ORANGNYA ANIES BASWEDAN JAUH DI BAWAH KUALITAS PSI | Logika Ade Armando

Kalau Anda sempat menyaksikan rekaman acara Indonesia Lawyer Club pekan lalu, 15 September, rasanya sih Anda akan setuju dengan pernyataan saya ini.

Kualitas orang yang mewakili kubu Anies di acara itu sungguh memalukan. Apalagi karena kubu Anies harus berhadapan dengan wakil partai anak muda berpikiran cemerlang PSI.

Orangnya Anies Baswedan yang muncul adalah Geisz Chalifah. Dia ini andalan Anies Baswedan. Bukan karena Geisz pintar. Tapi karena dia ini tak punya rasa malu.

Apapun akan dia katakan untuk melindungi Anies. Dia sudah berulangkali muncul di ILC TV One. Dan lazimnya – atau selalu – dia muncul dengan sebutan ‘aktivis sosial’. Itu saja sudah mencerminkan ketidakjujurannya.

Dia seperti ingin membangun citra bahwa dia itu adalah bagian dari masyarakat sipil yang netral. Padahal dia adalah Komisaris Badan Usaha Milik Daerah, PT Pembangunan Ancol.

Ia baru diangkat pada akhir 2019 lalu, dan nampaknya karena kedekatannya dengan Anies. Dan sejak saat itulah dia dengan muka badak menjadi juru bicara Anies Baswedan. Pernyataan alumni Himpunan Mahasiswa Islam ini sering menggelikan.

Ketika Januari lalu banyak warga mengkritik Anies karena kegagalannya menangangani banjir Jakarta, Geisz serampangan menuduh kritik itu lebih banyak unsur politisnya.

Geisz juga meracau ketika pada April lalu SMRC merilis survei nasional yang menunjukkan Anies kalah dari Ganjar Pranowo sebagai kepala daerah yang cepat merespons penyebaran Covid-19.

Dalam survei nasional yang melibatkan 1,200 responden dari 34 provinsi ini, 78% warga Jateng menilai Ganjar Prabowo, cepat mengambil kebijakan penanggulangan Covid-19. Sementara itu, hanya 62% warga Jakarta yang menganggap Anies bertindak cepat.

Tiba-tiba saja, Geisz berceloteh bahwa SMRC adalah lembaga survei abal-abal. Dia menuduh, SMRC adalah lembaga survei tukang tipu, tukang utak atik angka. Dia juga menuduh SMRC membuat survei sampah sebagaimana otak pemiliknya.

Kegalauan logika itu yang kembali terlihat di ILC pekan lalu. Topiknya adalah soal keputusan Anies yang berubah-ubah soal PSBB di Jakarta. Yang muncul mewakili PSI adalah anggota DPRD DKI, William Aditya. Kubu Anies nampaknya tahu persis bahwa William akan bicara kritis.

Mereka tahu bahwa yang harus tampil melawan PSI adalah preman yang tidak perlu unggul dalam hal argumen. Yang penting bermuka badak. Dan itulah yang terjadi. Publik disuguhi dagelan yang memalukan dari kubu Anies. Kualitas Geisz terbanting.

Kubu Anies seperti kaum amatiran yang harus berhadapan dengan anak muda yang cerdas, santun, dan kritis dari PSI.

Seperti biasa, kritik dari PS disajikan dengan cara yang sangat tertata rapih. William mengkritik Anies yang dianggap tidak serius menegakkan protokol kesahatan di masa PSBB transisi. Dia menunjukkan contoh-contoh yang sangat mudah dipahami.

Ada sejumlah kebijakan Anies yang dianggap William kontraproduktif terhadap upaya menghentikan penyebaran Covid-19.

Misalnya saja soal pemberlakuan kembali kebijakan ganjil genap untuk kendaraan pribadi, di masa PSBB transisi. Ini, menurut William, tanpa terhindarkan mendorong penumpukan penumpang di transportasi umum.

Padahal, angka penyebaran Covid-19 di sarana transportasi umum di Jakarta termasuk yang tertinggi. William juga mempersoalkan kebijakan Anies mengizinkan kembali Car Free Day, yang mendorong terjadinya penumpukan orang tanpa jarak yang cukup.

Selain itu, Anies juga dikritik karena mengizinkan berbagai demonstrasi tanpa penerapan protokol kesehatan yang ketat.

Itu semua adalah rangkaian contoh sederhana tentang betapa tidak sensitifnya kebijakan Anies terhadap memburuknya kondisi Covid-19 di DKI.

Dalam analogi William, alih-alih mengurangi kecepatan kendaraan, Anies justru seperti menancap gas. Jadi, bisa dipahami kalau jumlah mereka yang terkena pun meningkat. Wlliam juga menyarankan agar pemerintah DKI meningkatkan contact tracing.

Dia menyebut, apa yang dilakukan pemerintah DKI sekarang sebenarnya sudah lebih dari standard yang ditetapkan WHO.

Namun William tetap menyarankan agar jumlah orang yang dilacak ditingkatkan dari enam menjadi 25 per kasus.

Di luar itu, kritik terbesar PSI adalah soal kelemahan Anies dalam mengkoordinasikan langkahnya dengan pemerintah pusat dan juga pemerintah daerah lainnya.

William bahkan harus memberikan nasehat yang sangat elementer, yakni Anies harusnya tidak mengambil kebijakan sendiri tanpa koordinasi dengan pemerintah pusat, karena Indonesia bukan negara federasi.

Dia mengingatkan Anies bahwa pada akhirnya pemegang komando itu adalah Presiden Jokowi dan pemerintah pusat. Jadi, kalaupun Anies mau menginjak rem, jangan rem mendadak. Keputusan Anies tiba-tiba menginjak rem darurat justru bisa menimbulkan tabrakan beruntun.

William misalnya memberi contoh bahwa Anies sampai melakukan dua konferensi pers soal PSBB dengan selisih hanya empat hari, dengan isi kebijakan yang berubah-ubah.

Itu, menurutnya, jelas menunjukkan betapa tidak terkoordinasinya langkah Anies. PSI melontarkan kritik dan masukan itu dengan sangat tenang dan artikulatif. Namun ketika giliran Geisz bicara, yang terlihat adalah dagelan yang memalukan.

Kubu Anies jelas tidak bisa menjawab segenap kritik PSI itu. Karena itulah Geisz meracau. Dia mula-mula membangun kesan bahwa dia sebenarnya enggan datang ke ILC dan baru bersedia datang karena mendapat instruksi Karni Ilyas.

Dia lantas bicara tentang bagaimana dia sibuk terlibat dalam operasi katarak gratis, membangun sekolah-sekolah, dan mengembangkan radio dakwah. Dia juga membual soal dia adalah pengusaha yang sangat paham tentang logika bisnis.

Baru setelah itu semua, dia masuk ke tahap kekacauan yang paling epic malam itu, yaitu soal PSI. Geisz sama sekali tidak menjawab kritik PSI.

Geisz tidak sanggup menanggapi kritik PSI, dan karena itu dia menuduh bahwa tujuan sebenarnya PSI adalah menjatuhkan Anies Baswedan. Dengan gaya suami merajuk, Geisz mengatakan bahwa, PSI tidak pernah memuji Anies.

PSI, katanya, hanya bisa mengkritik Anies tanpa pernah melihat sisi posisif Anies.

Dengan mencengangkan, Geisz menuduh bahwa PSI bungkam ketika Anies menyatakan ada Corona di DKI, ketika Anies membangun laboratorium, dan ketika Anies ingin melaksanakan PSBB.

Menurut Geisz, PSI seharusnya bersinergi dengan pemerintah, dan bukan malah membuat komentar-komentar yang membully Anies.

Dan puncak dari segenap dagelan kebodohan ini adalah ketika di ujung presentasinya, Geisz menantang PSI bertarung dalam Pilkada 2022. Kita bertarung di sana, kata Geisz.

Kita tahu siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah, kata Geisz. Seperti saya katakan, kualitas kubu Anies ini jauuuuuh di bawah anak-anak muda PSI. Tak satupun kritik William dibahas Geisz.

Tidak satupun.

Geisz nampaknya tidak ingin publik memikirkan dan membicarakan kritik PSI dengan mengalihkan pembicaraan sehingga seolah-olah kritik PSI didasari pada niat jahat.

Geisz dengan arogan mengajari PSI tentang peran parlemen dan partai politik, yang sialnya salah pula. Logika Geisz cacat secara mendasar.

Parlemen memang seharusnya mengawasi dan kalau perlu mengkritik pemerintah ketika pemerintah dianggap mengeluarkan kebijakan yang tidak melindungi rakyat.

Kenapa PSI harus memuji-muji pemerintah? Kenapa PSI tidak boleh menunjukkan kesalahan kebijakan Anies? Dan apa pula relevansi ini semua dengan Pilkada 2022, yang belum tentu juga ada.

Dan ketika Geisz mengatakan, “Kita bertarung di sana.” Yang dimaksud ‘kita’ oleh Geisz itu siapa? Memang parpol apa yang diwakili Geisz?

Tapi mungkin memang berlebihan juga bagi saya untuk membicarakan logika Geisz. Geisz itu sekadar mewakili kualitas dan kapasitas kubu Anies. Kualitas mereka yang berada di kubu Anies ya memang di situ.

Anies juga dulu menjadi Gubernur bukan karena kualitas, tapi karena kampanye kebohongan tentang agama. Gubernur semacam Anies, dikelilingi orang-orang semacamnya.

Jangan pernah harapkan akal sehat ada di sana.

Kalau Anda menyaksikan William dan kawan-kawannya dari PSI bicara, Anda akan dengan bahagia menyadari betapa pintar, cerdas, dan berintegritasnya anak-anak muda Indonesia.

Tapi ketika Anda mengalihkan perhatian pada kubu Anies, kita akan membayangkan sebuah Indonesia yang terbelakang kalau mereka berkuasa.

Di kubu Anies tidak ada akal sehat. Padahal tanpa akal sehat, bagaimana Indonesia akan selamat?

Komentar