kualitas akademik perguruan tinggi.

Karena kepercayaan mereka terhadap persaudaraan Islam, kaum islamis yang sudah bercokol di posisi-posisi strategis akan memprioritaskan warga akademik – dosen ataupun mahasiswa – yang Islam, terlepas dari kualitasnya.

Saya punya contoh tentang dosen yang memiliki pencapaian akademik tinggi tapi dihambat karier akademiknya hanya karena dianggap anti kaum Islamis.

Saya bahkan juga memperoleh cerita tentang dana beasiswa LPDP (Lembaga Pengelola Dana Pendidikan) yang dimanfaatkan secara salah.

Beasiswa ini adalah program Kementerian Keuangan untuk membiayai pengiriman mahasiswa terbaik ke berbagai perguruan tinggi terbaik di dunia.

Namun, saya memperoleh informasi, bahwa banyak dari para penseleksi calon penerima beasiswa adalah kaum Islamis.

Dan mereka diskriminatif.

Ketika mereka menemukan mahasiswa brilian tapi bertentangan dengan nilai-nilai kaum Islamis, dengan mudah mereka mencoret nama calon penerima beasiswa itu.

Sebaliknya mereka dengan murah hati meloloskan penerima beasiswa yang dinilai Islamis, kendatipun nilai mereka sebenarnya pas-pasan atau bahkan di bawah standar.

Karena itulah, banyak dari penerima beasiswa LPDP yang akhirnya gagal ketika sudah berada di kampus dunia terbaik.

Dana triliunan rupiah jadi tersia-sia. Contoh-contoh ini bisa terus dilanjutkan.

Namun mudah-mudahan itu sudah cukup untuk menjelaskan mengapa ada kemarahan kolektif di berbagai perguruan tinggi terkemuka terhadap PKS dan gerakan Islamis radikal lainnya.

Ketika sekarang, PKS menyerang kewajiban penandatanganan pakta integritas dan pendidikan pencegahan kekerasan seks di UI, itu dengan mudah dibaca sebagai upaya PKS menghancurkan kewibawaan UI dan pemerintah.

PKS marah karena projek Islamisasi mereka dihambat dan mungkin dihabisi.

Dukungan dari para alumni perguruan tinggi terkemuka ini adalah bentuk solidaritas dari mereka yang menolak Islamisasi kampus oleh PKS dan kelompok-kelompok lainnya.

Saya cuma berharap bahwa pemerintah dan pimpinan UI tidak gentar oleh manuver PKS ini.

Islamisasi kampus harus dilawan. Islamisasi kampus adalah gerakan tanpa akal sehat. Dan tanpa akal sehat, negara ini tidak akan selamat.

Komentar