Denny Siregar: KENAPA TELKOMSEL HARUS DITUNTUT Rp. 1 TRILIUN??

Ketika saya menuntut Telkomsel dengan nilai Rp 1 triliun, banyak orang yang mengejek. Ada yang bilang, “Ah ujung-ujungnya duit juga.” Ada juga yang sibuk komen, “Ternyata Denny mata duitan.” Seolah-olah saya sudah dapat duitnya dan kaya raya dengan uang Rp 1 triliun.

Padahal itu hanya tuntutan dan perjuangannya juga masih sangat jauh dan banyak batu karangnya. Lha, yang dilawan perusahaan internasional, sedangkan gua apalah hanya kaum sudra yang sedang menuntut keadilan. Saya sangat mungkin kalah, dan bisa saja dihancurkan oleh mereka supaya gak banyak bicara. Duit mereka banyak, bro, sedang gua kadang masih utang ke tetangga.

Tetapi dari kasus melawan Telkomsel ini, saya hanya pengen memberikan pelajaran, bahwa kita sebagai warga negara punya HAK untuk menuntut secara hukum kepada siapapun. Masalah menang atau kalah, itu masalah yang berbeda. Tetapi yang harus kita sadari sama-sama, bahwa antara saya dan Telkomsel, meski secara pendapatan jauh berbeda, tapi punya kesetaraan hak di dalam hukum yang sama.

Lagian, gimana cara bikin Telkomsel melirik ke kasus kita kalau gak pakai cara hukum perdata? Kalau cuma ngomel di sosmed doang, percayalah, itu seperti mendorong pohon jati raksasa. Jangankan joget, goyang aja enggak. Harus ada cara yang tepat, yaitu lewat jalur hukum. Dan jalur yang paling bagus adalah hukum perdata.

Ada kasus menarik di Amerika sebagai pegangan. Tahun 1992 lalu, seorang nenek di Amerika, sedang makan di perusahaan McDonald’s. Tiba-tiba kakinya ketumpahan kopi panas. Dia dirawat selama seminggu karena luka bakar. Dan si nenek yang bernama Stella Liebeck itu kemudian menuntut McDonald’s untuk membayar ganti rugi. Dia, seperti saya, diejek banyak orang karena dianggap mata duitan.

Tetapi si nenek maju terus, karena buat dia kalau tidak dengan tuntutan, perusahaan sebesar McDonald’s tidak akan pernah jera. Dan akhirnya si nenek menang. Pengadilan di Amerika juga menghukum McDonald’s dengan denda besar lewat konsep “punitive damages” atau hukuman yang membuat mereka jera. Yang menarik, gara-gara tuntutan si nenek itu, McDonald’s akhirnya menurunkan tingkat panas di kopinya.

Efek jera. Itulah yang ingin dicari dalam tuntutan saya ke Telkomsel. Karena tanpa tuntutan dan tanpa kerugian, Telkomsel akan menganggap bahwa “tidak terjadi apa-apa”. Beda kalau misalnya mereka harus membayar kerugian besar, pasti mereka mau tidak mau harus mulai membenahi internal perusahaannya. Mulai dari Direktur sampai mereka yang bertugas terhadap data pribadi pelanggan, harus bertanggung jawab penuh.

Pada perusahaan yang berorientasi pada keuntungan seperti Telkomsel, maka kerugian karena harus membayar tuntutan menjadi masalah besar. Kalau sudah harus bayar kerugian karena tuntutan, maka pemegang saham pun pasti akan goyang, dan mulai bersih-bersih perusahaannya. Paham kan, kenapa tuntutan besar itu diperlukan? Ini bukan sekadar uang, tetapi yang diharapkan adalah DAMPAK besarnya.

Lagian saya lucu sama beberapa orang yang berpikiran saya mata duitan karena menuntut Telkomsel. Apakah Anda tahu kerugiaan moril yang dihadapi oleh keluarga saya, anak-anal saya? Sini saya hadirkan sedikit videonya supaya mata kita sedikit terbuka.

Bayangkan, sehari bisa sampai lima kali keluarga saya mendapat teror kiriman-kiriman barang seperti itu. Bagaimana kalau teror karena bocornya data pribadi itu dialami anggota Densus 88 yang sedang diincar oleh teroris? Atau dialami oleh hakim yang sedang menangani kasus korupsi besar? Atau misalnya data pribadi Anda terbongkar dan diketahui oleh lawan yang berbeda pandangan dengan Anda?

Silakan pikirkan, apakah benar saya mata duitan atau sedang berjuang supaya keluarga saya bisa hidup dengan tenang.

Seruput kopinya.

Markisel.

Mari kita goyang Telkomsel.

 

Komentar