Denny Siregar: SYEKH ALI JABER DISERANG, ISU PKI BERKUMANDANG

Saya ingat di tahun 1998, ketika masih sering melakukan perjalanan ke Bali lewat darat. Malam itu di Banyuwangi situasinya seram banget. Sepi dan mencekam. Kabar di media ada seorang yang terbantai karena disangka akan membunuh ulama. Banyak orang dengan wajah tertutup bersenjata tajam, memeriksa mobil-mobil yang lewat. Begitu mereka curiga sedikit ke kita, habislah dibantai saat itu juga.

Pembunuhan para ustaz di Banyuwangi tahun 1998 lalu, sering disebut sebagai “operasi naga hijau”. Sampai sekarang belum ditemukan siapa aktor utamanya, dan para petinggi politik di Jakarta sibuk saling tuding di antara mereka. Sedangkan di masyarakat akar bawah, kecurigaan satu sama lain semakin tinggi. Ibarat gas yang dilepas ke alam bebas, tinggal sulut api sedikit, meledak, dan terbakarlah kita.

Tahun 2018 saat Pilkada, situasi yang sama terjadi lagi. Kali ini di Jawa Barat. Tiba-tiba, ada beberapa ustaz ditusuk orang yang tidak dikenal. Sesudah pelaku ditangkap, polisi pun kebingungan. Pelaku ternyata meracau ke mana-mana. Sesudah dipanggil psikiater, akhirnya polisi mengambil kesimpulan, penusuk itu mengalami gangguan jiwa. Dan ributlah orang-orang, karena tidak yakin bahwa penusuk para ustaz itu orang dengan gangguan jiwa. Dan isu pun menyebar ke mana-mana, kecurigaan dibangun supaya tensinya semakin naik, dan tiba-tiba muncul para pakar entah darimana dan pakar apa mereka berkomentar seolah-olah mereka tahu segalanya.

Situasi mencekam itu membuat Pilkada di Jawa Barat semakin panas. Ketegangan di masyarakat bawah semakin kuat. Sementara di media sosial adu argumen tentang pendapat siapa paling benar, lengkap dengan teori konspirasinya, beradu kencang.

Dan situasi makin panas ketika Jenderal TNI Purnawirawan Moeldoko, Kepala Staf Kepresidenan ikut komentar, kalau penusukan ulama itu adalah modus lama yang dia sudah tahu siapa yang memainkannya. Orang kemudian semakin berspekulasi dan menduga-duga, teori konspirasi pun semakin berkembang. Dari kubu kelompok agama garis keras beredar isu bahwa pelaku penusukan bukan orang gila, tetapi bangkitnya kembali Partai Komunis Indonesia dengan menyamar sebagai orang gila. Narasi “PKI membunuh ulama” semakin kencang beredar di media-media sosial.

Penusukan Syekh Ali Jaber di Lampung yang baru saja terjadi, mempunyai narasi yang sama. Dia seorang ulama, dan ditusuk oleh seseorang yang disebut dalam kondisi gangguan jiwa. Yang bilang si penusuk itu gila adalah orangtua penusuk sendiri, yang mengaku kalau Alfian, anaknya, sudah gila sejak 4 tahun yang lalu.

Pernyataan orang tua pelaku ini dapat serangan di media sosial yang heran kenapa “orang gila” bisa punya akun media sosial. Dan teori konspirasi pun kembali berkembang bahwa kasus “orang gila menyerang ulama” kembali dimainkan. Apalagi ini bulan September di mana biasanya isu PKI dimainkan. Dan benar saja, dari sudut kos-kosan di Arab Saudi sana, seorang Imam kebesaran, Rizieq Shihab berseru bahwa penusukan Syekh Ali Jaber adalah tanda bangkitnya PKI baru untuk menyerang ulama.

Memang menarik situasi ini, mengingat pada situasi pandemi dan saat Indonesia sedang berada di pinggir jurang resesi, ada gerakan-gerakan politik untuk semakin mericuhkan suasana. Narasi bangkitnya khilafah oleh HTI lewat film dan diskusi-diskusi yang mereka adakan, munculnya gerakan koalisi yang katanya ingin menyelamatkan Indonesia oleh para orang tua yang tidak capek-capeknya ingin berkuasa, dan penusukan Syekh Ali Jaber oleh “orang gila” yang kemudian menjadi isu bahwa ini bagian dari bangkitnya neo PKI atau PKI baru, bukan bangunan yang terpisah, tetapi satu bangunan yang sama untuk membangun kecurigaan dan ketakutan di masyarakat bawah.

Hati-hati, bisa jadi penusukan Syekh Ali Jaber dengan modus operasi “orang gila” ini bukan satu-satunya. Belajar dari kasus 1998 dan kasus 2018, akan ada kasus penusukan yang serupa untuk membuat rakyat Indonesia saling mencurigai satu sama lainnya dengan tujuan membuat ketegangan dan kerusuhan dengan modus SARA.

Siap-siap, kita pantau terus sambil seruput kopinya.

Komentar