SURVEI YANG BIKIN PEMBENCI JOKOWI TERNGANGA | Logika Ade Armando

Para pendukung Jokowi, dan juga para pembenci Jokowi, harus tahu data ini.
Dari berbagai survei yang dilakukan SMRC (Saiful Mujani Research and Consulting) selama Juli 2020, terungkap sejumlah hal menarik tentang pendapat rakyat Indonesia.
Sekitar 87% warga menyatakan kondisi ekonomi nasional sekarang lebih buruk dibandingkan tahun lalu.

Tercatat sekitar 29 juta warga terkena PHK atau setidaknya dirumahkan.
Dan sekitar 80% warga percaya Indonesia di ambang krisis dan resesi.
Sedih tentunya.

Tapi yang menarik, kepercayaan warga terhadap Presiden tidaklah luntur, kalau bukannya menaik. Survei SMRC di akhir Juli menunjukkan 79% warga percaya Presiden mampu membawa Indonesia keluar dari krisis.

Hanya 20% yang menyatakan tidak percaya pada kemampuan Presiden.
Sementara di awal Juli, hanya 72% yang menyatakan hal yang sama.
Artinya ada peningkatan kepercayaan terhadap kemampuan Presiden membawa Indonesia keluar dari krisis.

SMRC juga melakukan survei tentang seberapa percaya rakyat saat ini terhadap Presiden dibandingkan kepada lembaga-lembaga lain.

Survei 22-24 Juli menunjukkan 81% warga percaya pada Presiden. Ini di atas kepercayaan pada KPK yang hanya 70%. Atau polisi yang cuma 69%. Atau DPR yang hanya 50%. Dan partai politik yang hanya 45%.

Ini data penting. Membahagiakan buat Jokowi dan para pendukungnya. Tapi tentu saja menyebalkan buat para penentang Jokowi.

Respons khas Jokowi haters adalah tidak percaya. Mereka dengan begitu saja menuduh SMRC bohong. Atau menuduh SMRC membuat penelitian pesanan yang hasilnya cuma bertujuan menyenangkan hati Jokowi.

Dan itu reaksi yang wajar dari para pembenci Jokowi. Mereka kan selama ini sudah mati-matian menyebarkan kebencian.

Mereka membuat kampanye yang menjelek-jelekkan Jokowi. Mereka bilang Jokowi gagal memimpin Indonesia. Mereka bilang Jokowi menjadikan Indonesia terjerat utang. Mereka bilang Jokowi pembohong. Mereka bilang Jokowi otoriter, menyuburkan oligarki, nepotisme. Mereka bilang ekonomi di bawah Jokowi bangkrut. Mereka bilang Jokowi kacung Cina, komunis, antek asing-aseng. Mereka bilang Jokowi cuma bisa planga-plongo.

Kalimat-kalimat Jokowi diplintir. Mereka buat berbagai meme yang memburukkan wajah Jokowi. Mereka mambuat Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia. Mereka bikin unjuk rasa meminta Jokowi turun. Mereka bilang krisis Covid-19 salah Jokowi. Mereka bilang resesi ekonomi salah Jokowi. Mereka lakukan itu terus menerus, secara intensif.

Tiada hari tanpa ujaran kebencian, fitnah, dan penghinaan terhadap Jokowi. Jadi kalau sesudah itu semua dilakukan. Puluhan miliar sudah dikucurkan. Mereka sudah all-out.

Dan kini tiba-tiba Survei SMRC menyatakan rakyat percaya pada Jokowi. Tentu saja mereka marah, panik, dan kalap.

Kalau dulu masih ada Prabowo, saya yakin puluhan handphone sudah jadi korban untuk dilempar ke kepala para pegiat kampanye anti-Jokowi. Mereka gagal.

Bahkan kalau dilihat data survei tersebut, bahkan mereka yang dulu berada di kubu seberang Jokowi dalam Pilpres 2014 dan 2019, juga menyatakan percaya pada Presiden Jokowi.

Dulu masyarakat terbelah. Kini masyarakat memiliki kepercayaan yang relatif sama.
Baik pemilih maupun yang tidak memilih Jokowi pada Pilpres menyatakan mereka percaya Jokowi mampu membawa Indonesia keluar dari krisis.

Tentu saja pendapat masyarakat ini bisa salah.

Artinya, pendapat masyarakat bukanlah fakta empirik yang menunjukkan Jokowi memang mampu membawa Indonesia keluar dari krisis. Kalau bicara pendapat, ini adalah soal penilaian subjektif berdasarkan apa yang dilihat masyarakat.
T

api yang penting, masyarakat percaya bahwa Jokowi memang memiliki kemampuan.
Masyarakat percaya dan berharap Jokowi dapat memimpin Indonesia meninggalkan krisis.
Ada trust and hope.

Dan ini adalah modal besar bagi seorang pemimpin yang sedang menghadapi krisis yang berlapis-lapis.

Bayangkan kalau segenap kampanye benci Jokowi itu berhasil mencapai hasil. Masyarakat akan marah, melakukan aksi kekerasan, menolak kebijakan pemerintah. Dan itu bukannya sesuatu yang tidak diramalkan oleh banyak pihak di awal krisis Covid-19.

Saya ingat sekali ada banyak analis yang meramalkan akan ada malapetaka, chaos, kerusuhan di Indonesia akibat kegagalan pemerintah menangani Covid-19. Kalau Anda baca saja analisis di bulan-bulan Maret, banyak tulisan di media asing – yang sebagian dikutip oleh media dan kelompok-kelompok di Indonesia – yang meramalkan Indonesia di ambang kehancuran.

Jokowi dianggap tidak punya kemampuan yang cukup untuk menghadapi krisis berskala raksasa. Kini segenap skenario kiamat itu tidak terbukti.

Seperti yang saya katakan di awal, rakyat Indonesia mengakui kondisi ekonomi sulit dan memburuk, tapi mereka tetap percaya pada pemerintahnya, pada Presidennya. Rakyat Indonesia nampaknya tetap menggunakan akal sehat dalam menilai keadaan.

Barangkali ada atau ada beberapalah langkah Jokowi yang salah. Tapi kan seluruh negara juga begitu. Tidak ada model tunggal melawan Covid-19 yang paling ampuh. Dan petakanya bukan cuma kesehatan, tapi juga ekonomi sekaligus.

Semua negara terpaksa melakukan eksprimennya masing-masing. Tapi rakyat Indonesia rupanya menilai Jokowi melakukan kewajibannya secara sungguh-sungguh. Rakyat menilai, Jokowi memikirkan rakyatnya.

Ini adalah kepercayaan yang jangan sampai disia-siakan. Krisis belum akan selesai. Prosesnya mungkin sekali masih akan berlangsung lama.

Namun bila bangsa Indonesia bersatu di bawah Presiden yang mudah-mudahan melakukan hal terbaik untuk bangsanya, kita akan mampu melewati krisis ini dengan selamat.

Terus gunakan akal sehat. Karena hanya dengan akal sehat, negara ini akan selamat.

Komentar