HABIB BISA SALAH! I Catatan Syafiq Hasyim

Beberapa waktu yang lalu, sebuah peristiwa yang menyesakkan dada terjadi, masih dalam hitungan bulan suci Ramadan, di mana seorang habib marah dan tersinggung karena diperingatkan oleh seorang petugas agar mematuhi PSBB dalam berkendaraan mobil. Meskipun peristiwa di atas bisa diselesaikan secara damai, namun tetap perlu kiranya peristiwa tersebut dijadikan sebagai pelajaran bagi kita untuk hari-hari ke depan, di mana bisa saja peristiwa yang serupa mungkin akan terjadi.

Pada saat ini, di mana himbauan dari pemerintah untuk tidak memasang foto Jokowi dalam baliho-baliho 17 Agustusan di hadapan kita, tiba-tiba dihadirkan baliho-baliho besar yang terpampang di jalan-jalan utama yang mengglorifikasi habib tertentu. Bunyi tulisan baliho bermacam-macam, dari ucapan Dirgahayu RI sampai perang bersama melawan neo-PKI. Saya tidak tahu persis apa di balik semua peristiwa ini, namun yang dijadikan tokoh utama tetap seorang habib.

Saya ingin katakan, bahwa seolah-olah seorang habib ini bisa melakukan apa saja, melakukan tindakan kebal hukum, bisa menjadi apa saja, menolak himbauan ulil amri juga bisa dan kita manusia awam diminta untuk menghormatinya tanpa catatan.

Peristiwa kontroversial dan kurang elok yang melibatkan oknum habib atau habaib, tidak hanya terjadi pada saat ini, namun sudah sering dan nampaknya akan selalu terjadi pada masa-masa yang akan datang. Sisi lain dari peristiwa di atas adalah mereka ternyata juga manusia yang kerapkali berbuat salah.

Hal ini bukan untuk menggeneralisir, karena banyak habib atau habaib yang memberikan ketauladanan dan contoh yang sangat baik dalam berkehidupan di masyarakat, namun juga banyak habib dan habaib yang memiliki kelakuan yang tidak demikian halnya.

Masalahnya, di kalangan masyarakat kita, masih ada anggapan jika apapun yang dilakukan oleh seorang habib kudu dipercaya sebagai hal yang benar adanya. Ada yang mengatakan, terima saja perkataan dan perbuatan mereka, karena pasti selalu ada i’tibar dan hikmah yang baik di balik itu semua. Kata kelompok ini, mata lahir kita tidak bisa menjangkau makna di balik perkataan dan perbuatan mereka. Habib dan Habaib sudah terlanjur dianggap sebagai manusia “maksum”, terlindung dari segala hal, termasuk terlindung dari dosa sosial dan dosa politik.

Di sini saya ingin menguraikan siapa sebenarnya yang disebut sebagai keturunan Rasulullah SAW dan bagaimana Rasulullah dan para ulama terdahulu memandang kedudukan mereka?

Secara umum, pengertian keturunan Rasulullah SAW adalah mereka yang memiliki garis darah dengan Rasulullah. Ada dua jalur keturunan Rasulullah. Pertama, melalui jalur Hasan bin Ali. Dalam literatur sejarah keislaman kita, biasanya mereka ini disebut sebagai kelompok Alawiyyin. Rabithah Alawiyyah Indonesia misalnya mencatat ada 151 marga keturunan Nabi yang masih hidup di seluruh dunia dan termasuk di Indonesia.

Kedua, melalui jalur Sayyid Alawi bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir yang ujungnya sampai kepada Husain bin Ali. Jalur kedua ini terkenal dengan sebutan Ba’lawi (Bani Alawi).  Semua Ba’lawi adalah Alawiyyin karena semuanya akan berujung pada Sayyidina Ali, namun tidak semua Ba’lawi adalah Alawiyyin.

Mereka ini berdiaspora ke seluruh dunia dan predikat sebagai keturunan Rasulullah menyebabkan mereka mendapatkan penghormatan dan juga keistimewaan di sebagian besar masyarakat muslim di dunia, termasuk masyarakat muslim di Indonesia. Penghormatan dan pengistimewaan inilah yang terkadang menyebabkan mereka menjadi extra-human, mereka merasa berbeda dengan kebanyakan masyarakat keseluruhan.

Sebagai keturunan Rasulullah memang ada jejak darah dalam diri mereka, namun sebagai manusia biasa, mereka juga memiliki jejak sosial, politik, budaya yang sama dengan jejak-jejak manusia yang lainnya. Mereka tetap bisa berbuat salah dan mereka tetap bisa mengalami kekurangan.

Bagaimana sebenarnya pandangan para ulama terdahulu terhadap mereka ini? Dalam bahasa hadis, keturunan Rasulullah diistilah dengan ahlul bait, atau orang dalam Rasulullah atau anggota rumah tangga Rasulullah. Banyak hadis yang menceritakan kecintaan Rasulullah pada anggota keluarga beliau.

Misalnya, “Cintailah Allah karena apa yang Allah berikan pada kalian semua atas nikmatnya dan cintailah Aku (Muhammad) karena cinta kepada Allah dan cintailah ahli keluargaku karena mencintaiku,” maksudnya mencintai Muhamad.

Banyak hadis yang isinya senada dengan hadis di atas. Biasanya hadis di atas mengungkap secara terbatas siapa yang berhak dianggap sebagai anggota ahlul bait. Misalnya, Fatimah, Ali, Hasan dan Husain. Mencintai anggota keluarga Nabi adalah hal yang bisa dimaklumi bagi masyarakat muslim. Pandangan ulama-ulama terdahulu terhadap keturunan Rasulullah juga demikian halnya. Mereka sangat menghormati keturunan Rasulullah.

Bahkan Ibnu Taimiyyah yang dikenal sebagai kiblat pemikiran kalangan Salafi juga mengekspresikan kecintaannya pada ahlul bait. Ibnu Taimiyyah menganjurkan untuk membacakan shalawat kepada keluarga Rasullulah. Namun kecintaan pada keturunan Nabi tetap juga harus didasarkan kepada kualitas kemanusiaan yang menempel pada keturunan Rasulullah di atas.

Suatu saat Ibnu Taimiyyah mengatakan, jika siapa saja yang menyerukan ketaatan kepada Ali RA sebagai pemimpin yang sah, maka mereka itulah menyerukan jalan menuju surga dan siapa saja yang menyerukan peperangan atas Ali maka mereka sama dengan menyerukan ke jalan neraka.

Di sini, kecintaan Ibnu Taimiyyah kepada Ali lekat dengan posisi Ali yang harus dibela sebagai pemimpin yang sah pada saat itu.

Bagaimana dengan para habib atau para habaib atau para sayyid yang dengan hubungan darahnya pada Rasulullah jika melakukan tindakan sosial yang merugikan pihak lain?

Sebagai keturunan Rasulullah, itu mungkin adalah fakta biologis dan juga fakta sejarah, namun dalam berinteraksi dengan orang lain, sesama manusia, adalah fakta kemanusiaan yang juga harus kita perhatikan.

Menjadi keturunan Rasulullah tidak berarti segala sifat dan atribut kemanusiaan akan lepas dari mereka. Itu sama sekali tidak benar. Perbuatan yang melenceng, melanggar peraturan yang sudah disepakati bersama, menyakiti orang lain, dlsb, adalah dosa dan dosa ini akan mengena bagi semua saja yang melakukannya, termasuk pada diri habaib dan juga pada diri habib atau sayyid.

Sebagai catatan, meyakini begitu saja akan fakta biologis keturunan darah dari Rasulullah pada seorang habib, sebagai jaminan kualitas perilaku dan tindakan baik dari para habib dan sayyid adalah hal yang kurang tepat.  Mereka adalah manusia yang berkembang dan beriteraksi dengan liyan, pihak lain. Patokannya, jika para habib dan habaib atau sayyid ini melanggar hukum agama dan juga hukum kemanusiaan, maka mereka harus diberi sanksi keagamaan dan juga sanksi kemanusiaan.

Demikian, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

Komentar