PKS MEMFITNAH UNIVERSITAS INDONESIA | Logika Ade Armando

Petinggi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) menyebarkan tuduhan bohong tentang Universitas Indonesia.

PKS menuduh di UI para mahasiswa baru diajari nilai-nilai barat tentang free sex. // PKS menuduh bahwa di UI para mahasiswa baru diajari bahwa melakukan hubungan seks suka sama suka tanpa kekerasan adalah sesuatu yang sehat dan sah.

Ini tentu saja ngawur.

Dan kengawuran ini, saya rasa, lahir dari rasa frustrasi PKS yang sekarang kehilangan kekuasaan untuk mencuci otak para mahasiswa di UI untuk menjadi kader-kader loyal partai Islam tersebut. Tuduhan bahwa UI mengajarkan seks bebas ini pertama-tama datang dari Al Muzzammil Yusuf, Pimpinan Fraksi PKS di MPR.

Dalam video yang beredar viral, Muzzammil menuduh UI mengajarkan pendidikan Consensual Sex bagi para mahasiswa baru. Menurutnya, UI mengajarkan bahwa Consensual Sex, yaitu sex antara mahasiswa dan mahasiswi yang dilakukan dengan persetujuan, dengan kesadaran, dan tanpa kekerasan adalah seks yang sehat yang sah.

Pernyataan Muzzammil ini kemudian didukung oleh tokoh PKS lainnya, Didin Hafidhuddin, yang menyatakan bila apa yang disampaikan itu benar, UI merusak moral mahasiswanya. Didin juga mengingatkan agar institusi pendidikan tidak mengajarkan seks bebas.

Seperti saya katakan, itu semua adalah tuduhan ngawur. Fitnah.

Dengan menggunakan akal sehat saja kita semua sudah bisa menduga bahwa tidak mungkin UI mengajarkan seks bebas.

Apa yang diprotes Muzzammil sebenarnya adalah sebuah presentasi dalam kelas virtual kepada para mahasiswa baru terkait pencegahan tindak kekerasan seks

Materi ini ini diberikan mengingat tingginya tingkat kekerasan seks di indonesia, termasuk di kampus-kampus.

Saya memiliki materi presentasi yang dipersoalkan tersebut. Di situ digambarkan bahwa 1 dari 3 perempuan di Indonesia pernah mengalami kekerasan seks.

Juga dikutip data yang menunjukkan bahwa terdapat 174 kasus kekerasan seks di 79 perguruan tinggi di 29 kabupaten/kota di Indonesia.

Di UI sendiri tercatat 39 kasus kekerasan seks yang dilaporkan ke pusat pengaduan. Dalam kaitan itulah kemudian disajikan definisi tentang kekerasan seks.

Singkatnya, yang disebut sebagai kekerasan seks adalah kalau itu melibatkan aktivitas seks yang menyerang, yang memaksa, yang tidak diinginkan oleh orang yang menjadi ‘korban’.

Termasuk di dalamnya adalah pelecehan seks, intimidasi seks, percobaan perkosaan, dan perkosaan itu sendiri.

Presentasi itu kemudian menjelaskan apa kondisi-kondisi yang menyebabkan seseorang menjadi korban kekerasan seks, bagaimana mencegah terjadinya kekerasan seks, apa yang perlu dilakukan bila melihat adanya kekerasan seks, dan ke mana orang bisa mengadu di UI.

Sekarang kita kembali ke pernyataan Muzzammil. Presentasi itu sama sekali tidak bicara soal seks dengan persetujuan antara mahasiswa dan mahasiswi.

Lebih jauh lagi, presentasi itu sama sekali tidak menyatakan bahwa hubungan seks dengan persetujuan antara mahasiswa dan mahasiswi adalah seks yang sehat dan sah.

Presentasi itu memusatkan perhatian pada ancaman kekerasan seks. Dalam konteks penjelasan tentang kekerasan seks itulah kemudian juga dijelaskan apa yang disebut sebagai seks konsensual, yang bukan bagian dari kekerasan seks.

Tapi tidak ada satupun bagian dari presentasi yang mengatakan seks konsensual adalah sah dan wajar.

Materi itu diberikan kepada mahasiswa baru bukan agar mereka aktif melakukan hubungan seks, tapi agar mereka terlibat dalam kampanye melawan kekerasan seks, mencegah kekerasan seks, dan tahu apa yang harus dilakukan bila menjadi korban kekerasan seks atau mengenal mereka yang menjadi korban kekerasan seks.

Lantas, kok bisa-bisanya UI dianggap mengajarkan mahasiswa untuk melakukan seks bebas?

Bahkan sejalan dengan tuduhan Muzzammil itu, berkembang tekanan publik agar dalam program penerimaan mahasiswa baru tidak disertakan materi tentang kekerasan seksual.

Sekarang pertanyaannya, kenapa PKS harus menyebarkan kebohongan tentang UI? Saya duga ini dengan sengaja dilakukan untuk merusak reputasi UI.

PKS memang adalah salah satu parpol yang paling khawatir dengan sikap tegas Pimpinan UI saat ini untuk mencegah menyebarnya paham Islamis radikal di kampus. PKS memang selama berpuluh tahun menancapkan pengaruh yang sangat besar di UI.

Melalui gerakan yang dikenal sebagai Gerakan Tarbiyah (Pendidikan), PKS sudah membangun jaring kekuasaan baik di kalangan mahasiswa, dosen, birokrasi kampus, sampai pimpinan di lembaga-lembaga penting di UI sejak awal reformasi.

Organisasi mereka sangat rapih dan terstruktur.

Gerakan Tarbiyah adalah semacam ‘Negara dalam Negara’ di UI.

Salah satu perwujudan paling nyata dari gerakan Tarbiyah yang menjadi tempat pengkaderan mahasiswa adalah Lembaga Dakwah Kampus SALAM UI (LDK SALAM UI), yang adalah Unit Kegiatan Mahasiswa resmi yang didanai oleh UI.

Pimpinan SALAM UI adalah Ketua Majelis Syuro yang adalah seorang mahasiswa senior yang dipilih oleh pengurus Tarbiyah.

Majelis Syuro (MS) berkoordinasi dengan alumni dan dosen yang tergabung dengan Tarbiyah, dan memiliki hubungan dengan PKS Wilayah Dakwah Jawa Barat. Di bawah Majelis Syuro ada tiga divisi utama, Kaderisasi, Keilmuan, dan Barisan Muslimah.

Selain itu ada pula divisi-divisi yang bertanggung jawab atas kegiatan lapangan, Syiar, Aksi dan Propaganda, Sosial Politik, dan Koordinator Fakultas.

Di fakultas, ada Lembaga Dakwah Fakultas yang juga berada di bawah komando Majelis Syuro. Pemilihan BEM Fakultas ditangani oleh Lembaga Dakwah Fakultas.

Majelis Syuro menentukan siapa yang akan maju menjadi Ketua BEM, baik ditingkat fakultas maupun universitas.

Keputusan Majelis Syuro adalah final dan harus diikuti semua kader Tarbiyah di semua fakultas. Karena sistem komando, dalam sejarah pemilihan BEM di UI sejak awal reformasi, hanya tiga kali pemilihan dimenangkan oleh bukan kader Tarbiyah.

Dan bukan hanya di tingkat mahasiswa, Gerakan Islamis-Tarbiyah juga berusaha menguasai jajaran dosen, pimpinan fakultas, dan kelembagaan di UI.

Gerakan Islamis-Tarbiyah sudah berhasil menempatkan kader mereka sebagai orang yang menempati posisi-posisi kunci seperti Direktur Kemahasiswaan, Direktur Pendidikan, dan Direktur SDM.

Ini mempermudah pengangkatan dosen-dosen muda, alokasi beasiswa, pendanaan kegiatan, atau aktivitas mahasiswa baru yang pro Tarbiyah.

Para dosen dan birokrat kampus pro Tarbiyah ini juga secara sistematis menindas mereka yang dianggap membahayakan gerakan mereka. Para dosen yang kritis terhadap Tarbiyah dipersulit kariernya.

Begitu juga para mahasiswa pro Tarbiyah memperoleh kemudahan-kemudahan untuk memperoleh fasilitas pendanaan dan penghargaan.

Karena menguasai BEM, kegiatan penerimaan mahasiswa baru dapat diarahkan untuk merekrut anggota baru Tarbiyah. Mata kuliah agama Islam ditangani oleh pengajar-pengajar Tarbiyah yang secara halus mengajak mahasiswa diarahkan ke jalur Tarbiyah.

Berbagai kegiatan pengkaderan dilakukan melalui kajian, diskusi, pengajian, atau juga kegiatan rekreatif.

Lembaga Mushola di setiap fakultas menjadi tempat pengkaderan, di mana diselenggarakan kegiatan yang dipimpin senior sebagai mentor.

Mahasiswa yang pintar, berpotensi, dan dianggap berkomitmen akan melalui uji beberapa tahap sebelum akhirnya terpilih dalam lingkaran dalam Tarbiyah, untuk kemudian menjadi kader PKS sesungguhnya, sebagai Aktivis Dakwah Kampus.

Asrama Mahasiswa UI pun ditangani oleh kader Tarbiyah. Jadi, PKS punya kekuatan sangat besar di UI.

Tapi ini semua sekarang berantakan gara-gara pemerintah menjalankan langkah deradikalisasi kampus.

Yang dipilih menjadi pimpinan di perguruan-perguruan tinggi negeri adalah mereka yang dianggap bukan hanya handal tapi juga berkomitmen untuk membangun kampus yang membela NKRI dan Pancasila.

Di UI saat ini, yang menjadi rektor adalah Profesor Ari Kuncoro, dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

Sejak terpilih tahun lalu, Ari sudah melakukan langkah-langkah penataan kembali UI sehingga perlahan-lahan UI bisa dibersihkan dari cengkeraman PKS.

Perlahan-lahan, posisi strategis tidak lagi dikuasai Tarbiyah. Begitu juga kegiatan-kegiatan yang berbau Islamisasi diawasi dan dikendalikan secara lebih ketat.

Dan salah satu yang terpenting adalah mengambil alih kegiatan penerimaan mahasiswa baru dari BEM yang dikuasai para kader PKS ke tangan universitas dan fakultas.

Ini jelas menghantam keras PKS.

Kegiatan penerimaan mahasiswa baru yang diikuti dengan mentoring oleh para senior yang selama ini menjadi arena paling efektif untuk melakukan kaderisasi tiba-tiba saja dipotong.

Karena itulah PKS meradang.

Mereka secara militan menyerang Pimpinan Universitas Indonesia. Itu mereka lakukan untuk menjatuhkan kredibilitas dan legitimasi pimpinan universitas. Mereka ingin sekali menunjukkan pada publik bahwa Pimpinan UI adalah kaum liberal yang akan menghancurkan Islam.

Adanya materi pendidikan pencegahan kekerasan seks pun mereka manfaatkan untuk tujuan menghancurkan Pimpinan UI.

Dan seperti terlihat, kebohongan pun kalau perlu mereka sebarkan untuk mencapai tujuan itu. Ini sungguh memalukan.

Mudah-mudahan saja, masyarakat tidak terkecoh oleh akal bulus PKS ini. Mari kita sama-sama dukung langkah Pimpinan UI membersihkan diri UI dari ancaman kaum Tarbiyah.

Mari kita sama-sama gunakan akal sehat. Dan hanya kalau kita gunakan akal sehat, Indonesia akan selamat.

Komentar