Eko Kuntadhi: TUGU PETI MATI DI JAKARTA, AU AH GELAP

Jumpa lagi Kisanak,

Pembangunan Jakarta memang sangat pesat. Berbagai proyek strategis sudah selesai dikerjakan dan diresmikan oleh Gubernur Jakarta. Proyek-proyek ini membuat warga Jakarta semakin bangga dengan kotanya.

Kisanak, baru-baru ini, Gubernur Jakarta meresmikan sebuah proyek yang tidak ada di kota-kota lain di seluruh dunia. Mungkin saja sejarah akan mencatat hanya Jakarta yang memiliki tugu yang eksotis dan penuh dengan daya magis tersebut. Di Sunter, Jakarta Utara, Gubernur Anies Baswedan meresmikan tugu peti mati yang fenomenal itu. Peresmian ini menandakan semakin meningkatnya penyebaran Covid-19 di Jakarta.

Entahlah Kisanak, tugu itu apakah menunjukkan keberhasilan atau kegagalan Pemda DKI dalam menangani sebaran Covid-19.

Mungkin Anies Baswedan memang sangat perhatian dengan mayat. Saat kampanye Pilkada dulu, mayat mendapatkan tempat spesial dalam percaturan politik Jakarta. Kini saat menjabat sebagai Gubernur Jakarta, peti mati malah dijadikan sebagai tugu. Sebagian warga Jakarta pecinta horror berharap, bukan hanya peti mati yang dijadikan monumen di Jakarta. Mereka berharap patung-patung pocong juga didirikan di berbagai pengkolan di Jakarta.

Usulan pendirian patung-patung pocong di pinggir jalan itu, khususnya jalan atau wilayah yang minim penerangan, tujuannya untuk menciptakan efek kejut lebih besar kepada warga yang melintas. Warga Jakarta harus mendapatkan suasana masuk rumah hantu gratis di kotanya sendiri.

Kisanak, jika kita telusuri bukan hanya tugu Peti Mati saja yang menjadi proyek strategis di Jakarta. Berbagai proyek strategis lain dirancang untuk kepentingan warga Jakarta dan sudah disiapkan. Semua proyek ini membutuhkan pikiran yang cerdas dan kerja sepenuh hati untuk mewujudkannya.

Sebelumnya, pada September 2018, Gubernur juga berencana untuk meresmikan gerai ikan cupang. Sayangnya pada kesempatan peresmian, Gubernur batal menghadiri acara penting tersebut, sehingga membuat ikan-ikan cupang kecewa. Saking kecewanya Kisanak, ikan-ikan itu menolak untuk diwawancarai para awak media yang datang.

Meskipun awak media televisi sudah mendekatkan microphone ke toples ikan cupang, namun Kisanak, ikan-ikan itu memilih bungkam tidak menjawab pertanyaan wartawan. Seekor juru bicara ikan cupang mengatakan, kekecewaan mereka sangat mendalam, sehingga membuat ikan-ikan itu sampai sekarang mogok makan nasi. Mereka hanya mau makan cu saja.

Namun di tengah membisunya ikan cupang, seorang reporter berhasil merekam ungkapan kekecewaan ikan cupang tersebut, karena gagalnya acara peresmian dihadiri oleh Gubernur. Menurut saksi kuping, seekor ikan cupang hanya berbisik pelan kepada rekan sejawatnya di dalam tomples, “Anjayyy…blebek, blebek, blebek…”

Kisanak, selain ikan cupang, kekecewaan tampaknya juga dirasakan oleh Patung Jenderal Sudirman di Jakarta. Sangat santer beredar kabar bahwa Gubernur Jakarta akan memakaikan masker kepada Patung Jenderal Sudirman, di depan jalan Sudirman. Namun ternyata rencana itu juga urung dilaksanakan. Kini patung-patung itu diharuskan memakai maskernya sendiri ketimbang dipakaikan oleh Gubernur. Memang, patung-patung di Jakarta selama ini dikenal sebagai patung yang manja, apa-apa maunya dilayani. Mereka tidak bisa melakukannya sendiri.

Kisanak yang budiman, proyek strategis dan fenomenal lain yang sempat diresmikan Gubernur Jakarta adalah Gardu Listrik untuk MRT, di Jakarta Selatan. Gardu ini berbeda dengan gardu ronda yang peresmiannya cukup dilakukan dengan upacara gunting pita oleh ketua RT atau ketua RW setempat. Sementara ibu-ibu PKK di sana sibuk menonton gunting pita itu dengan menggendong bayinya.

Menurut penelusuran Cokro TV, peresmian gardu listrik oleh Gubernur tersebut patut dijadikan contoh bagaimana sebuah proyek besar gardu listrik serius dikerjakan. Saat Gubernur lain di dunia sibuk meresmikan jalan layang, pembangunan fasilitas umum untuk warganya, Gubernur Jakarta memiliki proyek yang tidak kalah mentereng: Gardu Listrik.

Warga Jakarta harus memiliki kebanggaan sendiri, ketika kotanya banyak berdiri proyek-proyek besar dan strategis seperti ini. Di Bunderan HI misalnya, dulu berdiri sebuah patung bambu Getah Getih, dengan biaya pembuatan ratusan juta rupiah. Setelah bambu itu rusak, digantikan hiasan batu kali yang disatukan dalam kawat besi.

Hiasan itu dinamakan gambion. Sementara warga Cisarua, Bogor, mengenal hiasan seperti itu dengan nama bronjong.

Dalam konteks Jakarta, kita harus selalu mengingat kata-kata motivasi dari Mario Bros: “Jangan pernah minder. Teruslah berkarya. Meskipun tidak ada gunanya.” Anda harus ingat, bahwa pengalaman terbaik adalah good experience.

Anda sedang berada di channel paling update seangkasa raya

Lemesin aja, Mblo…

Terima kasih.

Komentar