Eko Kuntadhi: WASPADA BAHAYA LATEN DI/TII!

Coba deh lihat kalender. Setiap bulan tertentu kaum Kadrun itu biasanya punya agenda isu. Misalnya, setiap Desember mereka akan meramaikan isu tentang haram ucapkan selamat Natal. Padahal kan ngucapin selamat Natal pada orang Kristen kan gak apa-apa. Yang diharamkan itu, ngucapin Natal pada sesama muslim.

Kalau bulan Februari, biasanya mereka koar-koar haram rayakan Valentine. Sementara pada September kayak sekarang ini nih, mereka akan sibuk bicara soal kebangkitan PKI. Dari tahun ke tahun, agendanya ya begitu-begitu aja.

Yang norak, mereka sibuk teriak-teriak soal nonton film G30S/PKI. Sebetulnya kalau mau nonton, ya nonton aja sendiri. Di Youtube film itu bisa kapan saja kok ditonton. Pemerintah gak ngelarang. Mau seribu kali diputer bolak-balik juga terserah. Jadi kenapa sih mesti ribet soal pemutaran film itu? Kudet banget sih.

Tapi kan kalau nonton Youtube, perlu paket data. Masyaallah, jadi gerombolan mereka ini setiap tahun bikin ribut negara urusannya kan cuma soal paket data doang? Kasian amat Indonesia kalau kayak gitu…

Tapi kenapa sih, mereka tiap tahun berkoar-koar soal PKI? Katanya PKI itu kejam. Suka membunuh. Makanya Indonesia harus menolaknya. Iya, gua setuju aja sih. Kita kan sudah punya TAP MPRS XXV/1966 tentang pembubaran PKI dan larangan pada ideologi komunis.

Coba deh, kita lihat data sejarah. PKI pernah mengadakan pemberontakan di Madiun pada 1948. Waktu itu korban akibat ulah gerombolan komunis mencapai 268 orang. Setelah peristiwa Madiun, PKI melakukan pemberontakan lagi pada 1965. Korbannya sekitar 10 orang. Tujuh orang di antaranya para jenderal Angkatan Darat diangkat sebagai pahlawan revolusi. Korban PKI yang lainnya berhubungan dengan tragedi 1965 itu adalah sekitar 50 orang, terjadi di Banyuwangi, Jawa Timur.

Coba kita bandingkan dengan pemberontakan DI/TII pimpinan Kartosoewirjo, Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia. Mereka ini membelot dari pemerintahan Indonesia yang sah, karena mereka mau bikin Indonesia sebagai negara dengan pemerintahan yang Islam. Mirip dengan kaum khilafah sekarang.

Bersama Negara Pasundan yang merupakan boneka dari Belanda, DI/TII itu mengacau di sekitar Jawa Barat. Pengaruhnya juga melebar sampai ke Sulawesi Selatan dengan tokohnya Kahar Muzakar, di Aceh ada Daud Beureh, Kalimantan Selatan ada Ibnu Hajar, dan di Jawa Tengah ada Amir Fatah.

Masa pemberontakan DI/TII itu terjadi sejak 1949 sampai 1962. Dulu di Jawa Barat mereka dikenal dengan istilah gerombolan. Kerja gerombolan itu ya menghancurkan siapa saja yang tidak setuju dengan ide negara Islam menurut versi mereka. Mereka membakar rumah, membunuh penduduk, merampok hasil tani, buat mereka itu biasa-biasa saja. Tidak sedikit juga ulama dan tokoh agama yang menjadi korban keberingasan DI/TII ini.

Dalam persidangan Kartosoewirjo, jaksa penuntut umum menjelaskan selama petualangannya DI/TII sudah mengakibatkan jatuhnya korban jiwa sebanyak 22 ribu lebih rakyat Indonesia. Ya, 22 ribu orang mati di tangan gerombolan DI/TII. Itu baru korban yang di Jawa Barat. Belum lagi di daerah-daerah lain seperti yang tadi gua omongin.

Kita tentu gak mau menghitung, mana korban yang lebih banyak korban PKI atau korban DI/TII. Apapun alasannya, setiap korban jiwa dalam petualangan politik adalah titik hitam dalam sejarah kemanusiaan di Indonesia.

Yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa memetik pelajaran dari peristiwa tersebut.

Herannya orang sekarang teriak soal kebangkitan komunis atau PKI. Padahal kalau lo perhatikan sehari-hari, bisa dikatakan komunisme itu sudah hampir punah. Uni Sovyet sebagai negara pusatnya komunisme sudah ambyar sekarang. Tembok Berlin yang memisahkan Jerman Barat dan Jerman Timur juga udah runtuh.

Di Indonesia kita punya TAP MPRS yang melarang PKI dan komunisme bangkit. Jadi tanda-tanda komunisme bangkit sama sekali gak kecium baunya. Yang ada hanya suara Rizieq, Gatot atau Amien Rais yang masih sibuk ngomongin soal hantu PKI. Kenapa gua bilang hantu? Karena emang gak ada bentuknya. Tapi isunya dibuat untuk menakut-nakuti doang.

Bandingkan dengan isu khilafah sebagai warisan dari gerakan DI/TII. Lo perhatiin, gejalanya jelas dan terang benderang. Ideologi model DI/TII ini diteruskan oleh banyak orang. Orangnya kelihatan di sekitar kita. Kita gampang menunjuk orang tuh siapa-siapa saja yang teriak-teriak khilafah sekarang. Bahkan di BUMN atau pegawai negeri, gak susah mencari pendukung khilafah.

Artinya gini, di Indonesia kita pernah punya pengalaman dua pemberontakan besar yang membahayakan ideologi negara. Pertama, pemberontakan PKI. Yang satu ini, sekarang, gejalanya boleh dibilang gak lagi terdeteksi. Bau-baunya sih gak kelihatan. Kalau ada orang yang ngomong soal kebangkitan PKI, anggap saja mereka sedang dilanda halusinasi. Nakut-nakutin kita dengan hantu yang gak jelas keberadaannya.

Yang kedua adalah pemberontakan model DI/TII, yang mau mendirikan negara berdasarkan agama. Soal khilafah-khilafah itu. Kalau yang satu ini gejalanya bahkan kita rasakan sehari-hari. Lo lihat medsos banyak pendukung khilafah. Mereka ada di sekitar kita. Bukankah para teroris juga didasarkan pada pemahaman agama model khilafah ini? Mereka mau menegakkan negara Islam.

Singkatnya gini ya. Bagi gua ya, isu PKI itu cuma hantu. Kayak cerita soal kuntilanak. Gunanya buat nakut-nakutin doang. Tapi ya, gak bahaya. Kan kita gak pernah dengar ada kuntilanak yang nyekek orang kan?

Sementara kebangkitan DI/TII itu ibarat kayak begal. Kita rasakan kehadirannya. Ada dalam jalan-jalan yang sepi kita bisa jadi korban. Kita juga tahu kejahatannya. Korbannya banyak bergelimpangan di mana-mana. Maksudnya gini, mereka hadir lebih nyata. Lebih merugikan kehidupan kita.

Trus, kenapa ada gerombolan masih suka memainkan isu kebangkitan PKI? Lu ingat film Scooby-Doo, kan?

Kalau nonton film itu, biasanya nih ya, mereka yang mengisukan soal hantu adalah penjahat yang mau dapat keuntungan dari ketakutan yang dibuatnya.

Bagi gue sih, ketimbang nonton G30S/PKI, gue lebih tertarik nonton film Scooby-Doo. Pesan dan pelajaran yang bisa dipetik jauh lebih bermanfaat.

DII/TII menurut gua dengan pergerakan yang ada sekarang, khilafah-khilafah, jauh lebih berbahaya dan lebih riil ada di depan kita, itu yang harus kita lawan.

Gue sih, cuma ngajak lu berpikir, kesimpulannya terserah lu…

Terima kasih

Komentar