Eko Kuntadhi: MASA USTAD KALAH SAMA KULKAS?

Dalam sebuah Webinar, Menteri Agama Fahcrul Razi menyatakan, pihaknya akan melaksanakan program sertifikasi penceramah agama. Tentu saja yang dimaksud, kan bukan cuma penceramah agama Islam. Penceramah agama-agama lain juga menurut gua perlu disertifikasi.

Sebetulnya program ini wajar. Indonesia kan punya Kementerian Agama. Apa salahnya kalau kementerian itu melakukan program sertifikasi bagi penceramah agama? Untuk yang beragama Islam, program itu bekerjasama dengan BNPT, BPIP dan ormas keagamaan.

Tapi beberapa kalangan dari MUI menolak program ini. Bahkan Sekjen MUI Anwar Abbas mengancam akan mundur dari jabatannya, jika program ini diteruskan oleh Depag.

Gue sih, gak masalah. Pak Anwar kalau mau mundur, ya mundur aja. Pengaruhnya apaan sih, bagi kehidupan kita? Kan gak ada.

Pengurus MUI lain, semacam Tengku Zulkarnaen juga menolak keras usulan itu. Bayangkan, pengurus MUI yang kayak gini nih, dia kan belum lama ketahuan memalsukan informasi soal pendidikannya, trus sekarang dia menolak sertifikasi penceramah. Wajar sih, kalau dia mengikuti program sertifikasi itu, belum tentu lulus. Wong, soal latar belakang pendidikannya aja dia bohong.

Kalau mau jujur, saat ini udara kita dipenuhi oleh penceramah agama yang makin ke sini makin ngaco omongannya.

Lu pernah dengar gak ceramahnya Sugi Nur atau Nur Sugik? Isinya benar-benar kacau. Dalam satu ceramah agama, kata-kata kotor bertebaran di mana-mana, bersandingkan dengan kalimat-kalimat suci Alquran dan Hadits. Sayangnya, Sugik lebih fasih bicara jancuk, tetapi sering keserimpet ketika mengutip ayat dan hadist. Kan ngaco? Terus apa pelajaran yang bisa diambil umat dari penceramah sejenis Sugik kayak gini?

Atau coba lu bayangin, ketika ada orang ngaku mualaf agar ceramahnya laku. Dulu tuh ada kasus, namanya Subandi, ngakunya dia anak seorang Kardinal atau Romo yang masuk Islam. Dia ceramah ke mana-mana. Padahal lo tahu kan, Romo atau Kardinal itu petinggi agama Katolik yang biasanya menjalankan kehidupan selibat. Romo tidak penah menikah. Di Indonesia Romo yang menikah, ya paling Romo Irama. Dan setahu gua, Romo Irama gak punya anak namanya Subandi.

Belum lagi ada artis-artis yang udah gak laku, tiba-tiba jadi penceramah agama. Padahal kemarin sore masih ajeb-ajeb. Bukannya gak boleh orang bicara tentang agamanya. Tapi ya menurut gua ngukur dirilah.

Akibatnya kita hanya dapat pembicara agama yang dangkal. Boro-boro memberi kesejukan. Wong, yang ngomong juga gak ngerti apa-apa.

Nah, gue rasa program sertifikasi penceramah agama ala Menag itu untuk meyakinkan bahwa seseorang punya kepasitas dan keilmuan yang cukup, untuk memberikan pelajaran agama kepada masyarakat.

Kalau Islam misalnya, gak mau disebut sebagai agama gampangan, mestinya nih orang-orang yang menyampaikan ajaran-ajarannya juga bukan orang-orang yang gampangan dong. Yang siapa saja bisa jadi ustad. Cuma modal daster dan jenggot udah jadi ustad.

Mestinya ada kualifikasi tertentu. Jadi kenapa harus menolak disertifikasi. Atau MUI menolak penceramah agama disertifikasi.

Menurut gua, ukuran paling minimal seorang penceramah dalam agama Islam itu dia memiliki Ilmu Alat, misalnya minimal dia mengerti bahasa Arab. Orang kayak gua yang gak ngerti bahasa Arab, ya gak usahlah sok-sokan berceramah di mimbar agama. Kalau seorang penceramah agama yang suka mengharam-halalkan sesuatu, tapi gak bisa bahasa Arab kan lucu. Gimana lu bisa menilai sebuah hukum kalau bahasa dari sumber hukumnya aja lu gak ngerti?

Gua rasa nih, kebanyakan kita, lu atau gua, posisinya kan hanya sebagai makmum, sebagai pengikut. Kita gak belajar secara khusus soal-soal syariah, soal-soal beragama yang mendalam. Jadi kalau misalnya kita ada pertanyaan, kita tinggal merujuk ke orang yang kita anggap lebih mengerti. Dan para penceramah agama inilah rujukan kita.

Nah, gimana lu mau mendapat pencerahan, kalau rujukan lu justru gak punya kapasitas untuk menjelaskan dengan baik. Karena ilmunya gak cukup.

Jadi balik lagi soal sertifikasi penceramah ini, gua secara pribadi setuju banget. Dan bukan cuma di Indonesia. Di Saudi, Turki, Malaysia, Iran, Mesir dan banyak negara muslim lain, para penceramah agama juga mendapat pengesahan dari pemerintah. Jadi bukan hanya modal daster dan jenggot doang bisa naik mimbar.

Apalagi Menag bilang, program ini sifatnya sukarela. Maksudnya, bagi penceramah agama yang mau mendapatkan sertifikat silakan ikut program ini. Bagi yang gak mau ya kata Menag, gak apa-apa. Mestinya sih gak begitu, tapi okelah.

Tapi setidaknya masjid-masjid milik pemerintah atau di lingkungan lembaga milik pemerintah, nanti penceramah yang naik mimbar di sana mestinya orang-orang yang sudah dapat sertifikat dari Menteri Agama dong. Juga di BUMN-BUMN.

Soal penceramah agama yang gak mau ikutan program ini, ya gak apa-apa. Jadi kalau MUI nolak misalnya, buat gue sih ya lucu aja. Bukannya MUI adalah lembaga yang paling doyan mensertifikasi segala sesuatu. Bukan cuma makanan. Kulkas sama cat tembok kan juga disertifikasi halal sama MUI. Kalau MUI menolak seorang penceramah agama disertifikasi, artinya di mata MUI penceramah agama itu kualifikasinya jauh di bawah cat tembok. Cat tembok aja disertifikasi.

Nah, kalau program ini jalan, nanti ada dua tuh, ada penceramah agama yang punya sertifikat dengan kualifikasi yang memadai. Ada penceramah agama yang tidak punya sertifikat dan kualifikasinya dipertanyakan. Sebagai umat kayak gue dan lu, ya terserah mau merujuk yang mana.

Sama deh kayak kalau misalnya kita lagi sakit nih ya. Kita lagi sakit, sakit ambeien misalnya. Lu bisa pergi ke dokter, diperiksa, dikasih obat atau dirawat. Atau yang kedua pilihannya, lu bisa datang ke orang kayak Ningsih Tinampi. Dikasih jampi-jampi sama air putih, trus ambeien lu ambrol. Kan, pilihan elu.

Jadi itu sama tinggal lu memilih, kita tinggal memilih. Kalau agama itu kita anggap sebagai jalan, lu bisa memilih penunjuk jalan yang bisa membaca peta. Yang kemampuannya setara Google Map. Atau lu bisa memilih penunjuk jalan yang kuper. Jangankan nunjukin arah jalan, naik angkot aja dia masih grogi. Pasti lo nyasar kalau petunjuk jalan lo orang kayak gitu.

Jadi bagi gua, sertifikasi penceramah agama ini penting, apalagi ketika hidup beragama kita dibombardir oleh ceramah-ceramah agama yang mengajak kita untuk mengkafir-kafirkan, mengajak kita untuk berlaku intoleran. Itu bahaya bagi masa depan bangsa ini. Dan langkah Menag harus kita dukung.

Nah, gue sih cuma ngajak lu berpikir.

Kesimpulannya ya terserah lu. Terima kasih.

 

 

 

Hh;j

 

Komentar