Denny Siregar: LUHUT BINSAR PANDJAITAN, BENARKAH DIA LEBIH BERKUASA DARI PRESIDEN??

Sosok Luhut Binsar Pandjaitan atau sering dipanggil LBP ini bisa disebut sebagai salah satu menteri paling kontroversial di kabinet Jokowi. Sosoknya ada di mana-mana dan kelihatan sekali pengaruhnya sangat kuat dan tampak paling berkuasa. Bahkan diisukan dia lebih berkuasa dibandingkan Jokowi, Presidennya.

Ada yang bilang, LBP sebenarnya adalah “Perdana Menteri” Indonesia. Ada juga yang bilang LBP Menteri Segala Urusan, ngurusin semua masalah mulai dari yang kecil sampai yang paling besar. Ada juga yang bilang kalau LBP adalah bumper Jokowi kalau ada masalah.

Sosok LBP di mata Jokowi bukanlah sosok baru. Mereka sudah kenal belasan tahun, waktu perusahaan LBP masuk menjadi pemilik saham minoritas di PT Rakabu Sejahtera, perusahaan meubel Jokowi. Dan di sanalah jalinan pertemanan mereka dimulai dan akhirnya saling mengenal masing-masing. Dan berlanjut waktu Pilgub DKI, LBP-lah salah seorang yang berjasa yang membangun jalan Jokowi ke puncak sampai dia menjadi Presiden.

LBP bisa dibilang salah satu menteri yang paling loyal terhadap Jokowi. Dia menjadi bumper Jokowi waktu berhadapan dengan dinosaurus-dinosaurus politik yang menguasai lapangan.

LBP memang orang lama di dunia politik. Dia pernah menjadi Duta Besar untuk Singapura di masa Presiden BJ Habibie, dengan tugas khusus membangun kembali hubungan Indonesia-Singapura yang memanas karena Habibie pernah bilang, “Singapura itu hanya titik merah kecil..” LBP juga pernah menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan di masa pemerintahan Gus Dur.

Dengan segala pengalaman itu, tentu Jokowi sebagai Presiden mempercayakan tugas yang berat ke LBP ketika awal dia memimpin. LBP diminta menjabat sebagai Kepala Staf Kepresidenan, atau KSP. Itu tugas berat karena harus menyatukan, mengkomunikasikan, dan mengkoordinasikan banyak hal mulai dari menteri sampai petinggi partai politik. Dan LBP piawai dalam hal negosiasi, juga lobi-lobi.

Lanjut, LBP kemudian menjabat sebagai Menkopolhukam, karena situasi pada waktu awal Jokowi menjabat sedang panas-panasnya. Tugas LBP berkoordinasi dengan semua unsur keamanan, seperti TNI, Polri, juga Badan Intelijen Negara. Dan sesudah tugasnya selesai, Jokowi memberi tugas berat lagi sebagai Menteri Koordinator yang membidangi maritim dan investasi.

Posisi Menko yang dijabat LBP bukan posisi mudah, karena wilayah kerjanya yang sangat luas. Dia membawahi enam kementerian, Kementerian ESDM, Kementerian Perhubungan, Kementerian Laut dan Perikanan, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, yang terakhir Kementerian PUPR. LBP juga punya tugas besar dan berat untuk mendatangkan investasi luar ke Indonesia. Ini bukan tugas main-main dan hanya bisa dilakukan oleh orang yang mempunyai kemampuan manajemen luar biasa.

Ya, itu jawabannya. Manajemen. Kemampuan manajemen LBP sudah teruji ketika ia ada di ketentaraan. Lulusan Akademi Militer terbaik tahun 1970. LBP juga sukses membesarkan perusahaan-perusahaannya sehingga menjadi perusahaan multinasional. Dari semua jejak kesuksesan LBP, lalu apa yang membuat Jokowi tidak memberikannya banyak pekerjaan di kabinetnya?

Permasalahan seorang CEO, apalagi CEO sebuah negara seperti posisi Jokowi sekarang, adalah menemukan orang-orang yang tepat untuk menjalankan visi dan misinya dalam menjalankan negara. Orang-orang yang tepat itu adalah orang yang efisien dalam kerjanya, tidak sibuk cari panggung di depan kamera, bisa bekerja dalam sebuah sistem, dan ketika diberi tugas ia jalankan dengan tanpa banyak bertanya.

Begitulah LBP. Dalam posisinya sekarang, ia tidak sibuk mencari panggung dengan mengundang wartawan. Ia lebih sibuk kerja, berkoordinasi dengan jajarannnya. Dan model seperti inilah yang Jokowi suka. Pintar dan bisa kerja, seperti sukanya dia pada dua orang menterinya yang lain, yaitu Sri Mulyani dan Pak Basuki Menteri PUPR.

Kemampuan LBP membangun manajemen yang baik dan efektif dalam jajaran kementeriannya, membuat Jokowi akhirnya bergantung padanya untuk tugas-tugas berat lainnya, yaitu mengatasi kekacauan manajemen dalam mengatasi pandemi, terutama di bidang kesehatan. LBP diminta khusus untuk menangani sembilan provinsi di Indonesia yang tingkat penularannya paling tinggi.

Meski bukan pakar virus, tapi yang dibutuhkan Jokowi supaya LBP bisa mengkoordinasikan para ahli-ahli kesehatan supaya mereka semua bisa bekerja sama. Ini masalah kemampuan manajemen, bukan kemampuan di bidang kesehatan. Dan untuk masalah manajemen, LBP-lah jagonya.

Itulah kenapa LBP seperti terlihat sebagai Menteri Segala Urusan. Lha gimana, kalau saya jadi Jokowi pasti juga akan berpikiran yang sama. Kalau ada masalah, panggil LBP, beres semua. Kata LBP sendiri, “Tidak ada tugas Presiden yang tidak bisa saya selesaikan..” Siapapun CEO, pasti senang memberi tugas kepada orang dengan model seperti LBP, karena akhirnya bisa berpikir ke hal lain yang lebih besar bukan sibuk di masalah yang itu-itu saja.

Jadi, masalah kenapa LBP sering mendapat kepercayaan Jokowi dalam menangani kasus-kasus berat, jawabannya sederhana saja, “LBP itu orang yang bisa kerja..” Titik. Gak perlu ke mana-mana persepsinya, apalagi dibilang kalau LBP lebih berkuasa dari Jokowi atau dituduh ia Perdana Menteri segala.

Tuduhan-tuduhan itu untuk menjatuhkan kredibilitas LBP dan ada yang ingin menjauhkannya dari Jokowi. Karena sampai sekarang, LBP-lah benteng besar dan kokoh yang harus ditembus jika ia ingin menjatuhkan Jokowi.

Sudah mulai paham kan? Kalau sudah, kita seruput kopinya.

Ohiya. Selamat ulang tahun Opung Luhut Binsar Pandjaitan yang ke 73. Usia beliau persis sama dengan usia almarhum bapak saya.

Markibong.

Komentar