KAUM MAYORITAS JANGAN EGOIS DENGAN FATWA VAKSIN COVID-19 I Catatan Syafiq Hasyim

Jika tidak ada aral melintang, vaksin Covid-19 akan mulai disuntikkan kepada kita semua pada awal tahun depan. Ini kabar yang menggembirakan bagi kita semua. Namun masih ada hal yang mengganjal, terutama bagi kalangan umat Islam di Indonesia, bahwa vaksin ini mungkin masih menggunakan bahan non-halal di dalamnya.

Keadaan ini yang mungkin membuat penyuntikan vaksin akan mengalami hambatan karena sebagian masyarakat muslim mungkin tidak mau dimasuki barang non-halal ke dalam tubuh mereka. Kita tahu hal ini berdasarkan pengalaman-pengalaman yang berlalu. Vaksin Rubella, Polio, dlsb, ditolak oleh sebagian masyakarat kita karena alasan kandungannya yang masih haram.

Meskipun MUI telah mengeluarkan fatwa tentang kebolehan menggunakan vaksin-vaksin di atas, namun fatwa itu sendiri isinya masih bersifat ambigu. Di mana letak ambiguitasnya? Vaksin dalam keadaan preventif biasa tetap haram digunakan. Vaksin baru menjadi halal jika kita berada dalam keadaan darurat. Selain itu, memang tidak ada vaksin halal atau obat lainnya yang tidak dijumpai. Di sinilah letak ambiguitas.

Jadi, vaksin itu bukan halal karena barangnya memang halal, namun karena keadaan yang mengitarinya. Landasan yang digunakan adalah pendapat yang dipegang di dalam tradisi madzhab Syafii yang mengatakan jika “Mengambil manfaat dari barang haram itu hasilnya tetap dianggap haram.”

Saya khawatir jika fatwa MUI tentang vaksin Covid-19 akan berisi seperti di atas. Memang dengan alasan darurat yang mengancam kematian, lebih baik makan babi daripada mati. Pertanyaan kita, sampai sejauh mana masyarakat kita bisa seragam menerima definisi darurat tersebut.

Kita tahu bahwa meskipun sudah banyak korban nyawa, namun dalam memandang apakah keadaan Covid-19 ini sudah masuk ke dalam definisi darurat atau belum, masyarakat kita masih berbeda. Sebagian masih menganggap bahwa Covid-19 belum masuk dalam fase darurat. Hal ini bisa kita lihat, di mana masih banyak orang yang menganggap Covid-19 itu tidak mematikan, bahkan tidak ada. Mereka tidak mau memakai masker dan menjalani protokol pencegahan.

Jika fatwa MUI masih menggunakan argumen darurat, karena ingin teguh dalam memegang madzhab Imam Syafii, maka fatwa tersebut bisa jadi tidak begitu berguna bagi mereka yang tidak percaya adanya darurat. Kita jangan meremehkan keadaan ini, karena faktanya masyarakat kita masih banyak yang menganggap jika kita sekarang dalam keadaan biasa saja.

Di sinilah yang saya sebut letak ambiguitas fatwa-fatwa soal vaksin di atas. Fatwa dengan argumen kedaruratan akan efektif apabila 100 persen penduduk Indonesia itu percaya bahwa sekarang kita dalam keadaan darurat.

Indonesia itu negara plural, pelbagai keyakinan hidup di negeri kita. Katakanlah non-Muslim tidak ada dampak apa-apa jika vaksin covid-19 itu diharamkan, karena mereka tidak terkena taklif (beban) hukum. Itu memang benar adanya. Namun kita juga harus memikirkan keselamatan sebagian orang Islam yang merasa jika kita memang benar-benar membutuhkan vaksin Covid-19, karena kita ingin hidup terus.

Saya mengusulkan jika pemutusan masalah halal dan haramnya vaksin Covid-19 bergeser ke madzhab lain, bukan madzhab Imam Syafii (intiqal madzhab). Tapi kita bisa menggunakan madzhab Imam Hanafi. Begini, jika vaksin Covid-19 itu dalam penelitian paling akhirnya (final) ternyata sudah tidak ada unsur non-halalnya di dalamnya, maka dinyatakanlah vaksin tersebut halal sepenuhnya.

Proses ini sangat memungkinkan karena berdasarkan banyak informasi, bahwa meskipun vaksin-vaksin di atas pada mulanya masih menggunakan barang non-halal di dalamnya, namun pada hasil akhirnya sudah tidak ada bekas non-halalnya. Semua bersih!  Jika kita sepakat akan hal ini, maka kita akan bulat untuk menerima vaksin Covid-19 nanti.

Mengapa kita butuh bulat? Dalam kehidupan kita sehari-hari, sebelum era Covid-19, kita masih selalu disibukkan dengan perdebatan, baik di dalam (satu) agama maupun antar umat beragama.

Pemicunya tidak selalu masalah besar, namun kadang-kadang persoalan yang bersifat kecil, persoalan khilafiyah (perbedaan). Khilafiyah itu ditolerir, namun ada kelompok yang hidupnya mau mutlak-mutlakan, sehingga tidak bisa menerima perbedaan pendapat, baik di dalam agama sendiri maupun dengan agama yang lain.

Dalam soal vaksin yang haram ini sebenarnya masih berada di ruang khilafiyah antar madzhab, namun otoritas keagamaan seperti MUI maunya ingin mutlak-mutlakan dalam bermadzhab. Cara seperti ini sebenarnya tidak sesuai dengan corak Indonesia yang memang dari sananya sangat variatif dalam suku, keyakinan, dan aliran keagamaan.

Bahayanya, cara mutlak-mutlakan beragama itu kini sudah mulai dimasukkan ke dalam hukum dan kebijakan negara. Karena pelbagai alasannya, kadang pemerintah bisa juga menerima bahkan mendorong terjadinya proses pemasukan agama ke dalam politik atau kebijakan.

Kini kita semua hidup dalam keadaan yang sangat sulit. Kematian mengancam dari sudut-sudut yang kita tidak ketahui. Tetangga, teman, saudara, anak, orang tua, istri, suami, dlsb, semua kini terancam dengan keadaan yang mengancam. Mari dalam keadaan yang sangat sulit ini, kita bersatu dalam pendapat bahwa vaksin Covid-19 itu boleh digunakan bukan karena keadaan darurat saja, namun dalam keadaan yang biasa untuk pencegahan.

Mari kita sepakat untuk satu titik ini saja. Saya sangat berharap lembaga-lembaga fatwa yang akan mengeluarkan fatwa memiliki pandangan demikian adanya. Apa jadinya, jika dalam keadaan yang mengancam ini, kita memproduksi fatwa yang justru menjauhkan kita dari harapan kebersamaan hidup.

Sebagai catatan, mayoritas umat Islam, para pembuat fatwa, sebaiknya jangan egois dalam mengeluarkan fatwa Covid-19, fatwa vaksin. Kita jangan pikirkan bahwa penduduk Indonesia hanya kita saja yang beragama Islam, namun juga mereka yang beragama non-Islam.

Bagaimana fatwa vaksin Covid-19 itu yang bisa membuat keadaan damai bagi Muslim dan non-Muslim adalah tantangan kita bersama, sebagai mayoritas umat Islam. Mari kita sambut vaksin Covid-19 dengan senang dan optimis. Bukankah menjaga hidup itu jauh lebih penting dari semuanya, karena dengan hidup kita bisa menjalankan agama kita.

 

 

USULAN ANIES SEPEDA MASUK TOL, IDE YANG OUT OF THE BRAIN

b Lutfhi

Komentar