Eko Kuntadhi: AHOK, PERTAMINA DAN PENYAKIT GILA PKI

Kisanak kita jumpa lagi.

Komisaris Utama Pertamina, Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok, baru-baru ini membeberkan daleman Pertamina ke hadapan publik. Ahok mempersoalkan berbagai kejanggalan dalam pengelolaan BUMN perminyakan tersebut.

Menurut Ahok, banyak keputusan bisnis soal kilang minyak yang tidak efisien secara bisnis. Selain itu, juga adanya orang yang sudah tidak menjabat lagi di Pertamina, tetapi gajinya masih lancar jaya. Enak bener…

Tapi Kisanak, pernyataan Ahok ini membuat anggota DPR RI dari Partai Gerindra Andre Rosiade, berang. Andre meminta Ahok jangan terlalu banyak ngomong soal Pertamina.

Tentu saja kita heran Kisanak, dengan permintaan Andre tersebut. Ahok adalah Komisaris Utama Pertamina. Masa dia gak boleh ngomong soal Pertamina?

Permintaan Andre itu sangat berat. Ini lebih berat ketimbang Sugik Nur yang dilarang ngomong “jancuk” dalam ceramahnya.

Sebagai anggota DPR, mestinya Andre memahami fungsi seorang komisaris di perusahaan BUMN. Ahok digaji memang untuk mengawasi jalannya perusahaan tersebut.

Jika saja Ahok bicara soal penggerebekan PSK, tentu kita maklum kalau Andre marah. Karena hal itu berarti Ahok mengambil lahannya Andre. Tapi, ketika Ahok bicara soal Pertamina, Andre mestinya tidak perlu marah. Ahok tidak bicara soal penggerebekan PSK. Sebagai komisaris Pertamina, ia bicara mengenai perusahaan yang diawasinya. Bukan tentang penggerebekan PSK.

Kisanak, kita tahu, setiap orang perlu menempatkan diri ketika berbicara ke publik.

Komisaris Pertamina bicara soal Pertamina. Menteri Kesehatan bicara soal penanganan Pendemi. Menteri Keuangan harus bicara soal kondisi keuangan negara. Sedangkan anggota DPR seperti Andre Rosiade, bolehlah bicara soal penggerebekan PSK. Semua sesuai porsinya.

Kisanak, kalau kita telusuri, sebetulnya statemen Ahok ini sekali lagi membuktikan, bahwa BUMN selama ini memang sering menjadi sapi perahan.

Sebagai pemegang saham, negara perlu menempatkan orangnya untuk mengawasi BUMN tersebut. Itulah fungsi seorang komisaris BUMN. Jadi kisanak, mestinya seorang komisaris BUMN bukan merupakan orang titipan. Sebab komisaris itu berbeda dengan sandal jepit, yang bisa dititip sembarangan. Komisaris BUMN juga bukan PSK, yang bisa digerebek sembarangan.

Kisanak, kita ikuti berita kedua…

Seorang dai ternama, Syekh Ali Jaber mendapat serangan penusukan saat mengisi pengajian di masjid Afaludin Tamin Sukajawa, Bandar Lampung. Akibat tusukan itu, bahu kanan penceramah asal Saudi Arabia ini terluka parah.

Syekh Ali Jaber sendiri dalam tanggapannya menyatakan, jangan mengaitkan peristiwa yang menimpa dirinya dengan masalah politik.

Kisanak, berkenaan dengan peristiwa itu, sempat terdengar pelakunya mengalami gangguan jiwa alias gila. Tetapi hasil tes kejiwaan menunjukkan pelakunya normal-normal saja.

Pelakunya memang tidak gila, Kisanak. Tetapi kelakuannya bisa memicu para pengidap sakit jiwa kambuhan di Indonesia yang biasanya muncul setiap bulan September, setiap tahunnya. Mereka ini dikenal mengidap penyakit gila PKI.

Cirinya mereka percaya pada halusinasi tentang kebangkitan PKI. Pokoknya segala masalah yang terjadi pada bulan September selalu dikaitkan dengan isu kebangkitan PKI.

Mungkin Kisanak, hanya lagu Vina Panduwinata saja, September Ceria, yang tidak mereka kaitkan dengan PKI.

Dalam penelusuran, ada seorang WNI yang kini berada di Saudi merupakan salah satu orang yang mengidap jenis penyakit halusinasi level 9 ini. Makanya ia langsung mencap kejadian Syekh Ali Jaber sebagai bentuk kebangkitan PKI atau neo PKI.

Kegilaan sejenis juga dilontarkan sebuah organisasi yang mengajak melakukan pembalasan atas kasus tersebut. Seperti Imam besarnya di Saudi tadi, organisasi ini juga menyebut-nyebut soal PKI.

Syekh Ali Jaber sendiri sudah menyerahkan kasusnya pada aparat keamanan. Sampai saat ini, boro-boro ada indikasi PKI. Mungkin saja di rumah Alpin Andria sang pelaku, palu arit saja juga tidak punya.

Tapi bagi pengidap penyakit gila PKI ini, soal fakta bukanlah hal penting. Yang penting, PKI cuy…

Para penderita penyakit ini juga memiliki koleksi bendera PKI cukup banyak. Bendera-bendera itu digunakan untuk dibakar saat mereka berdemonstrasi.

Sempat terdengar Kisanak, menyambut September Ceria ini, kelompok gila PKI ini akan menggelar nonton Film bersama, Penghianatan G30S/PKI di masjid-masjid. Entahlah, apakah rencana itu akan tetap berjalan Ketika Jakarta ditetapkan statusnya PSBB.

Kita berharap, semoga ke depannya panitia nonton bareng bisa juga menyetel film Mulan, keluaran Walt Disney. Buat hiburan untuk anak-anak.

Atau untuk memperingati kepergian seorang tokoh ke Saudi dan sampai sekarang gak pulang-pulang, panitia bisa mengajak jemaahnya nonton bareng film: Kejarlah Daku, Kau Kutangkap atau nonton film Dua Garis Biru.

Kisanak, apa guna dua garis biru tersebut? Mari kita tanyakan kepada Kak Ema!

Demikian berita kali ini kami buat tanpa paksaan.

Anda sedang berada di channel paling update seangkasa raya.

Lemesin aja, Kak Ema…

Terima kasih.

 

Komentar