DULU SAYA PENDUKUNG PARTAI KEADILAN SEJAHTERA | Logika Ade Armando

Saya dulu pendukung Partai Keadilan Sejahtera. Sekarang tidak lagi. Menurut saya, mereka sudah mengkhianati amanah yang diberikan pada mereka. Menurut saya, mereka tidak memperjuangkan keadilan.

Tidak memperjuangkan kesejahteraan. Saya bahkan menganggap mereka tidak pantas menyebut diri sebagai Partai Islam.

Saya mengenal PKS lebih dekat daripada partai lain karena mereka lahir dari kampus, dan saya juga dulu aktivis di kampus UI.

Bahkan mungkin tak banyak yang tahu, ketika masih menjadi mahasiswa di FISIP UI, saya dikenal sebagai aktivis muslim.

Saya jelaskan singkat latar belakang saya. Saya dibesarkan dalam keluarga Minang, dan sebagaimana keluarga Minang lainnya, keluarga saya menginjeksikan nilai-nilai islam yang kental terhadap saya.

Untungnya, orangtua saya bukan tipe muslim yang tak berakal. Keluarga saya memiliki tradisi pluralis. Sejak kecil saya sudah mengenal kawan-kawan orang tua saya yang multi agama dan multi ras, bahkan multi bangsa

Saya adalah cucu dari seorang pengusaha Minang, Ayub Rais, yang menjadi salah seorang pendana Bung Hatta. Saya dibesarkan dengan ajaran bahwa semua umat manusia bersaudara

Saya juga beruntung karena orangtua saya mengajarkan saya untuk banyak membaca dan memahami dunia secara rasional.

Sejak remaja saya jadinya sudah belajar tentang peradaban dunia, tentang demokrasi, tentang nilai-nilai kemanusiaan, tentang kesenjangan kaya-miskin dan arti penting rasionalitas.

Ketika saya masuk FISIP UI, Islam memang sedang menjadi korban penindasan rezim Soeharto. Saya merasa umat islam dicurigai, dipinggirkan dan diperlakukan tidak adil.

Saya bahkan ikut dalam kegiatan latihan pendidikan aktivis islam yang diselenggarakan secara rahasia di masjid Salam ITB.

Saya dekat dengan senior-senior HMI (Himpunan Mahasiswa Islam) yang ketika itu menjadi sasaran incaran pengawasan Orde Baru.

Saya hadir di ceramah, pengajian dan diskusi di mana hadir para pembicara yang menggambarkan penderitaan umat islam di bawah Soeharto.

Di saat saya kuliah, peristiwa pembantaian Tanjung Priok terjadi. Saya akrab dengan gagasan Revolusi Islam dan negara islam. Perlahan saya dikenal sebagai aktivis muslim

Ketika saya menjadi anggota senat mahasiswa, saya bahkan motor yang memperjuangkan lahirnya musholla di FISIP UI.

Dan ini menjadi perkara berat karena pimpinan fakultas ketika itu sangat alergi dengan Islam. Tapi ada dua hal yang membuat saya tidak menjadi ‘jihadis’.

Pertama, saya membaca banyak buku dan berdiskusi dengan mereka yang moderat. Kedua, saya beruntung dekat dengan Imam Prasodjo yang membuka mata saya pada pemikir islam progresif, terutama Fazlur Rahman (intelektual Pakistan) dan Nurcholish Madjid.

Dari proses pembelajaran tersebut, saya menjadi yakin bahwa penyebab utama keterbelakangan islam adalah ketertinggalan dunia islam secara intelektual.

Penjajahan barat atas dunia Islam yang sudah terjadi selama berabad menyebabkan Islam terjerembab dalam kebodohan dan kesempitan cara berpikir.

Saya belajar bahwa Barat mencapai kemajuan setelah mengalami proses ‘pencerahan berpikir’

Mereka meninggalkan kesempitan cara beragama di masa kegelapan, dan dengan intelektualitas mereka mencapai kemajuan peradaban yang luar biasa.

Karena itulah, sebagai aktivis muslim saya mengembangkan kegiatan-kegiatan yang mendorong mahasiswa untuk berpikir.

Saya bersama-sama kawan Senat Mahasiswa, menyelenggarakan Seminar dua hari Percakapan Cendekiawan Tentang Islam pada 1984.

Yang kami undang adalah intelektual muslim berpikiran kritis seperti Dawam Rahardjo, Kuntowijoyo, Adi Sasono, Jalaluddin Rahmat dan sebagainya.

Saya percaya pertemuan dua hari itu turut menyumbang bagi lahirnya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)

Sekadar catatan, orang yang kami tunjuk menjadi Ketua Panitia acara tersebut adalah Muzammil Yusuf, yang ketika itu baru menjadi mahasiswa tingkat pertama FISIP UI.

Kami memilih dia antara lain karena kami ingin meyakinkan para petinggi UI bahwa orang yang memimpin acara tersebut adalah seorang mahasiswa yunior yang tidak terkontaminasi dengan ide-ide revolusi Islam.

Acara itu melambungkan nama Muzammmil, dan belakangan dia menjadi salah seorang aktivis Islam yang turut mendirikan PKS.

Kini Muzammmil menjadi ketua Fraksi PKS di MPR dan ironisnya justru memfitnah UI. Kembali ke soal keterlibatan saya dalam aktivisme islam. Dalam pandangan saya, kalau Indonesia ingin maju, ya umat Islam harus maju.

Namun ketika itu saya sudah sadar bahwa kuncinya adalah bukan membangun persaudaraan islam, atau membangun kekuatan untuk melawan non-muslim, tetapi membangun umat islam yang pintar, toleran, pluralis dan demokratis.

Seusai memperoleh gelar master di AS, saya kembali dan Majelis Sinergi Kalam, sebuah organisasi kaum muda kritis di bawah ICMI.

Ketika itu saya sangat berharap ICMI akan menjadi wadah bagi kaum intelektual muslim kritis di bawah Habibie.

Saya juga bekerja sebagai wartawan di harian Islam, Republika

Karena semangat mendorong kebangkitan islam itu pula, ketika di UI lahir gerakan mahasiswa islam yang sebetulnya menjadi embrio Kesatuan Aksi mahasiswa Muslim Indonesia yang kemudian melahirkan PKS, saya termasuk pendukung gerakan tersebut

Saya berharap banyak pada anak-anak muda Islam berpendidikan tinggi yang akan memperjuangkan Islam dalam konteks demokrasi

Saya menyangka kalau mereka adalah kalangan intelektual, seharusnya mereka bertindak secara rasional dan terbuka

Dalam pandangan saya, yang akan menyelamatkan Indonesia adalah kelas menengah muslim yang secara kritis terlibat dalam demokratisasi dan berjuang demi kesejahteraan rakyat Indoensia

Dalam bayangan saya, karena memiliki latar belakang keagamaan yang kuat, mereka seharusnya berintegritas, mereka jujur, mereka bersih.

Bahkan sampai awal reformasi pun, saya masih percaya pada kelompok-kelompok islam. Pada Pemilu 1999, saya memilih PAN. Pada pemilu 2004, saya memilih PKS. Pada pilpres 2004, saya bahkan memilih Amien Rais pada putaran pertama.

Tulisan-tulisan saya di rubrik Resonansi di Republika sangat diwarnai semangat keislaman itu.

Ironisnya, karena Republika belakangan menjadi semakin konservatif akhirnya saya diminta oleh pemimpin redaksinya, Asro kamal Rokan, untuk berhenti menulis tentang Islam.

Sekadar untuk menunjukkan kedekatan saya dengan PKS, saya terpilih sebagai salah seorang Pemimpin Muda Indonesia oleh PKS pada November 2008.

Saya berharap banyak pada PKS.

Tapi kemudian sejarah membuktikan bahwa setelah tumbuh menjadi partai berpengaruh, PKS menjauh dari harapan.

Saya rasa ini terjadi karena kekuasaan dan uang memabukkan. Kekuasaan seharusnya cuma menjadi tujuan perantara.

Perjuangan PKS seharusnya adalah untuk memperjuangkan Keadilan dan Kesejahteraan rakyat Indonesia. Tapi secara perlahan itu berubah.

Orang-orang PKS yang saya kenal seolah tak beda dengan politisi-politisi oportunis lainnya. Orientasi mereka adalah mencapai kekuasaan, namun dengan menggunakan nama islam. Mencapai kekuasaan seolah adalah agenda utama. Apapun dilakukan untuk mencapai kekuasaan.

Praktek-praktek kotor seperti menyebarkan kebohongan, hoax, memanipulasi data, atau bahkan mengambil uang yang bukan hak mereka, seperti memperoleh pembenaran selama itu dilakukan demi perjuangan Islam.

Kasus Presiden PKS Lutfi Hassan dengan korupsi impor dagang sapinya adalah contoh terbaik.

Sampai sekarang banyak pendukung PKS tetap percaya bahwa Lutfi tidak korupsi dan kalaupun memang korupsi, uangnya digunakan untuk membiayai perjuangan umat.

Bahkan ingat dengan cerita bahwa ketika melakukan korupsi, para kader PKS menggunakan kode Juz Al Quran? Atau ingat dengan cerita kader-kader PKS yang memiliki perilaku seks liar?

Banyak kader PKS yang menyatakan mengundurkan diri. Mungkin karena akhirnya pun mereka marah dengan perubahan dalam partai yang mereka perjuangkan.

PKS sebenarnya berhasil mengembangkan aset untuk menjadi basis bagi gerakan menuju kemajuan peradaban.

Mereka berhasil mengembangkan lembaga pendidikan, organisasi sosial, gerakan kebudayaan. Mereka berhasil menempatkan kader-kader mereka di universitas, di gerakan kemahasiswaan, di BUMN-BUMN, di masjid-masjid, di lembaga-lembaga strategis

Tapi segenap kekuatan itu tidak digunakan untuk membangun bangsa. Mereka menggunakannya terutama untuk pencapaian kekuasaan.

Mereka bersedia berkolusi dengan kekuatan-kekuatan politik yang jelas-jelas menyengsarakan rakyat.

Dan ketika memperoleh kursi kekuasaan, mereka seolah menjadi sama korupnya dengan politisi-politisi lain.

Dan itu bisa terus terjadi karena para pendukungnya di akar rumput menutup mata dan telinga karena mereka percaya mereka harus taat mutlak pada pimpinan mereka.

Sekarang saya sadar bahwa sekadar pendidikan tinggi ternyata tidak menentukan keberpihakan pada kebenaran.

Mungkin pada awalnya mereka adalah muslim yang baik. Tapi syahwat kekuasaan dan uang nampaknya sudah membutakan mereka. Saya melihat, perlahan-lahan orang baik di PKS tersingkir

Yang bertahan nampaknya tinggal orang-orang yang berebut kekuasaan.

Jadi kalau saya marah pada PKS, adalah karena saya merasa PKS sudah mengkhianati apa yang semula mereka perjuangkan.

Saya dulu mendukung PKS. Tapi sebagai muslim yang baik, saya percaya saya harus jujur menegakkan kebenaran dan melawan kemunkaran.

Bagi saya PKS sedang menjauh dari jalan kebenaran. Marilah kita berharap para pendukung PKS sesungguhnya mau berbicara

Marilah kita berharap mereka mau membuka mata mereka, menggunakan nurani mereka, menggunakan akal mereka.

Mari kita dorong agar mereka mau menggunakan akal sehat. Karena hanya dengan akal sehat, negara ini akan selamat.

Komentar