Denny Siregar: SERDADU SEPERTI PELURU

Ini mungkin waktu yang berat untuk Tentara Nasional Indonesia. Terutama untuk mereka yang memang ingin nama institusi penjaga negeri ini harum namanya, sehingga mereka bangga membawa nama kesatuannya.

Tetapi sayangnya, beberapa hari lalu, nama TNI rusak karena beberapa anggotanya tiba-tiba menyerang Polsek Ciracas. Bukan hanya menyerang, mereka juga membakar Polsek, merusak kendaraan juga rumah, dan memukuli warga sipil yang kebetulan lewat di sana.

Situasi yang sama pernah terjadi di tahun 2018. Waktu itu seorang perwira TNI dikeroyok oleh beberapa juru parkir. Juru parkir ini kemudian ditangkap dan dibawa ke Polsek Ciracas. Tetapi, ada beberapa orang yang tidak puas kemudian menyerbu Polsek dan membakarnya.

Sampai sekarang belum ada penjelasan, siapa yang menyerbu Polsek Ciracas di tahun 2018 itu. Polisi dan TNI sama-sama diam, seakan tidak ingin menyinggung sesama institusi dan tidak ingin memperkeruh suasana.

Kejadian yang mirip itu terjadi kemarin. Mendadak Polsek Ciracas diserbu lagi. Kali ini ada isu seorang anggota TNI dikeroyok oleh polisi. Anggota TNI ini menelpon seniornya bilang bahwa dia dikeroyok. Dan tidak lama kemudian, ada 100 orang berambut cepak yang menyerbu Polsek Ciracas, dan membuat kerusuhan di sana.

Tapi kali ini berbeda, tidak seperti tahun 2018 lalu. TNI tidak lagi diam dan langsung bereaksi. Mereka menangkapi anggotanya yang terlibat dalam kerusuhan di Ciracas.

Dan yang membuat saya kagum adalah cara penyelesaian yang dibuat oleh Jenderal TNI Andika Perkasa, Kepala Staf Angkatan Darat. Jenderal Andika langsung menggelar konferensi pers dan menyatakan bahwa anggotanya bersalah. Dia meminta maaf kepada banyak pihak, terutama kepada pihak kepolisian, atas apa yang terjadi.

Bukan itu saja, KSAD juga berjanji akan memecat dan mempidanakan anggotanya yang terlibat. Dia masih menambahkan akan memaksa anggotanya yang merusak rumah warga untuk mengganti kerusakan dengan gaji mereka.

Kenapa saya kagum? Di sini saya melihat kedewasaan TNI yang diwakili oleh Jenderal Andika Perkasa dalam menyikapi situasi. TNI yang biasanya sangat tertutup, pelan-pelan membuka dirinya kembali. Saya jarang melihat situasi ini, di mana sebuah institusi yang powerful, tiba-tiba menjadi begitu bersahabat dengan mengakui kesalahan mereka dengan jantan. Laki banget.

Jenderal Andika Perkasa seperti membawa angin segar di dalam perubahan wajah TNI ke depan. Dari wajah berkuasa menjadi wajah persahabatan. Sesuai dengan slogan mereka sebenarnya, TNI sahabat rakyat. Sahabat memang harus menyenangkan dan menenangkan. Bukan mereka yang dominan. Dan wajah itu mulai terlihat ketika TNI mengakui kesalahan mereka dengan jantan.

Ini bukan yang pertama yang dilakukan Andika Perkasa. KSAD bahkan pernah dengan tegas mencopot Dandim Kendari, hanya gara-gara istrinya memposting ejekan kepada Wiranto, mantan Menteri, waktu ia ditusuk oleh teroris. Di sana saya baru memahami bahwa di dalam TNI, seorang suami dan seorang istri adalah satu badan. Kalau satu salah, pasangannya juga harus menerima risiko hukuman yang sama.

Memang begitulah seharusnya seorang penjaga negeri. Sebelum dia mampu menjaga orang lain, dia harus mampu menjaga dirinya sendiri. Kalau dia tidak bisa menjaga dirinya, lalu bagaimana kelak dia akan bisa membela negara?

Saya berharap banyak dari Jenderal Andika Perkasa untuk merubah wajah TNI menjadi wajah penuh senyum sesuai slogannya. Seorang bijak pernah berkata, tidak diketahui kebesaran seseorang, kecuali saat dia mampu meminta maaf justru di saat dia sedang berkuasa.

Jenderal Andika Perkasa adalah menantu dari A.M. Hendropriyono, yang selama ini kita kenal bahkan di hari tua beliau masih sibuk memikirkan keamanan negeri ini. Mungkin dari Pak Hendropriyono lah, Jenderal Andika belajar bagaimana menjadi tentara yang sesungguhnya.

Saya harus angkat secangkir kopi untuk beliau. Jenderal, di tanganmu kami berharap banyak akan kejayaan negeri ini kelak ke depan.

Saya seruput kopi dulu.

Serdadu seperti peluru.

Tekan picu melesat tak ragu.

Markibong.

Komentar