EKO KUNTADHI: DEKLARASI BARISAN SAKIT HATI

Siapa kita? Indonesia!

Siapa kami? Mbbuhhhh…

Jumpa lagi, Kisanak.

Beberapa hari lalu para manula usia pensiun mendeklarasikan sebuah gerakan yang dinamakan KAMI, atau singkatan dari Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia.

Dalam koalisi itu terdapat beberapa nama bekas pejabat yang ketika menjabat dulu, mereka tidak punya prestasi apa-apa.

Misalnya, mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Gatot ini adalah orang yang paling getol teriak-teriak kebangkitan PKI. Sayangnya Kisanak, ketika Gatot menjabat sebagai Panglima TNI, tidak ada satu pun PKI yang ditangkapnya.

Apakah PKI baru tumbuh saat Gatot pensiun? Atau sebetulnya ia hanya terkena penyakit halusinasi level tiga.

Kisanak, Salah satu pentolan KAMI Din Syamsuddin, mantan politisi Golkar era Soeharto menyatakan, bahwa KAMI merupakan gerakan moral. Bukan gerakan politik.

Tetapi dalam salah satu cuitannya di akun @opiniDin miliknya, ia menyerukan seruan yang mirip dengan usaha untuk memakzulkan Presiden Jokowi. Cuitan itu dituliskan bertepatan dengan hari Kemerdekaan Republik Indonesia.

Sayangnya Kisanak, ajakan Din itu tidak ditanggapi oleh masyarakat. Bagi rakyat Indonesia, ajakan itu hanya halusinasi Din saja, mirip Lucinta Luna yang mengaku hamil.

Mengetahui seruannya dicuekin oleh rakyat, sehari setelah cuitan tersebut Din mengaku akunnya dibajak oleh orang tidak dikenal. Ini tentu saja lagu lama.

Sebab aneh juga, Kisanak. Gimana Din mau menyelamatkan Indonesia. Jika menyelamatkan akunnya sendiri saja dia gagal total.

Yang lebih memiriskan jiwa, dalam deklarasi itu dihadiri juga oleh salah satu petinggi Kedutaan Palestina di Jakarta. Namun, pihak kedutaan Palestina mengklarifikasi bahwa ia diundang Din untuk merayakan hari kemerdekaan Republik Indonesia, bukan merayakan deklarasi politik.

Ketika kedutaan Palestina tahu ternyata isinya hanya deklarasi halusinasi, mereka menyatakan keberatan atas tindakan tersebut.

Kisanak yang budiman, Palestina ternyata bukan hanya sering kena prank oleh Israel. Kali ini Palestina ternyata juga kena Prank Din Syamsuddin.

Soal prank-prankan kayak gini, kita tidak tahu, apakah Din Syamsuddin belajar dari Youtuber di Bandung kemarin, yang berhasil ngeprank banci dengan bantuan yang pura-pura. Bantuannya berisi sampah belaka.

Kisanak, dalam konteks Indonesia, deklarasi KAMI mungkin hanya soal prank. Mereka bermaksud membuat konten yang bisa mengecoh publik di tengah kondisi pendemi seperti ini.

Mereka ngeprank mau menyelamatkan Indonesia. Ternyata Kisanak, isinya cuma gerundelan barisan sakit hati yang gak dapat posisi. Singkatnya, mereka teriak mau selamatkan Indonesia, tapi ujungnya cuma mau selamatkan jabatannya belaka saja.

Nama Din Syamsuddin sendiri pernah diisukan akan diangkat sebagai Wapres mendampingi Presiden Jokowi. Ternyata hal itu hanya hoax belaka. Padahal Din sudah menyatakan kesiapannya untuk menjadi Wapres. Salah satunya, dengan melakukan perapihan sisiran rambutnya.

Berbeda dengan Rocky Gerung yang membebaskan saja rambutnya tanpa perlu disisir. Atau Ichsanuddin Noorsi, salah satu tokoh KAMI juga, yang sepertinya jarang menggunakan sisir untuk rambutnya.

Kisanak yang budiman, sampai saat ini kami tidak bisa mengonfirmasi, apakah para tokoh itu merapihkan rambutnya dengan menggunakan sisir atau menggunakan serit.

Kisanak, deklarasi prank ini sebetulnya hanya membuat ribet di tengah suasana pendemi yang ada dalam masyarakat. Mereka-mereka tahu, pendemi ini membuat seluruh dunia terkena krisis. Baik krisis ekonomi maupun krisis politik.

Di saat krisis seperti itu, bukannya membuat suasana lebih kondusif, mereka malah menciptakan gonjang-ganjing. Dapat diduga, mereka berharap bisa membuat krisis yang lebih besar lagi dan pada akhirnya menjadi krisis politik untuk memakzulkan Presiden Jokowi.

Jika diamati, perilaku seperti ini mirip burung bangkai yang senang melihat mangsanya sekarat.

Dalam peribahasa kuno, perilaku seperti ini dikenal dengan istilah najong tralala.

Kisanak, sebagai informasi, sebelum melakukan deklarasi, mereka membuat semacam gladi resik di halaman kantor MUI. Namun sayangnya Kisanak, sampai saat ini kita tidak pernah mendengar apakah kegiatan tersebut sudah mendapat sertifikasi halal dari MUI.

Kisanak, dalam sebuah poster yang berisi foto Said Didu, tertuliskan sebuah kalimat dengan jelas, tulisannya adalah:

Tidak ada titik kembali

Tidak ada titik menyerah

Ternyata kisanak, yang ada pada acara deklarasi KAMI adalah Titik Soeharto.

Kita akhiri berita ini dengan mengutip sebuah pepatah, “Karena susu Nila sebelanga, maka rusaklah titik-titik…”

Demikian berita ini kami sampaikan.

Anda sedang berada di channel paling update seangkasa raya.

Lemesin aja Din…

Terima kasih.

 

Komentar