Denny Siregar: VERONICA KOMAN, WANITA PENJUAL TANAH AIRNYA SENDIRI

Sejak ditemukannya tambang Grasberg di tahun 1939 oleh geolog asal Belanda, Jean Jacques Dozy, Papua sudah menarik perhatian banyak orang.

Tanahnya yang kaya akan emas dan bijih mineral membuat Papua terus diperkosa selama puluhan tahun lamanya di masa Orde Baru. Orang Papua dibiarkan bodoh dan terbelakang, supaya mereka tidak menuntut hak atas tanah dan kekayaan alam mereka. Agresi militer terus dilancarkan ke sana. Dan karena tekanan yang luar biasa dari pemerintahan dulu, terbentuklah perlawanan dari orang-orang Papua yang mengikrarkan diri mereka di dalam Organisasi Papua Merdeka atau OPM pada tanggal 1 Desember 1963.

Sejak Jokowi memimpin, luka di hati para warga Papua berusaha diobati. Jokowi membangun infrastruktur besar-besaran di tanah Papua, sekaligus juga menaikkan dana otonomi khusus puluhan triliun rupiah untuk Papua, untuk digunakan sebagai pengembangan di bidang pendidikan, ekonomi, dan kesehatan. Papua di masa Jokowi benar-benar diperhatikan, untuk membayar kesalahan pemerintahan di masa lalu yang lebih mengutamakan kekerasan dalam penyelesaian masalah daripada kesetaraan.

Meski begitu, ada juga warga Papua yang tetap tidak puas dan ingin merdeka. Mereka biasanya tergabung dalam OPM yang sekarang oleh pemerintah disebut KKB, atau Kelompok Kriminal Bersenjata. Istilah KKB ini menggantikan istilah OPM, karena pemerintah Indonesia tidak ingin isu Papua ini berkembang menjadi isu pemisahan wilayah, tetapi lebih kepada usaha kelompok kriminal yang bersenjata. Dan memang banyak kejadian kriminal di Papua dengan alasan ingin memisahkan diri dari Indonesia. Banyak warga sipil yang menjadi korban hanya karena mereka tidak setuju kelompok bersenjata ini menguasai wilayah mereka. Baru-baru ini bahkan seorang pendeta ditembak oleh kelompok bersenjata ini dan dipropagandakan bahwa pembunuhan ini dilakukan oleh tentara.

Salah seorang yang menjadi motor pergerakan organisasi kriminal yang mengatasnamakan warga Papua ini adalah seorang wanita yang berprofesi pengacara bernama Veronika Koman.

Veronika Koman dulunya adalah mahasiswi yang mendapat beasiswa dari pemerintah lewat LPDP atau Lembaga Pengelola Dana Pendidikan. Dia kemudian sekolah di Australia atas tanggungan pemerintah dengan misi kembali untuk membangun Indonesia.

Tapi apa yang terjadi sesudah dia pulang ke Indonesia, Veronika Koman justru membangun hubungan dengan organisasi Papua Merdeka. Bermula dari kegiatan yang mengatasnamakan Hak Asasi Manusia, Veronika Koman mulai merapat ke organisasi itu dan membela mereka dalam setiap masalah.

Nama Veronika Koman mulai dikenal ketika ada keributan di asrama mahasiswa Papua di Surabaya dan bentrokan antara mahasiswa Papua dengan warga sekitar di Malang, Jawa Timur.

Kasus di Surabaya kemudian dibelokkan ke isu rasialisme sesudah Veronika Koman berulang kali menulis di Twitter dengan tulisan yang provokatif dan propaganda. Akibat dari pembelokan isu itu, Papua kemudian panas dan terjadi kerusuhan rasial di beberapa daerah di Papua. Banyak yang menduga, antara kejadian di asrama Papua dengan kerusuhan di Papua itu adalah bagian dari settingan yang terorganisir dan sistematik, karena waktu kejadian sangat dekat seolah ada penggorengan momen untuk menaikkan skala kerusuhan.

Kerusuhan di Papua berhasil diredam oleh polisi dan polisi menetapkan beberapa provokator sebagai tersangka. Salah satunya adalah Veronika Koman yang pada waktu itu dia sebagai kuasa hukum Komite Nasional Papua Barat atau KNPB. Veronika kemudian lari ke Australia dan sampai sekarang dia menetap di sana.

Menariknya, di Australia, Veronika Koman seakan mendapat tempat. Ia diberikan ruang media untuk bicara yang memojokkan pemerintah Indonesia. Pemerintah Australia seakan menjadi pelindung Veronika Koman, membuat pemerintah Indonesia sulit untuk membawanya kembali pulang. Campur tangan asing seperti Australia ini dalam urusan dalam negeri kita itu bukan hal baru. Kita ingat, mereka juga berperan besar dalam gerakan di Timor Leste sehingga wilayah itu terlepas dari Indonesia. Sampai sekarang, Timor Leste bukannya menjadi negara yang stabil, tetapi justru masuk dalam 10 negara termiskin di dunia.

Saya jadi kebayang apa yang terjadi pada kakek-kakek kita di masa perjuangan dulu. Mereka berdarah-darah untuk menyatukan Indonesia supaya menjadi negara kesatuan. Mereka mengorbankan nyawa demi sebuah cita-cita dan tujuan yang mulia untuk masa depan.

Tetapi pasti ada di antara mereka yang lebih suka menjadi pengkhianat, dengan menjual nama negara demi kepentingan. Mereka itulah para pengkhianat, yang lahir di sini, besar di sini, cari makan di sini. Tetapi pada akhirnya, ketika dia ditawari sesuatu yang bisa memuaskan nafsunya pribadi, ia memilih untuk menjual saudara-saudaranya.

Veronika Koman, bisa dibilang adalah model pengkhianat negara yang sudah ada sejak dulu kala. Baginya, Papua itu hanya barang jualan. Dibungkus dengan rapih supaya asing tertarik membeli. Dari sanalah dia mendapat uang bulanan atas nama kemanusiaan.

Benar kata Bung Karno dulu, Presiden RI pertama, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tetapi perjuangan kalian akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri..”

Saya seruput kopi.

Komentar